Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
39. Mari kita bermain!


__ADS_3

Khadijah diam sejenak, ingin melanjutkan pencariannya tetapi rasanya tak ingin ada yang tahu. Namun Bang Kus adalah orang yang paling tahu tentang Adelia.


"Maaf ya, Jah! Bukan maksud Abang ikut campur. Tapi menurut Abang, kamu harus hati-hati sama Adelia. Dia itu licik, bukan cuma kamu korbannya. Udah banyak istri orang datangin Abang sebelum kamu datang."


"Adelia memangnya kenapa, Bang? Bukannya duitnya banyak?" Khadijah menghela napasnya, "Sebenarnya ini masih dugaan Dijah aja, Bang. Kalaupun mereka memang ada hubungan, Bang Malik nggak mungkin ngasih ini itu ke Adelia, duit Bang Malik itu dikit karena keuangannya Dijah yang atur. Zaman sekarang mana ada cewek yang mau di kencani kalau bukan karena harta."


"Betul! Apa yang kamu bilang itu betul, Jah. Tapi Adelia itu licik, dia main cantik."


"Main cantik?"


"Maaf sebelumnya, Apa kalian punya rumah, tanah, ladang atau apa gitu selain mobil?"


Khadijah mengangguk, "Kami ada rumah di kota tapi masih nyicil, ladang sama tanah juga ada tapi 'kan Dijah yang ngatur semuanya. Bang Malik mah mana mau tahu soal itu, Bang."

__ADS_1


"Nah, itu dia! Adelia ngejar harta kalian. Awalnya memang dia yang biayai semua keperluan Malik, tapi kamu nggak tahu 'kan apa yang di rencanakan nya? Bisa aja dia ngejar harta kalian yang lain saat Malik masuk ke jebakannya."


"Astaghfirullah," gumam Khadijah.


"Saran Abang, kamu jangan mau kalah. Itu harta yang kalian bangun sendiri. Jangan mau di rebutnya. Maaf kalau Abang ngomong blak-blakan, sudah banyak korbannya, Jah. Kamu tahu nggak satpam di afdeling 1 yang namanya Ardi?"


Khadijah menggelengkan kepalanya, karena ia memang tidak begitu banyak mengenal orang yang bekerja di sana. Kenal dengan Bang Kus saja saat beliau memiliki bon di warung Wak Santi.


"Dia sampai cerai dengan istrinya demi Adelia, setelah habis hartanya di kuras sama Adelia laki-laki itu di Campakkan gitu aja. Kalau kamu kenal sama dia, kamu pasti kasihan karena lihat dia kaya orang linglung gitu, Jah."


"Sama-sama! Kamu jangan mau kalah dengan si Adelia, wanita licik itu harus kalah sekali-kali."


Khadijah menganggukkan kepalanya, ia tak menyangka jika Adelia bisa berubah seperti itu. Khadijah jadi berpikir, apa uang dapat merubah segalanya?

__ADS_1


Khadijah kembali ke rumah dengan perasaan lesu, ia mencari bukti lainnya di kamar. Akhirnya Khadijah memilih untuk memeriksa baju Malik yang baru di pakai kemarin, karena laki-laki itu baru pulang dari kota.


Khadijah mencium baju tersebut, terdapat aroma lain selain parfum yang mereka punya. Khadijah mulai meneteskan air matanya, untuk kesekian kalinya Malik kembali menyakiti hatinya.


Tangisan itu semakin deras saat melihat bekas lipstik di sana, bahkan dirinya tidak punya lipstik warna seperti itu.


"Ya Allah, apa salah hamba? Dimana kurangnya hamba?" Khadijah menangis terisak-isak. Rasanya beban di hatinya sudah lelah menanggung semuanya. Namum ia tidak ingin gelagapan dalam menyimpulkan segalanya. "Jadi kamu mau main cantik ya, Adelia? Mari kita bermain!" gumam Khadijah menghapus air matanya.


Sudah pukul 11 siang, Sebentar lagi suami dan anaknya pulang ke rumah. Khadijah belum sempat memasak karena hatinya sedang tak karuan. Ia hanya termenung di teras rumahnya.


Wak Santi kebetulan lewat di depan rumah, ia ingin menghidupkan air karena di perusahaan ini air masih terbatas dan hanya ada satu tempat untuk menghidupkan nya.


"Dijah!" Teriak Wak Santi.

__ADS_1


Khadijah tersentak sambil menghapus air matanya, Wak Santi semakin mendekati Khadijah. "Kenapa melamun?"


__ADS_2