Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
31. Lupa anak bini


__ADS_3

Malam telah tiba, tanpa terasa sudah beberapa kali mereka melakukan hal terlarang tersebut. Pakaian berserakan dimana-mana dan hanya selimutlah yang menjadi bungkusan badan mereka.


Ponsel terus berdering, tetapi sang pemiliknya masih asik di alam mimpi sambil berpelukan dengan orang lain.


Sementara di rumah, Khadijah sedang mengkhawatirkan suaminya yang tanpa ada kabar. Ia berjalan mondar-mandir tak karuan sambil memegang ponselnya.


Hanum yang merupakan kakak kandung dari Malik mendekati ipar sekaligus sepupunya tersebut. "Belum ada juga kabar si Malik?" tanyanya sambil menepuk pelan punggung Khadijah.


Khadijah menggelengkan kepalanya, "Dijah telpon nggak di angkat, nggak biasanya Bang Malik kaya gitu, Kak."


"Tuh anak emang kebiasaan, kalau sudah asyik lupa ngabarin yang di rumah," oceh Hanum.


"Ya sudah, Kakak tidur saja biar Dijah yang nungguin Bang Malik."


"Yang betul itu kita tidur saja, kalau tuh anak pulang 'kan dia manggil. Nggak mungkin dia di luar sendirian," tukas Hanum. Wanita itu menarik tangan adiknya, "Sudah! Kita masuk kamar saja, Jah. Nanti kalau ada apa-apa dia nelpon kamu. Kasihan Riska sendirian di kamar," sambungnya.


Khadijah menganggukkan kepala, ia pergi ke kamar saat ini. Begitu ia membuka pintu kamar, terlihatlah Riska sedang tertidur dengan pulas sambil memeluk guling.


Khadijah mendekati putrinya, ia pun membelai lembut rambut putri kesayangannya. "Selamat tidur, Nak," ucapnya.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, orang yang di khawatirkan oleh Khadijah baru saja membuka matanya. Ia sedikit panik saat melihat tubuhnya tanpa busana dan ada kepala orang lain di atas dadanya.


Namum setelah mengingat kejadian yang baru tadi siang ia lakukan ia tersenyum, "Ternyata begini rasanya," gumamnya.


'Khadijah!' batin Malik yang terus memanggil nama istrinya, lelaki itu langsung mengecek ponselnya. Sekitar 100 panggilan yang di abaikan oleh lelaki tersebut. Begitu membuka pesan, ada puluhan pesan dari Khadijah yang tak di balasnya.


"Astaga, aku lupa ngabarin Dijah."


Suara Malik membuat Adelia terbangun dari tidurnya, "Hm, maaf. Tidur kamu jadi terganggu," kata Malik.


Cup!


Yah, kecupan singkat tersebut mendarat di bibir Malik, "Selamat malam," sapa Adelia.


Adelia mengeratkan pelukannya, "Kalau Abang mau lagi, Adel masih sanggup!"


Ya ampun, wanita itu terus menggoda Malik. "Benarkah? Tapi Abang harus pulang, kasihan Dijah dan Riska."


"Dan Abang nggak kasihan dengan Adel?"

__ADS_1


Malik terdiam sejenak, kini dia merasa dilema antara pulang menemui istrinya atau tetap di sini melampiaskan nafsunya.


"Ya sudah, Abang pulang saja." Adelia pura-pura marah pada laki-laki tersebut.


"Jangan marah, Sayang." Malik duduk di pinggir kasur, ia melihat jam di dinding tersebut. "Astaga, sudah jam 11 malam!"


"Bagaimana? Apa Abang tetap mau pulang? Di sini saja bareng Adel, kita makan dulu di luar, terus jalan-jalan malam. Ini pertama kalinya kita ngedate, Bang. Kita habiskan waktu kita berdua dulu," terang Adelia sedikit memelas.


Malik berpikir sejenak, kemudian ia menganggukkan kepala. "Kamu benar, Del. Ini sudah malam! Ya sudah, Abang kirim pesan dulu ke Dijah ya."


[Dijah, maaf baru ngabarin. Bos Abang ngajak nginap di apartemennya karena kami akan melakukan zoom meeting dengan Bos pusat. Nggak apa-apa 'kan? Besok Abang jemput! Titip salam untuk anak Abang yang paling cantik ya. Abang sayang kalian berdua.]


Setelah mengirimkan pesan tersebut, Malik berdiri dan masih tanpa busana. "Mau kemana?" tanya Adelia.


"Abang mau mandi, kamu lapar 'kan? Habis mandi kita cari makan."


Adelia mengerutkan alisnya, "Gendong Adel, Bang. Biar Adel tunjukkan mandinya yang benar gimana," kata Adelia dengan suara seksinya.


"Maksudnya?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2