
Malik duduk di ruang tv milik Hanum, tak lama kemudian Khadijah datang membawakan cemilan dan minuman untuk suaminya. "Ini, Mas!"
Malik tersentak kaget, karena ternyata dirinya sedang mengirim pesan pada Adelia. Dengan buru-buru ia langsung memasukkan kembali ponselnya.
"Kamu bikin Abang kaget saja," kata Malik.
"Memangnya pesan dari siapa? Kok kaget begitu?"
"Dari teman," sahut Malik.
"Teman?"
Malik menggaruk kepalanya, tak ada satupun teman Malik yang tidak di ketahui Khadijah.
"Teman yang mana?" Tanya Khadijah yang sudah bisa di tebak oleh Malik.
"Teman Abang yang baru, baru semalam kenalnya waktu meeting. Kamu ini kepo nian, cemburu ya?"
"Cemburu sih enggak, tapi Dijah ngerasa Abang lagi bohong. Cewek ya?"
"Iya! Eh, maksudnya ---"
"Hati-hati, Mas. Allah bisa murka!" Khadijah langsung pergi setelah mengatakan itu.
Hanum baru saja pulang dari pasar, ia membawa banyak sekali belanjaan yang akan ia masak bersama adik iparnya. Saat melihat Malik, ia langsung menghampiri adik bungsunya itu.
"Sudah pulang kamu?"
__ADS_1
"Sudah, Kak. Kakak belanja banyak nian, ada acara apa?"
"Kakak mau main masak-masakan dengan adik ipar Kakak. Sekalian nanti kalian bawa pulang juga. Jam berapa balik?"
"Bentar lagi, Kak."
"Sore! Awas kamu kalau ngajak pulang sekarang, Kakak sudah banyak belanja."
"Memangnya Kakak mau masak apa?"
"Kakak pengen di masakin lontong Medan. Istri kamu itu hebat, semuanya serba bisa. Beruntung kamu punya dia, jangan di sia-siakan wanita seperti itu, Lik."
Ucapan Hanum bagaikan tamparan untuk Malik, bahkan dia sudah menyia-nyiakan kepercayaan dari istrinya. Entah bagaimana nantinya saat Khadijah mengetahui jika dia sudah benar-benar mengkhianati nya.
Malik menyadari kesalahannya tetapi ia juga tidak bisa melupakan nikmatnya Adelia tadi malam. Jika hanya sekedar jalan saja mungkin Malik akan cepat melupakannya, tetapi kini sudah ada yang menembus di rahim Adelia.
Ting!
Baru saja ia menyesali perbuatannya, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Wajah Malik berubah menjadi bahagia layaknya ABG yang sedang jatuh cinta.
[Sudah sampai, Bang? Miss you!]
Malik tersenyum geli, apalagi saat wanita itu mengirim swafotonya yang hanya memakai pakaian seksi, matanya langsung melotot seperti mata keranjang di luar sana.
[Abang sudah sampai, maaf sudah membuat kamu khawatir. Miss you too, Del.]
[Tadi malam adalah moment yang paling Adel rindukan, rasanya ingin lagi dan lagi. Kapan kita jumpa lagi, Sayang?]
__ADS_1
[Abang juga rindu dengan yang tadi malam, Khadijah tak pernah memberi jatah sebanyak itu dalam satu malam. Tapi kamu memberikannya secara suka rela. Love you, Del. Dua Minggu lagi kita jumpa ya, Abang sudah nggak tahan.]
"Ayah sudah pulang?" suara centil nan menggemaskan mendekatinya membuat Malik gelagapan dan hampir saja menjatuhkan ponselnya.
"Sayang, anak ayah ..." Malik langsung memeluknya.
"Ayah dari mana saja? Mamak nggak tidur nungguin Ayah semalaman. Sebenarnya Riska juga ingin nungguin Ayah, tapi Riska ngantuk nian."
Malik terhenyak mendengarnya, apalagi saat melihat Khadijah saat ini membantu kakaknya memasak. Namun, lagi-lagi bayangan Adelia membuyarkan segalanya.
"Ayah kerja, Sayang. Tapi Riska mau beli mainan, iya 'kan?"
"Ayah mau beli in mainan? Mainan mobil yang bisa di jalanin itu ya, Yah?"
"Riska mau itu? Hm, okay. Tapi dua Minggu lagi kita kesini ya?"
"Kok kesini?"
"Di sana mana ada yang jual, Sayang. Ada pun pasti mahal. Lagian kalau ke kota 'kan Riska bisa sekalian jalan-jalan," terang Malik.
"Asyik!" Anak kecil nan polos itu melompat kegirangan. Ia tak tahu tujuan utama ayahnya apa, sementara Malik juga sorak bergembira. Setidaknya ada alasan untuk ke kota nantinya walaupun harus banyak menguras gaji yang tak seberapa itu.
'Akhirnya punya alasan baru,' batin Malik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1