Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
22. 17-an


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 12 siang, Malik pulang ke rumah dengan perasaan lesu. Sementara di rumah Khadijah sudah memasak yang banyak untuk suaminya.


"Bang, makan dulu."


"Abang mau tidur, nanti kamu bangunin kalau sudah jam 2 ya, Jah!"


"Abang nggak makan siang?"


"Abang capek, Jah."


"Dijah masak sambal terasi kesukaan Abang."


"Kamu makan saja dulu sendiri, sudahlah jangan ngajak ngomong lagi, Abang sudah ngantuk."


Khadijah mengelus dadanya sambil beristighfar. Jika saja status Malik masih hanya menjadi sepupu nya mungkin ia bisa beradu mulut dengannya tetapi sekarang lelaki itu sudah menjadi suaminya. Orang yang harus ia hormati seumur hidupnya.


"Ayah nggak makan, Mak?" Tanya Riska.


"Ayah mau tidur saja katanya, kita makan duluan yuk!"


"Mamak kenapa nangis?"

__ADS_1


"Mamak nggak nangis," dusta Khadijah.


"Riska saja yang suapi Mamak makan, Mamak mau pakai apa?"


"Semuanya, Sayang."


Khadijah masih bersyukur, karena di beri bidadari secantik Riska. Tak banyak harapan nya, ia ingin Riska sehat selalu dan di beri umur yang panjang karena hanya dialah anaknya yang masih ada di dunia.


***


Tujuh belas Agustus merupakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Tradisi di wilayah sini, mereka akan mengadakan segala jenis perlombaan, mulai dari cerdas cermat, lomba anak-anak, remaja dan dewasa, bahkan sampai ke orang tua pun juga ada perlombaannya.


Untuk perlombaan orang tua, mereka menamakannya joget balon. Para pasangan suami istri saling berjoget sambil mempertahankan balon yang berada di keningnya. Begitu musik berhenti, maka mereka harus memperagakan hal yang lucu. Jika bola terjatuh maka pasangan tersebut dinyatakan gugur.


Semua orang tertawa kecuali pasangan yang sedang bersaing, mereka tak bisa tertawa karena menahan balon yang tidak di perbolehkan mereka untuk jatuh.


"Alamak, kalah lagi kita 'kan! Kau pulak banyak kali gayanya Bapak Marcus," cerocos Martha panjang lebar.


"Alah, bising kali mamak-mamak satu ini. Cuma lomba nya ini, itupun untuk seru-seruan. Jangan baper kali kau! Ngarepin apa kau? Hadiahnya? Cuma dispenser nya yang paling tinggi. Besok ku belikan kau sepuluh, nyicil semua!"


Pletak!

__ADS_1


Martha menjitak kepala suaminya, "Nggak usah ngomong kau Bang kalau ujungnya nyicil. Buat malu aja kau!"


"Ngapain malu, bodoh! Udah jadi rahasia publik kita di sini nyicil, apalagi sama Wak Santi, ya 'kan Wak? Boleh kami nyicil dispenser banyak-banyak 'kan? Biar gembung perut mamak si Marcus."


Semua orang terkekeh mendengar perdebatan suami istri tersebut. Begitulah cara mereka dalam mewarnai kisah rumah tangganya. Baru saja mereka bertengkar, kini mereka sudah baikan lagi.


Musik kembali di mainkan, Malik berjoget sesuka hati, begitu juga dengan Yuda. Sedangkan Khadijah dan Lisa terlihat malu-malu sambil mempertahankan balon tersebut.


'Ayo! 'Ayo! 'Ayo!


Teriakan para penonton membuat kedua laki-laki tersebut semakin semangat untuk berjoget. "Jangan dekat kali, nyenggol Kelen nanti!" Teriak Martha.


Belum lagi ucapan Martha di terbangkan oleh angin, punggung Lisa dan Malik pun bersentuhan secara tidak sengaja membuat Lisa menjadi salah tingkah dan akhirnya balon tersebut jatuh.


"Nah, 'kan ... Baru aja ku bilang jangan dekat kali, sudah nempel!"


"Hust! Berisik banget kamu, Martha."


"Gondok aku, Wak," sahut Martha pada Wak Santi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sambil menunggu kelanjutannya, yuk kepoin punya teman Othor yukkk



__ADS_2