Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
45. SAH


__ADS_3

Setelah kepulangan orangtuanya Malik, Abdullah (Dullah) -- adiknya Khadijah baru saja pulang bersama Riska, mereka membawa banyak jajanan yang mereka beli di pasar. Riska sangat senang karena para pedagang sangat menghormati Abdullah sebagai camat di sana.


"Mak!" Teriak Riska sambil berlari ke arah Ibunya.


Khadijah menyambut putrinya, "Sayang! Bilang apa sama Paman Dullah?"


"Riska sudah bilang makasih, Mak. Iya 'kan, Paman?"


Abdullah mengangguk, "Riska ini pintar loh, Kak. Dia nawar tadi waktu beli buah pir."


"Anak perempuan harus gitu," jawab Khadijah sambil terkekeh. Ia mendekati putrinya kemudian mengelus punggung Riska, "Sayang, kamu mau nggak sekolah di sini saja?"


"Kenapa sekolah di sini, Mak? Kita 'kan cuma liburan, gimana dengan sekolah Riska di sana? Gimana dengan Ayah?"


Ayah, katanya. Sebutan itu mengingatkan Khadijah pada laki-laki yang sudah bersamanya selama sepuluh tahun. Setelah Abdullah memegang lengan Khadijah, wanita itu langsung sadar dari lamunannya.


"Kalau sekolah, kita bisa pindah, Sayang. Mamak udah urus suratnya. Kalau ayah, nanti dia bakal sering-sering kesini untuk lihat kamu kalau ada waktu. Okay?"


"Bukan karena Mamak lagi ada masalah dengan ayah, 'kan?"

__ADS_1


"Apa kamu pernah lihat Mamak dan ayah bertengkar? tanya Khadijah, Riska menggelengkan kepalanya. Khadijah tersenyum sambil memeluk putrinya, "Jangan khawatir, semua baik-baik saja."


***


Jika Khadijah sedang berusaha menerima takdirnya, berbeda dengan Malik yang saat ini berada di kota. Hanya bermodalkan satu juta ia berani meminang Adelia di hadapan orang tuanya. Pesta mewah juga terlaksana, bukan Malik yang membayarnya tetapi Adelia 'lah yang mengurusnya.


Pernikahan di sebuah gedung yang mewah membuat Malik sedikit teringat dengan istrinya, dulu pernikahan mereka juga termasuk mewah di desa. Hanya saja pernikahan tersebut tanpa ada ikatan cinta, berbeda dengan sekarang walaupun adanya cinta tetapi terjadi karena sebuah keterpaksaan.


"Sah!"


Para saksi bersorak, tamu yang di hadirkan juga terbatas. Hanya tetangganya Adelia dan saudara-saudara Adelia. Tak ada satupun keluarga Malik yang datang.


Tamu undangan berangsur pulang, kini hanya ada keluarga inti saja. Jam juga sudah menunjukkan pukul lima sore, acara sudah usai.


"Sayang, kita pulang nggak bareng Bu'e, kita ke hotel dulu."


"Apa?"


Ibunya Adelia tersenyum, "Kenapa kamu terkejut begitu, Malik? Bukannya ini ide kamu?"

__ADS_1


"Hah?"


Malik semakin tercengang, sejak kapan ia mengatakan itu, pikirnya.


"Adel ---" Malik menatap Adelia dengan bingung.


"Ah, mungkin Bang Malik lupa," kata Adelia menengahi pembicaraan nya.


Adelia benar-benar membuat Malik menjadi semakin risau, menikahinya dengan modal satu juta namun memakai pesta yang mewah saja sudah membuatnya berutang Budi, apalagi sekarang?


Hotel yang sama seperti saat mereka pertama kali berjumpa, di situlah Adelia memesan kamar lagi. Terlintas di pikiran Malik kepada anak dan istrinya. Di tempat ini ia mengecewakan keduanya, di tempat ini pula ia menikahi wanita itu. Rasa bersalah Malik pada Khadijah semakin pesat, air matanya pun jadi menetes saat ini.


"Abang kenapa? Ini malam pertama kita, kenapa Abang nangis?"


Malik terlihat salah tingkah, ia menghapus air matanya. "Abang teringat dengan Riska, Del."


"Kapan-kapan kita bawa Riska ke sini, pasti senang."


Adelia melucuti pakaian Malik satu persatu, sudah pasti dia ingin menikmatinya lagi. Perempuan itu tidak tahu isi hati Malik saat ini, namun ketika dapat serangan dari Adelia tiba-tiba Malik menjadi lupa dengan anak bininya lagi. Berkali-kali mereka melakukan itu tanpa merasa lelah, apalagi kali ini sudah menjadi sah membuat Malik semakin bersemangat.

__ADS_1


"Kamu nggak akan Abang kasih ampun malam ini, Adelia!"


"Adel milik Abang," sahut Adelia sambil merasakan kenikmatan tersebut.


__ADS_2