
Kepergian Adelia membuatnya sadar jika selama ini ia hanya di butakan oleh nafsu. Adelia tak jauh lebih baik dari Khadijah, malahan ia lebih buruk dan sangat buruk bahkan tidak pantas dibandingkan dengan Khadijah.
"Kamu selesaikan ini dengan istrimu," titah kakaknya Malik.
Khadijah saat ini sedang memasak di dapur. Sebenarnya dia sudah memasak, tetapi ia melakukan itu lagi karena ingin menjauhkan diri dari suaminya, ia ingin menghindar dari Malik.
"Jah!" Panggil Malik.
Khadijah sudah menduga jika caranya kali ini takkan manjur. Malik tetap akan mencarinya dan bercerita padanya. "Ya?"
"Lagi sibuk?"
"Masak bentar, Bang ... kenapa? Sudah pulang Adelia nya?"
"Sudah ..." Malik mengambil tangan Khadijah, ia juga mematikan kompornya. "Minta waktunya sebentar," lanjutnya.
"Ada apa, Bang?"
"Duduk di sana dulu, yuk ..." Malik menunjuk bangku yang berada di dekat kandang ayam. Benar-benar tidak romantis jika orang lain melihatnya, namun tempat tersebut cukup adem karena berada di bawah pohon nangka yang besar.
__ADS_1
Suara ayam berkokok menjadi nilai plus saat ini, karena akan mengurangi terdengarnya pembahasan mereka di telinga para tetangga.
"Abang sudah meninggalkan Adelia, Abang mau taubat, Jah ..."
"Bagus kalau begitu," singkat Khadijah.
"Kembalilah dengan Abang, Abang rindu sama kamu. Abang rindu, Jah!"
"Kenapa harus sekarang, Bang? Kemana aja Abang dulu saat kepercayaan Dijah masih ada buat Abang?"
Malik terdiam, ia merenungi dirinya sendiri. "Satu kali, Jah ... Satu kali lagi saja, Abang mohon ..."
Khadijah mengangguk, "Hanya satu kali lagi, tidak lebih dari itu."
Grep!
Saking bahagianya Malik langsung memeluk Khadijah, ini kali pertama ia memeluk sang istri setelah berbulan-bulan lamanya. Malik sangat merindukan istrinya. Khadijah pun membalas pelukan tersebut, karena jauh di lubuk hatinya ia sangat merindukan Malik, suami tercinta.
Setelah pelukan itu selesai, Khadijah menepuk pelan punggung suaminya. "Dijah harap, Abang benar-benar taubat. Abang manfaatkan kesempatan ini dengan baik karena jujur Dijah bukan robot, bukan pula boneka yang diam saja saat di sakiti."
__ADS_1
Khadijah meninggalkan Malik sendirian, ia masuk ke dalam kamar dan menangis kembali. Antara bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Bahagia karena suami sudah sepenuhnya kembali, namun ia juga sedih karena di saat ia memberikan kesempatan, di saat itu juga dia harus menyiapkan hati untuk terluka.
"Semoga ini benar-benar yang terakhir, semoga Allah memberikannya pintu taubat." Khadijah mengadahkan tangannya di atas sajadah setelah shalat Sunnah.
***
Di tempat lain, Adelia baru saja sampai di rumah saudaranya. Di sini ia tidak memiliki rumah, ia berencana akan menyewa rumah yang tak jauh dari PT. Angin Ribut.
"Kita lihat saja nanti, jika aku tak bisa memilikinya maka kamu juga tak boleh mendapatkannya! Di antara kita harus ada yang mati. Hahaha ..." Adelia berbicara di hadapan cermin, ia seperti setan yang sedang membara nafsunya.
Adelia pun melirik sang bayi yang terbangun saat ini, "Kamu tenang saja, Nak ... kita harus bahagia!" ucapnya.
Dengan penuh amarah, ia menyebar foto-foto kebersamaan dirinya dengan Malik. Foto-foto tersebut sangat mesra dan bahkan tak layak di tonton. 'Biarkan saja ... Udah terlanjur juga!' batinnya.
Lumayan banyak ia menyebar itu dan berharap seseorang akan menelponnya.
kring!
Anggap saja itu adalah bunyi ponselnya, Adelia tersenyum geli. "Sudah ku duga itu pasti kalian, hahahhaa ..."
__ADS_1