
"Usai, Wak! Uwak benar, keluarga nomor satu."
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar."
"Lisa bilang sama dia kalau Uwak sudah tahu."
"Terus?"
"Dia kaya takut gitu, tapi biarlah!"
"Pantas saja dia rada takut kalau ketemu Uwak sekarang."
"Tapi Uwak jangan kasih tahu siapa-siapa ya, kasihan Khadijah."
"Bisa kasihan juga kamu," ledek Wak Santi. "Bercanda! Eh, mau minum apa? Lupa Uwak tawarin minum, astaga sudah tua jadi maklum aja!"
"Nggak usah, Wak."
"Berani kamu nolak? Nggak akan mau Uwak tawarin apa-apa lagi. Lantak 'lah!"
"Iss Uwak langsung marah," Lisa langsung bergegas ke arah kulkas. "Ini ya, Wak?" Sambil menunjukkan minuman yang ia ambil.
"Iya, ambillah."
"Nggak masuk bon 'kan, Wak? Banyak banget hutang kami bulan ini soalnya."
"Iya, tenanglah!"
Acara demi acara pun terlaksana, jam berputar dan kini malam telah tiba. Malik mengeluh kesakitan karena punggungnya di injak-injak oleh teman satu grupnya. Begitulah perjuangan mereka yang telah mengikuti lomba panjat pinang. Saat malam, sang istrilah yang harus standby memberikan pijitan-pijitan hangat untuk sang suami.
"Biar Dijah pijitin, Bang."
__ADS_1
"Kamu apa nggak capek? Bukannya tadi ikut main tarik tambang?"
"Iya, nggak apa-apa kok."
Malik melihat tangan istrinya, katanya nggak pa-pa tapi tangan tersebut terlihat merah dan berbekas, pikir Malik.
"Sebaiknya kamu istirahat saja, Jah. Abang nggak apa-apa!"
"Baringlah, Bang. Biar Dijah pijit!" Khadijah terus memaksa dirinya, ia tidak tega dengan sang suami yang terus memijit punggungnya dengan tangannya sendiri.
"Abang bisa minta tolong Riska buat injak punggung Abang."
"Riska capek, Yah." Teriak Riska dari kamarnya, ternyata anak kecil tersebut juga mendengar perbincangan orang tuanya.
"Ya sudah, kita ke kamar." Ucap Malik pasrah, padahal ia kasihan dengan istrinya tetapi sang istri malah tidak kasihan dengan dirinya sendiri.
Khadijah mengoleskan minyak di punggung suaminya. Pijitan Khadijah memang sangat enak, bahkan bisa membuat Malik tertidur saat ini. Akan tetapi ia teringat dengan kenangan mereka saat dulu masih sebatas sepupu-an.
"Abang teringat waktu dulu masih bujang gadis, kamu itu orang yang paling anti sama Abang. Tapi kenapa sekarang kamu ngebet nian untuk dekat sama Abang?"
"Dih," Khadijah terlihat kesal, "Entahlah, kadang Dijah juga bingung sama takdir Dijah."
"Bingung kenapa?" Malik menjadi penasaran.
***
"Abang tahu 'kan Dijah dulu kembang desa? Dijah pengen milih suami kaya artis Bollywood ituloh, Bang. Tapi dapatnya malah Abang."
"Dih," Malik terlihat kesal mendengarnya. "Kalau bisa milih sih Abang maunya sama artis Korea ya, bukan sama kamu, orang yang paling menyebalkan di dunia! Tau sendiri 'kan kalau Abang dari dulu itu selalu mencari yang terbaik?"
"Terus kapan Abang mau berhenti mencari?"
__ADS_1
"Abang sudah berhenti, mungkin karena kamu yang terbaik."
"Terus selama ini namanya apa, Bang?"
"Abang hanya main-main saja, Dijah. Tenanglah, sampai kapanpun Dijah akan tetap menjadi istri Abang."
"Kenapa kesannya nggak adil ya, Bang?
"Nggak adil gimana maksud kamu?"
"Abang boleh main-main, tapi Dijah? Kalau ada yang serius sama Dijah, kenapa Dijah nggak boleh pergi dan memilih dia?"
"Jangan ngomong gitu lagi, Abang nggak suka. Kamu hanya milik Abang!"
"Bang, Dijah juga manusia. Dijah punya hati dan batasnya rasa sabar. Ibarat kata itu sebuah mangkok, kalau di isi air terus akan tumpah 'kan? Sama seperti kesabaran Dijah."
"Jangan ngomong ngawur lagi, Jah."
"Sebenarnya diluar sana, apa yang Abang cari?"
"Kebahagiaan."
"Memangnya Abang nggak bahagia dengan pernikahan kita?"
"Bahagia! Tapi Abang cuma main-main, tenanglah Jah!"
"Rasanya enak ya, Bang?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anyway Othor masih punya satu request dari teman othor nih, janji tinggal satu. hehehe, cekidot 🫰
__ADS_1