
Ini adalah hari pertama Riska bersekolah, ia memakai seragam merah putih seperti pada umumnya. Khadijah menatap putrinya, ia kasihan karena anak kecil tersebut harus menjadi korban atas retaknya rumah tangga tersebut.
"Mamak nangis?" tanya Khadijah.
"Enggak, Sayang. Gimana? Sudah siap?"
"Siap!" jawab Riska dengan semangatnya.
Khadijah tersenyum, "Kalau gitu ayo kita pamit dengan nenek dan kakek."
Setelah berpamitan, Khadijah mengendarai motor maticnya yang sengaja ia bawa kemarin. Sebenarnya bukan dia yang bawa, tapi keponakannya yang ikut mengantarkan dirinya ke kampung halaman dengan sengaja mengendarai motor agar Khadijah memiliki kendaraan selama di kampung.
Roda dua tersebut mengitari jalanan desa yang masih asri pemandangan nya. Riska cukup senang dengan keadaan di desa tersebut, orang-orang yang berada di sana juga pada ramah menyapa mereka.
Khadijah juga melewati toko yang pernah menjadi jerih payahnya dulu, ternyata sudah tutup karena sang ibu hanya ingin menikmati masa tuanya dengan senang. Padahal Khadijah ingin sekali menyapanya.
SD Negeri 3 Desa Sukawin, namanya. Disitulah Riska akan bersekolah. Mereka sudah sampai di sana, Khadijah menggenggam tangan putrinya untuk masuk ke dalam.
Tiba-tiba seseorang memanggilnya, "Khadijah! Dijah, 'kan?" ucapnya ragu-ragu dengan memastikan yang ia panggil.
Khadijah mengangguk, "Siapa ya?"
"Ih kamu mah sombong nian sama kawan dewek nggak kenal, aku --"
__ADS_1
"Tunggu! Kayanya aku kenal," kata Khadijah sambil memperhatikan wanita yang sedang memakai pakaian pengajar, sepertinya dia guru di sana.
Khadijah berpikir sejenak, "Dina! Iya, kamu Dina 'kan?"
"Weleh, jadi benar ini kamu, Jah? Akhirnya si kembang desa balik kampung, tapi kenapa wajah kamu kusam nian, Jah? Kamu nggak perawatan?"
Pertanyaan yang menyebalkan, pikir Khadijah. Wanita itu hanya bisa tersenyum, "Cuaca di sana nggak cocok dengan wajahku, Din. Kamu guru di sini?"
"Iya!"
"Ya ampun, aku nggak nyangka. Kamu 'kan dulu nyonteknya sama aku, kenapa bisa jadi guru?"
"Hust! jangan kuat-kuat, banyak murid di sini!" kesal Dina, lalu ia melihat putri yang di genggam Khadijah, "Ini anak kamu, Jah? Mau sekolah sini?"
"Siap! memangnya Bang Malik si playboy itu pindah kerja? Kenapa --- tunggu! Ada yang nggak beres ini, kamu harus cerita denganku. Mumpung masih ada waktu, ayo duduk di kantin."
"Dih, kepo nian kamu nih!"
"Dari dulu! Tapi 'kan cuma aku yang mau dengar keluh kesah mu, iya nggak ..."
Khadijah hanya menggelengkan kepalanya, "Kamu bawa anakku ke kelasnya dulu, nanti kita cerita!"
"Benar juga, aku 'kan ada kelasnya jam 10. Kamu tunggu aku di kantin ya, awas kalau nggak!"
__ADS_1
"Iya, bawel!"
Khadijah duduk di kantin menunggu kedatangan sahabatnya, ia tidak menyangka jika Dina sahabatnya di sekolah menjadi guru di sana.
Setengah jam kemudian, Dina kembali lagi. "Sekarang cerita sama aku! Eh tapi tunggu, kita pesan minum dulu, aku yang bayar!"
"Ciye banyak duit ..."
"Kamu tahu sendiri gaji guru gimana, Jah! Aku cuma lagi senang aja kedatangan besty aku."
Dina memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua, kemudian ia kembali lagi ke tempatnya. "Sebelum kamu cerita, aku mau nebak dulu. Kamu bertengkar ya dengan Bang Malik?"
Khadijah menggelengkan kepalanya, dia tidak menjawab bahkan justru ia melamun saat ini. "Kah! jawab ..."
Air mata pun menetes bersamaan dengan penjelasan Khadijah, semuanya ia ceritakan pada Dina, ia menangis tersedu-sedu.
"Astaghfirullah, Jah! Aku nggak nyangka. Kamu yang sabar ya, Kamu wanita yang kuat. Aku yakin Allah sedang menguji mu saat ini. Pelangi akan datang, Jah!"
"Aku capek, Din. Aku pengen cerai, tapi Bang Malik nggak mau ceraikan aku. Hatiku hancur, Din."
"Kamu harus tegas, Jah!"
"Dimana orang pintar di sini? Aku pengen buat diriku lupa dengan Bang Malik."
__ADS_1
"Kamu serius?"