Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
49. Ribut


__ADS_3

"Enggak, Sayang!" sambil memeluk Adelia.


"Bohong! Abang pasti mikirin Kak Dijah 'kan? Gimana surat cerainya? sudah jadi belum?"


"Sedang proses, Del. Kamu ini kenapa? Kamu jangan khawatir, Abang sekarang milikmu."


"Adel pengen jadi satu-satunya, nggak ada Kak Dijah di antara kita."


"Tapi diantara kami ada Riska, Del."


"Terus? Abang jangan lupa diantara kita juga ada ini!" sambil menunjuk perut yang belum terlalu besar itu. "Anak yang nggak berdosa ini juga butuh Abang!"


"Abang malas debat, Del."


Saat ini Adelia dan Malik tinggal di sebuah kontrakan kecil yang hanya memiliki dua kamar, besarnya sama seperti rumahnya di PT. Angin Ribut tersebut. Jarak antara rumah kontrakan ke tempat kerjaan memakan waktu 1 jam lebih karena tempatnya lumayan jauh.

__ADS_1


Itulah yang harus di lakukan Malik setiap harinya, siang hari dia harus kembali ke rumahnya bersama Khadijah untuk makan siang sekaligus membersihkan rumah tersebut agar tampak berpenghuni. Adelia ingin sekali tinggal di sana, namun karena belum adanya surat resmi perceraian Malik dan Khadijah, ia tak bisa tinggal di sana.


Cukup besar nyali Adelia untuk tinggal disana, padahal Adelia juga tahu jika keluarga Malik sangat banyak yang berada di kawasan rumah tersebut.


***


Pagi ini Khadijah dan Riska kembali ke rumah yang sudah lama ia tinggal, rumah yang tak ingin di huni lagi oleh Khadijah. Riska terlihat bahagia karena kembali ke rumahnya, bisa bertemu lagi dengan teman-temannya.


Di perjalanan Khadijah hanya diam, pikirannya kembali lagi pada Malik, laki-laki yang ingin ia lupakan tapi ternyata semesta tak mendukung. Apalagi ada Paktua Kodir yang ingin sekali pernikahan tersebut tetap utuh.


Khadijah menoleh, "Paktua ini gimana, ya sayanglah!"


"Rumah tangga punya banyak lika-likunya, ujian setiap insan memang berbeda-beda tapi kamu harus tahu satu hal, Tuhan takkan memberikan cobaan di luar dari kemampuan umatnya. Paktua yakin, kamu wanita yang ditakdirkan Tuhan dengan memiliki hati yang luas."


Paktua Kodir menghentikan ucapannya, lalu melirik sang cucu yang sudah tertidur. "Bicarakan nanti dengan Malik secara baik-baik dengan kepala yang dingin. Kamu harus ingat, setiap keputusan harus kita pertimbangkan dengan memikirkan anak. Kamu lihat Riska, anak kecil ini sangat cantik dan pintar. Kamu bisa bayangin kan gimana jadinya jika dia memiliki orang tua yang lengkap namun tak utuh. Kalau memang setelah membicarakan dengan Malik itu keputusan kamu masih sama, Paktua harap kamu sudah matang dengan keputusan kamu dan tahu langkah apa yang akan kamu ambil selanjutnya."

__ADS_1


"Iya, Paktua."


"Kamu masih sayang dengan Malik?"


Khadijah diam, pertanyaan itu membuatnya bingung untuk menjawabnya.


"Jawab aja, Jah!" ucap Paktua Kodir.


"Walau gimanapun Bang Malik ayah dari anak-anak Dijah. Dari lahir Dijah sudah kenal dengan Bang Malik, bahkan sudah sepuluh tahun kami nikah, Paktua! Bohong kalau Dijah bilang Dijah nggak sayang dengan Bang Malik."


"Kamu yang sabar, Jah! Laki-laki ada masa puber keduanya. Paktua yakin, setelah ini dia akan tobat!"


Khadijah tidak menyahuti lagi, tak mungkin ia katakan ini bukan kali pertamanya Malik melakukan itu padanya. Lagian jika di beri tahu pun, apa beliau akan mengerti?


Mobil yang di kendarai oleh mereka telah memasuki kawasan PT. Angin Ribut. Khadijah mulai meneteskan air matanya, 'Haruskah aku kembali?' batin Khadijah.

__ADS_1


__ADS_2