
"Ya! Dia kakak sepupu saya. Bagaimana keadaannya, Sus?"
"Pasien sempat mengalami drop, namun sekarang kondisinya sudah stabil."
Adelia mengepalkan tangannya, batinnya sedikit mengumpat Khadijah yang terbaring di sana. "Apa saya boleh menjenguknya?"
"Silakan! Tapi jangan lama-lama ya, karena pasien harus banyak istirahat."
Adelia masuk ke dalam dan memakai setelan baju yang di khususkan untuk tamu di ruangan ICU. Adelia berjalan ke ranjang Khadijah, ia pura-pura menangis di hadapan Khadijah sampai perawat tersebut pergi.
Adelia menghapus air matanya, ia duduk di kursi tepatnya disamping ranjang Khadijah. "Malang sekali nasibmu sekarang, Kak Dijah! kenapa hanya wajahmu saja yang terbakar?"
Ia lebih mendekati Khadijah, "Kenapa nggak mati aja? Kau tahu, Kak ... Kau sangat jelek sekarang. Wajahmu normal saja Bang Malik selingkuh, apalagi saat seperti ini? Saranku sebaiknya kau mati saja. Tenanglah, akan ku jaga Bang Malik sepenuh jiwaku."
"Apa kau butuh bantuan, Kak? Apa kau ingin aku membantumu melepaskan selang-selang ini? Aku akan senang hati membantumu." Adelia sengaja mengatakan itu agar Khadijah mendengar di bawah alam sadarnya.
__ADS_1
Adelia benar-benar ingin memanfaatkan moment tersebut untuk membunuh Khadijah. Entah dimana keluarga Khadijah saat ini, yang jelas Adelia seperti mendapatkan kesempatan emas yang akan memakan waktu lama.
Ia melirik kanan-kiri, merasa aman ia mematikan selang infus yang tertancap di tangan Khadijah. Bukan hanya itu, beberapa alat juga ia lepas dan matikan. Setelah selesai dengan misinya, ia langsung pergi keluar.
Satu jam kemudian, para keluarga sudah berkumpul kembali di tempat tersebut. Mereka menunggu kabar baik dari Khadijah. Tiba-tiba mereka melihat beberapa suster berlari ke ranjang Khadijah, tentu saja membuat semuanya menjadi panik.
"Khadijah ku ..." teriak Bu Maimunah sebelum ia tak sadarkan diri.
Bu Maimunah pun di rujuk ke UGD untuk di tangani. Hanum menemani adik dan keponakannya. Riska terus menangis tanpa henti. "Kamu lihat anak kamu, Lik. Entah kamu menyadari atau tidak, tapi yang pasti nasi sudah menjadi bubur. Kita tak tahu seberapa besar kekecewaannya denganmu. Entah dia masih memaafkan ayahnya atau tidak tapi kamu harus berusaha menghentikan tangisannya!" tegas Hanum.
Malik mengangguk, ia mendekati putrinya. Malik tak kuasa melihat sang anak menangis histeris, ia juga sama seperti mereka yang mengkhawatirkan istrinya. Bebannya semakin bertambah saat melihat putrinya menangis.
"Riska ..."
Riska menutup telinganya, "Riska bilang jangan sentuh Riska! Jangan panggil Riska! Jangan dekatin Riska! Jika terjadi sesuatu dengan Mamak, Ayah jangan ganggu hidup Riska lagi!" Riska berteriak histeris agar sang ayah pergi dari hadapannya.
__ADS_1
Cukup mengejutkan saat melihat anak kecil meneriaki ayahnya. Malik semakin merasa tertampar saat ini. Jika boleh, ia ingin menggantikan posisi Khadijah yang terbaring lemah disana.
Tiba-tiba dokter keluar ruangan. Jantung Malik semakin tak karuan. Para keluarga pun mendekati ruangan. "Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanya Hanum, sedangkan Malik mulutnya beku, tak kuasa mengucapkan kata-kata.
Dokter tersebut menghela napasnya, "Mohon maaf! Pasien sudah meninggal dunia."
"Apa? Bagaimana bisa? Tadi masih baik-baik saja, dok!" Lirih Malik.
"Seseorang telah mencabut seluruh alat di tubuhnya, entah siapa itu, Petugas masih mencari orangnya. Maafkan kami atas kelalaian ini!" Ucap perawat tersebut.
Semua menangis histeris, berbeda dengan Malik. Wajahnya menjadi marah saat ini. 'Pasti dia!' Gumam Malik.
Malik hendak meninggalkan ruangan tetapi Hanum menahannya, "Mau kemana kamu?"
"Sebentar, Kak."
__ADS_1
"Tidak! Kamu ini tega nian, situasi seperti ini masih mikirin yang lain. Ya Allah, Lik ..."
Riska mendekati ayahnya, "Riska kecewa sama Ayah!" ucap Riska terbata-bata sambil menangis.