Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
27. Bunuh Diri


__ADS_3

"Abang cemburu kalau kamu di dekatin laki-laki lain," bisik Malik.


Khadijah diam seribu bahasa, menahan rasa malu dan bahagianya. Walaupun begitu, pipinya tak bisa di bohongi, terlihat sekali berwarna merah di sana.


Setelah pengunjung sudah sepi, barulah Malik berangkat kerja. Khadijah masih saja terus tersenyum sendiri hingga ia tidak tahu jika di depannya sudah ada pengunjung yang lain.


Ekhm!


Khadijah tersentak, "Astaga, ngagetin saja kamu, Din."


"Kaya anak muda yang lagi kasmaran saja nih, aku saja yang lagi kasmaran nggak gitu-gitu amat."


"Eh, iya. Gimana hubungan kamu sama Sahrul?"


Dini terdiam sejenak, lalu ia menggelengkan kepala. "Beginilah, Kak. Kami belum dapat restu kakaknya."


"Sabar ya, Din. Kamu tahu 'kan istilah jodoh pasti nggak kemana?"


"Aku capek kerja, Kak. Pengen nya nikah aja, ngurus suami tapi suaminya harus Mas Sahrul." Katanya sambil terkekeh, "Cuma Mas Sahrul yang ngerti perasaanku, Kak."


Ya, Dini bekerja sebagai asisten rumah tangga di dalam komplek tersebut. Usianya masih muda, namun karena putus sekolah membuatnya harus bekerja sebelum usianya. Padahal, ia hanya menjadi perawat untuk anaknya Pak Joko, lelaki yang menjabat sebagai mandor 1 di afdeling 5.


"Memangnya Nak Syifa bandel? Enggak 'kan?"


"Enggak sih, tapi 'kan aku juga pengen nikah."

__ADS_1


"Yowes, mau pesan apa? Makan dulu, sedihnya belakangan biar makannya habis."


Dini malah terkekeh, "Aku kebawa suasana kayanya tadi. Ya sudah, mau lontongnya tapi sambalnya di banyakin ya."


"Pengen cepat-cepat mati, Din?"


"Iya, dari pada nggak nikah."


"Jangan gitu, kamu masih muda. Dunia masih membutuhkanmu."


"Bercanda, Kak. Siang nanti ikut yasinan 'kan, Kak?"


"Ikut, di Mushola 'kan?"


"Kok nggak makan di rumah saja? Bu Mawar pasti ngasih kok."


"Nggak enak, Kak. Setiap hari makan di sana, lain gaji. Malah gajinya gede lagi!"


Khadijah tidak menanggapi lagi, ia menyajikan pesanan milik Dini. Sebenarnya Dini adalah anak yang cantik dan baik, Khadijah sempat ingin menjodohkan Dini dengan Dullah, adik kandungnya.


***


Siang harinya ibu-ibu di kompleks tersebut melakukan wirid Yasin seperti biasa. Namun, bedanya kali ini di lakukan di mushala karena sang pemilik rumah yang meminta. Khadijah mendapat tugas membaca Surat Yasin, karena suaranya begitu indah.


Saat setelah pembacaan doa tiba-tiba anak kecil berlari ke arah musholla sambil menangis. Seluruh ibu-ibu pun terlihat panik, termasuk Bu Jamilah --- istri dari Pak Joko.

__ADS_1


"Loh, Syifa Sayang ... Ada apa, Nak? Mana Mbak Dini?"


"Hiks ... Mama ... Mbak Dini ...." Syifa nangis terisak dan tak sanggup meneruskan kalimatnya, keringat dingin bercucuran, ia sangat ketakutan.


"Bu, di gendong saja Syifanya ..." Saran Lisa.


Bu Jamilah mengangguk, ia menggendong putrinya. "Dimana Mbak Dini?"


"Di rumah, mulutnya berbusa ..."


"Apa!"


Semua orang langsung berlari menuju rumah Bu Jamilah, dari depan rumah tersebut tak tampak apa-apa. Saat menulusuri ke belakang, ternyata Dini sudah tergeletak di lantai dengan mulut berbusa. Di sekitarnya juga ada racun nyamuk yang mungkin ia minum sendiri.


"Astaghfirullah," gumam semuanya.


Salah satu dari mereka memanggil seseorang agar di bawa ke klinik, saat di klinik Dini masih bernapas. Namun, saat di perjalanan menuju rumah sakit karena persediaan alat kurang memadai, Dini menghembuskan napas terakhirnya.


Syahrul, merupakan kekasih Dini pun turut menemani. Ia menangis melihat sang kekasih mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat tragis seperti ini. Di dalam ambulance juga ada Khadijah beserta Lisa di sana yang ikut membantu. Khadijah masih tak habis pikir, karena baru baru saja ia bertemu dengan Dini pagi tadi.


"Sebenarnya ada masalah apa kalian?" tanya Khadijah. "Maaf nian, bukan maksud Mbak ikut campur. Tapi baru tadi pagi Mbak ngobrol dengan Dini. Dia terlihat banyak masalah dengan kamu, Rul."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


__ADS_2