
Mendengar Khadijah bertanya seakan mengintimidasi tersebut membuat Malik menjadi gelagapan. Ia berpikir seribu cara untuk memberikan alasan yang tepat untuk istrinya.
"Mungkin sebagian saja, Jah." Akhirnya Malik punya alasan setelah beberapa saat.
"Sebagian gimana, Bang?"
"Iya, nggak semua karyawan di mutasi, mungkin hanya sebagian saja. Maklumlah, kita 'kan hanya karyawan menengah ke bawah, bukan kaya mereka dari golongan staff ke atas."
Khadijah berpikir sejenak, lalu ia mengangguk kepalanya pertanda mengerti. Khadijah memeluk suaminya, memberikan ketenangan di sana.
"Abang yang sabar ya, ini ujian dari Allah. Tugas kita hanya berusaha dan berdoa saja."
"Kamu nggak marah 'kan, Jah?"
"Kenapa Dijah harus marah? Dijah ini istri Abang, tugas Dijah untuk mendukung Abang baik senang maupun susah."
"Bagaimana dengan cicilan kita, Jah? Apa kita ambil pinjaman saja dari kantor?"
"Abang yakin? Gaji Abang bakalan di potong tiap bulan. Buah juga nggak setiap bulan banyak, begitu juga dengan gaji kita."
"Tapi kita 'kan punya kebon, Jah. Uang makan bisa kita manfaatkan dari panen sawit di kebon kita, lumayan dua Minggu sekali."
Khadijah berpikir sejenak, apalagi mengingat jabatan yang baru tidak ada apa-apa nya daripada jabatan yang lama. Malik hanya menjadi anggota panen di salah satu afdeling yang lumayan jauh dari rumahnya saat ini.
"Abang harus giat kerja, soalnya kalau Abang telat dikit aja kita bakal di suruh pindah ke afdeling E. Di sana air susah, Bang."
__ADS_1
"Iya, Abang paham, Jah."
"Ya sudah, Dijah mau lihat Riska dulu."
Malik menahan tangannya, "Soal perabotan di rumah kita yang di kota gimana, Jah?"
"Kita tunda dulu ya, kita saja lagi krisis, Bang."
"Tapi Abang sudah janji dengan Ad---"
"Ad ... Ad siapa Bang?"
Malik menghela napasnya, lalu dengan susah payah ia menelan salivanya. Bagaimana mungkin dia hampir keceplosan seperti itu?
"Bang, jawab!"
Begitulah Malik, ia memiliki seribu alasan untuk berbohong. Sepertinya berbohong sudah menjadi darah daging baginya saat ini.
"Oh, begitu ..." Khadijah tidak memperdebatkan lagi, ia merasa ada yang mengganjal namun sebaiknya ia sendiri yang mencari tahu, pikirnya.
"Jadi gimana dengan perabot yang di kota?"
"Abang kenapa kekeuh nian? Kaya rumah itu bakal kita huni dalam waktu dekat aja," sahut Khadijah yang menjadi penasaran.
"Soalnya ---"
__ADS_1
"Soalnya apa, Bang? Lagian Abang juga baru di pindahkan, jadi anggota panen gak bakal banyak waktu untuk ke kota, Bang."
"Kasihan kang perabotnya, Dijah!"
"Ya sudah, terserah Abang saja. Dijah ngikut aja keputusan Abang kaya mana."
"Minggu kita ke kota ya?" teriak Malik melihat kepergian Khadijah.
Khadijah tidak menoleh sama sekali, namun ia menjawab ucapan suaminya. "Dijah ngikut aja, Bang!"
Malik menghela napasnya dengan pelan, perasaannya sedikit plong saat ini. 'Satu persatu masalah ku selesai, tinggal nikahin Adelia saja. Tapi gimana caranya?' batin Malik.
Malik mengambil ponsel saking bahagianya, ia membuat status di salah satu media sosialnya.
Apa aku bisa menggapai?
Status tersebut langsung meluncur di salah satu akunnya, tiba-tiba ponsel Malik berbunyi kembali. Rupanya, Adelia membalas status milik Malik tersebut.
Semangat, Sayang!
Tanpa Malik sadari, yang membaca pertama kali adalah Khadijah. Diam-diam wanita itu membuka akun sosialnya dari kamar. Entah mengapa, atau hanya sebuah kebetulan saja tiba-tiba di kamarnya ada sinyal.
Khadijah langsung berdetak, "Adelia ... inisial A ... apa mereka orang yang sama?" gumam Khadijah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1