Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
71. Rumah duka


__ADS_3

"Jadi dia meninggal? Yes!" sorak gembira seorang wanita berhati busuk tersebut dari tempat persembunyiannya.


Ya! Adelia masih berada di sekitar sana, ia sudah mengganti pakaiannya. Dia juga sudah memakai masker agar tidak ada yang mengenalinya. Sungguh licik wanita ini, bahkan ia sangat totalitas dalam mengerjakan sesuatu.


Sementara di tempat lain, semua sedang berduka. Wanita malang itu telah menjadi korban akibat dosa yang dilakukan oleh Malik. Sebenarnya bukan Malik yang bersalah dalam hal ini. Akan tetapi dirinya 'lah yang menjadi sumber permasalahan.


Rumah suka juga sedang di siapkan oleh ibu-ibu komplek. Tak satupun di antara mereka yang tidak berpartisipasi. Mereka turut menyiapkan kedatangan jenazah yang mereka sayangi.


kepergian Khadijah begitu cepat, bahkan tak ada yang menyangka hal itu akan terjadi. Khadijah orang baik, mereka 'lah saksi hidupnya.


Kini jenazah telah berada di perjalanan menuju rumahnya, Bu Maimunah dan Pak Rojali berada di ambulance yang berbeda karena Bu Maimunah memakai infus, kondisinya juga sangat lemah.

__ADS_1


Riska saat ini berada di depan jenazah ibunya. Ia terus memeluk Khadijah sambil menangis. "Bangun, Mak! Jangan tinggalin Riska. Riska sama siapa kalau Mamak pergi? Bangun, Mak!" Riska terus mengajak ibunya berbicara, berharap sang ibu mendengarkannya lalu membuka mata demi dirinya.


Malik yang juga berada di ambulance yang sama, ia tidak tega melihat putrinya. "Sini sama Ayah, Nak!"


"Awas! Jangan sentuh Riska!" tolak Riska langsung.


Untuk sementara waktu, ini adalah kali terakhirnya mengajak sang putri berbicara. Menjaga jarak mungkin adalah keputusan yang tepat untuk memulihkan hati sang buah hati, ia tahu kesalahannya sangat fatal. Besarnya sakit hati keluarga kecil itu padanya memang tidak bisa di maafkan.


Satu jam kemudian mereka sampai di rumah, semua menyambut Khadijah dengan tangisan seolah tak percaya ini akan terjadi, Khadijah akan meninggalkan mereka untuk selamanya.


Kini Khadijah akan di bawa ke tempat peristirahatan terakhirnya, Malik menopang keranda istri tercinta. Air mata bercucuran disana. Sebenarnya ia sudah sangat lemas, tetapi ia harus tetap kuat demi istri tercinta. 'Dijah, maafkan Abang ...' batin Malik.

__ADS_1


Semua rukun Fardu kifayah telah dilaksanakan dengan sempurna. Para pelayat juga sudah kembali ke rumah duka. Beberapa di antaranya ada yang langsung pulang ke rumah masing-masing.


Sementara Malik saat ini duduk di depan batu nisan, meratapi wanita yang sudah hampir dua puluh tahun mendampingi dirinya.


"Jah! Maafkan Abang ... Abang tahu kesalahan Abang nggak akan bisa di maafkan. Demi Allah, Abang nggak maksud menyakitimu." Malik mengelus batu nisan Khadijah, ia pun menceritakan kejadian dimana saat Adelia menjebaknya.


"Kenapa kamu pergi meninggalkan kami, Jah? Riska marah nian dengan Abang, dia nggak mau bicara dengan Abang. Abang harus apa, Jah? Gimana cara bujuknya?"


"Abang sungguh belum siap, Jah! Masih banyak hal yang harus Abang lakukan untuk keluarga kecil kita. Abang ingin kamu tahu, Abang sudah berubah, Jah."


Malik terus mengelus batu nisan tersebut, sesekali ia memeluk batu nisannya. Bahkan ia sampai tertidur di tanah yang masih basah tersebut.

__ADS_1


Lebatnya air hujan secara dadakan dapat membangunkan Malik saat ini. Kini tubuhnya menjadi basah kuyup, ia pulang dengan lemasnya. Begitu sampai di depan pintu, ia terjatuh ke lantai membuat semua orang menjadi panik kecuali Riska.


Padahal di depannya sang ayah terjatuh, namun ia memilih pergi ke kamar tanpa memerdulikan ayahnya. Sementara Malik langsung di angkat bapak-bapak lainnya ke kamarnya. Ya, beginilah kehidupannya. Nasi sudah berubah menjadi bubur. Jika sudah tak ada, bagaimana cara kita memperbaikinya?


__ADS_2