
Malik diam, ia tak dapat berkata-kata. Malik memang mengakui dirinya bersalah, bahkan ia berdosa pada istrinya. Jikapun saudara-saudaranya menghukum dirinya, itu tak mengapa baginya.
"Maaf," lirihnya.
"Kemana aja kamu? Di telpon nggak bisa, di SMS nggak di jawab!"
"Aku ada urusan, Kak. Ponselku juga rusak. Maaf, tapi aku benar-benar nggak tahu Dijah masuk rumah sakit. Apa yang terjadi padanya? Kenapa bisa seperti ini?"
"Kamu tanya aja Lik sama dokter, Kakak lagi kesal nian samamu. Itu dokternya kayanya lagi meriksa Dijah!"
Malik mengangguk, mereka memang tidak di perbolehkan masuk. Sebenarnya bukan tak boleh, tetapi di batasi. Karena Khadijah berada di ruangan ICU. Keluarga pasien hanya di perbolehkan masuk saat jam tertentu. Ruangan ICU memang tidak transparan, tidak bisa melihat pasien dari luar, itu sebabnya sangat sulit jika ingin melihat pasien tanpa masuk ke dalam.
Tak lama kemudian salah seorang dokter keluar dari ruangan, Malik menghampirinya. "Dok! Apa dokter yang menangani Khadijah?"
"Pasien luka bakar?"
Malik mengangguk, "Bagaimana kabarnya?"
"Mari keruangan saya!" Titah sang dokter.
Malik mengikuti langkah dokter tersebut, hingga mereka sampai di depan ruangannya. "Silakan duduk!"
Malik duduk tepat di hadapan dokter tersebut, "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
"Pasien mulai membaik, hanya saja ia sempat mengalami syok kemarin."
__ADS_1
"Apa saya boleh bertemu istri saya, dok?"
"Sebaiknya jangan dulu! Mengingat luka di wajahnya cukup hebat. Saya takut ia merasa kesakitan saat menggerakkan tubuhnya."
"Baik, dok. Terima kasih!"
Malik keluar dengan lemas, tak lama setelah itu ponselnya berdering. Ah, bukan! Itu bukan ponselnya, melainkan ponsel Adelia yang dititipkan padanya.
[Ya, halo ... Ada apa?]
[Sayang ... kenapa lesu begitu?]
[Katakan saja, ada apa?]
[Kangen!]
[Maaf, Del. Aku tak bisa! Istriku sedang terbaring di rumah sakit dan itu karena aku. Jangan ganggu aku untuk sementara waktu!]
[Apa? Kak Dijah masuk rumah sakit? Wow, keren! Ah, tidak! Maksudnya kasihan sekali ... Adel boleh lihat nggak? Adel prihatin lihatnya.]
[Jangan! Kau hanya menambah bebanku saja!]
Tut!
Malik mematikan ponselnya, ia benar-benar emosi saat ini. Malik pergi keluar mencari udara segar. Menenangkan dirinya yang hampir tak terkontrol saat ini.
__ADS_1
"Argh!" Malik berteriak sekencang-kencangnya, tak perduli banyaknya yang melihat.
Ting!
Sebuah pesan masuk, [Adel harus datang, Sayang. Jangan halangin Adel atau Abang tahu sendiri akibatnya.]
Prang!
Malik membanting ponselnya, "Dasar wanita j*lang! Berani sekali dia mengancamku."
Malik mematikan ponselnya, tak peduli apa yang akan di lakukan Adelia. Ia kembali merenung di taman rumah sakit.
"Ayah!" Teriak seorang anak kecil, sudah di pastikan itu adalah suara Riska, putri tercinta.
Malik menoleh, ia langsung memeluk putrinya. "Sayang ..."
"Ayah dari mana aja? Kenapa baru datang?" lirih Riska dengan isakan tangisan.
"Maaf, Ayah kerja, Sayang."
"Apa kerjaan lebih penting daripada kami? Ayah ... Mamak kaya gitu karena Ayah!"
"Apa maksud kamu?"
"Bu Lisa yang bilang, dia lihat Mamak melamun sambil masak. Baru aja Bu Lisa mau samperin, api sudah datang ke wajah Mamak. Kalau terjadi sesuatu dengan Mamak, Riska nggak akan maafin Ayah!"
__ADS_1
Riska pergi meninggalkan Malik dengan penuh kemarahan. Ia tak dapat memaafkan ayahnya. Begitu juga dengan Malik, ia juga tak dapat memaafkan dirinya sendiri.
"Apa yang ku lakukan? Pantaskah aku di panggil suami? Pantaskah aku menjadi ayah? Aaargh!" Teriak Malik.