
'Apa kamu bahagia, Dijah?'
Pertanyaan itu terus terngiang di telinga Khadijah sampai-sampai ia melamun memikirkan nasibnya. Haruskah ia menjawab jika dirinya bahagia?
"Dijah!" Panggil Pak Rojali membuyarkan lamunan Khadijah.
"Astaghfirullah, Abah bikin kaget saja."
"Jawab pertanyaan Abah, kamu bahagia nggak?"
"Abah bisa lihat dari badan Dijah sekarang. Melar tanda bahagia!" Ujar Khadijah membuat ibunya terkekeh.
"Ah, iya ... Kamu ini kok gendut banget sih, Jah? Jangan gemuk-gemuk, nanti Malik malah lirik yang lain."
"Emak!" Bentak Pak Rojali membuat Bu Maimunah menjadi sadar dengan ucapan yang ia katakan barusan. "Jangan kamu dengarkan kata emakmu, kalau suamimu memang sayang dia nggak akan berpaling kemana-mana." Lanjut Pak Rojali sambil mengelus kepala putrinya.
"Maafin emak, Jah."
"Nggak pa-pa, Mak. Dijah jadi kepikiran untuk diet, nanti Dijah searching di internet 'lah ritualnya."
"Nggak perlu di paksa, Jah. Lagian kamu itu cantik dari dulu, anak Emak 'kan kembang desa, siapa saja yang melihatnya pasti langsung jatuh cinta."
"Apa sih, Mak."
Tak lama kemudian anak-anak Khadijah pulang sekolah, mereka langsung memeluk nenek dan kakeknya begitu tahu keduanya datang ke rumah.
"Nenek ... Kakek ..."
__ADS_1
"Wah cucu Nenek sama Kakek sudah pada besar!"
"Hafiz, kamu subur nian, Nak ..."
"Ah, Nenek ... Datang-datang kok nyebelin. Bawa oleh-oleh kek, atau apa kek ..." Kesal Hafiz.
Riska terkekeh, "Betul itu, Nek ... Bawa oleh-oleh nggak?"
Bu Maimunah tersenyum, "Nenek cuma bawa dodol saja, tapi ini rasa kentang. Mau nggak?"
Hafiz dan Riska saling pandang, "Dodol kentang?"
"Iya, rasanya enak. Sebentar biar Nenek ambilkan."
Sedang asyik bercerita tiba-tiba Malik pulang bekerja, bajunya terlihat amat jorok penuh lumpur. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, habis perang dimana, Lik?"
"Baru saja."
"Kok Dijah nggak bilang sama Malik ya?"
"Dijah juga nggak tahu, kami mau beri kejutan buat Riska."
"Riska?"
"Apa kamu lupa putrimu ulang tahun lusa?"
__ADS_1
"Astaga!" Malik menepuk jidatnya, ia memang benar-benar lupa. Bagaimana bisa ingat, jika pikirannya sudah di penuhi dengan Lily. Bahkan dia sudah berencana mengajak Lily jalan besok, tetapi bagaimana ia bisa mengajak kekasihnya pergi jika di rumah ada polisi yang menjaga dua puluh empat jam.
"Kamu pasti lupa yo? Jangan asik nian cari kerja tuh, sampai lupa sama ulang tahun anak dewek (sendiri)."
Malik menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Bukan lupa, Bah. Malik sudah berencana mengajak Riska ke kota."
"Ah, benarkah? Pasti cucu Abah senang di ajak ke pasar yang dingin."
"Mall, Bah ..."
"Suka-suka Abah 'lah, kok protes pula?"
Malik menghela napasnya, ia tersenyum kecut saat ini. Kemudian ia masuk ke kamar setelah pamit. Bu Maimunah menepuk punggung suaminya, "Jangan keras nian sama menantu, itu ponakan Abah sendiri loh."
"Gimana ya, Mak ... Abah masih kesal sama Malik."
"Soal tiga tahun lalu?"
"Iya, padahal istrinya itu sepupunya sendiri, masa dia tega berkhianat."
"Yang penting sekarang dia sudah taubat, Bah. Kita doakan saja rumah tangga mereka akur sampai tua."
"Apa kita salah ya menikahi mereka?"
"Hush! Ndak boleh bilang begitu."
"Ya sudah, Abah lapar ..."
__ADS_1
"Tunggu Malik keluar, kita makan sama-sama."
Sementara di kamar Malik baru saja selesai mandi, ia melilitkan handuk di pinggangnya sambil mengambil baju. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Rupanya Khadijah yang masuk, ia belum mengetahui suaminya sudah pulang sejak tadi.