
Warning: Kisah ini merupakan kisah nyata dari seseorang yang author kenal. Hanya saja, ada beberapa kisah yang author percepat alurnya. So, have fun yaaa ...
...****************...
Mobil telah sampai di kawasan PT. Angin Ribut. Banyaknya pohon sawit sudah menjadi ciri khas tempat tersebut. Di tambah lagi dengan banyaknya jalan yang lika-liku, naik turun, juga buruknya jalan tanah tersebut akibat berlobang.
"Alhamdulillah, sampai!" Kata Paktua. Lelaki tua itu benar-benar merasa senang karena sudah sampai, mungkin terlalu lelah di jalanan. Berbeda dengan Khadijah yang merasa deg-degan saat masuk kesana.
Bang Imran dan istri pun menyambutnya dengan bahagia, mereka memeluk Khadijah penuh kerinduan yang terdalam.
"Apa kabar, Jah?" Kata Kak Imah, istri dari Bang Imran.
"Alhamdulillah, Kak."
"Ayo masuk!"
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Khadijah harus menyiapkan hati untuk bertemu dengan Malik.
Baru saja di sebut, motor Malik sudah masuk perkarangan Bang Imran. Ia sangat terkejut karena ternyata Khadijah dan Riska sudah berada di sana.
"Ngapain kamu disitu? Nggak kangen sama Riska?" tanya Bang Imran.
Malik masuk dengan langkah yang berat, antara malu dan merasa bersalah sudah menjadi satu.
__ADS_1
Ditatapnya lah anak tercinta yang sedang bermain tanpa melihatnya, "Riska!" Panggilnya.
Riska menoleh tanpa ekspresi, mungkin anak itu juga merasa kesal dengan ayahnya.
Malik mendekatinya, "Apa kabar, Nak?"
"Sehat, Yah!"
Malik mengelus kepalanya, kemudian ia beralih pada Paktua. "Assalamualaikum, Paktua. Apa kabar?"
"Waalaikumsalam, Malik. Alhamdulillah, baik. Kamu kok kaya nggak terurus gitu?" Sambil menatap Malik dari atas sampai bawah.
Memang benar, Malik seperti tidak terurus. Rambutnya menjadi panjang dan berantakan, kumis yang tidak di cukur dan juga ada jenggot yang berantakan. Belum lagi bajunya yang terlihat sangat kusut saat ini.
Malik seperti terkena tamparan saat ini, ia menggaruk kepalanya dan duduk di sana. Pikirannya kini hanya satu, dimana Khadijah?
Tak lama kemudian Khadijah keluar dengan Kak Imah membawa nasi beserta lauk pauknya agar di makan bersama-sama. Khadijah tidak sedikitpun melirik ke arah Malik, ia tidak ingin menangis saat ini.
Setelah makan bersama, Paktua menyuruh keduanya untuk mengobrol di rumahnya. Paktua Kodir mengantarkan mereka ke rumah mereka sendiri, setelah sampai ia menepuk punggung kedua ponakannya. "Kalian selesaikan baik-baik," titahnya.
Keduanya masuk ke dalam rumah, Khadijah melihat ke sekeliling rumah tersebut. Ia beristighfar dalam hatinya, bagaimana tidak? Rumahnya sangat berantakan tak terurus.
"Ini rumah apa gudang?"
__ADS_1
Malik menggaruk kepalanya, "Maaf, Jah! Abang nggak sempat bersih-bersih."
"Kalau rumah modelan begini, gampang sekali setan masuk, Bang. Abang ada sholat nggak? Sekali aja, ada?"
Malik menggelengkan kepalanya, "Abang nggak sempat, Jah!"
"Kita duduk disini aja!" Titah Khadijah di depan tv. "Sekarang, apa ada yang mau Abang bicarakan?"
"Jah! Jangan tinggalkan Abang," lirih Malik.
"Kenapa, Bang? Bukannya bagus ya impian Abang terkabul? Abang sudah berhasil dapatin Adelia, tapi maaf Dijah nggak mau dimadu."
"Sampai kapanpun Abang nggak akan ceraikan kamu. Abang khilaf, Jah! Abang benar-benar khilaf. Abang janji, setelah anaknya lahir Abang akan pisah dengan Adelia. Yang ada di hati Abang hanya kamu dan Riska."
"Ck! Omong kosong," kata Khadijah berdecak. "Sekarang Dijah tanya, Apa tadi Abang ada peluk Riska? Pasti enggak. Abang tuh sudah di butakan dengan setan. Abang mau nggak kalau Dijah Rukiyah?"
Malik menggelengkan kepalanya, "Nggak mau! Abang nggak kerasukan, Jah!"
"Tapi hati Abang sudah kotor, sama Riska aja Abang tega nian cuekin dia."
"Abang butuh kamu, Jah!"
"Butuh jadi babu?"
__ADS_1