Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
41. Pulangkan Dijah, Bang!


__ADS_3

Hujan mengelilingi PT. Angin Ribut. Sepertinya langit juga ikut merasakan sakit yang di derita Khadijah. Wanita itu pulang dengan basah kuyup, ia sengaja membiarkan hujan bermain padanya saat itu. Di kesempatan itu juga Khadijah menangis sejadi-jadinya.


Begitu sampai di rumah, ternyata Malik sudah lebih dulu pulang. Maklum saja, hari Sabtu para pekerja hanya kerja setengah hari saja.


Motor Khadijah terparkir di sana, Malik langsung keluar dan membawa payung untuk Khadijah.


Khadijah menepisnya, "Untuk apa payung ini? Sudah terlanjur basah, percuma saja!"


Akhirnya Malik memilih membuatkan teh hangat untuk Khadijah. Ia yakin jika Khadijah saat ini sedang kacau, terlihat jelas dari raut wajahnya dengan mata yang sembab.


Setengah jam berlalu, tetapi Khadijah enggan keluar dari kamar, akhirnya Malik memutuskan untuk menyusulnya ke kamar sambil membawa teh hangat.


"Dijah! Kamu dari mana?" tanya Malik sambil menaruh segelas teh hangat tersebut di atas meja.


Khadijah enggan menjawab, ia masih bersembunyi di balik selimutnya. Akhirnya Malik mengelus pipinya, "Dijah! Minum dulu yuk, biar hangat."


"Jauhkan tangan Abang dari situ," titah Khadijah dengan suara berat, ternyata ia melanjutkan tangisannya sejak tadi.


"Kamu kenapa? Apa Abang ada salah sama kamu?"


Khadijah tidak menjawab, tetapi ia langsung menunjukkan foto-foto yang ada di ponselnya, "Bisa Abang jelaskan ini apa?"


Glek!

__ADS_1


Kelemahan Malik adalah berhadapan dengan Khadijah, ia mungkin bisa saja membohongi Khadijah melalui ponselnya tetapi saat bertatap muka ia tak mampu.


"Nggak bisa jawab 'kan?" tanya Khadijah dengan tersenyum.


Wanita itu duduk sambil menghapus air matanya, Malik langsung panik. Ia berusaha memeluk istrinya, "Kamu nangis?"


Pertanyaan Malik membuat Khadijah semakin kesal, namun wanita itu sangat lembut hatinya dan memilih diam.


"Maafin Abang, Jah ..."


"Maaf?"


"Abang khilaf, Jah. Tapi Abang juga nggak bisa membohongi perasaan Abang."


"Ya Allah, Bang ... Abang sadar nggak ucapan Abang buat Dijah sakit hati?"


"Abang sudah ngapain aja dengan dia?"


"Abang ----" Malik tak mampu berkata-kata lagi, ia hanya bisa diam saat ini.


"Pulangkan Dijah, Bang!"


Malik menggelengkan kepalanya, "Nggak ... Itu nggak akan Abang lakukan, Jah! Abang sayang kamu dan Riska. Kita sudah kehilangan Hafiz, Abang nggak mau kehilangan kalian juga."

__ADS_1


"Sekarang Dijah tanya sama Abang, Abang mau ninggalin Adelia nggak?"


Malik kembali diam, tak dapat berkata-kata lagi. "Abang nggak bisa jawab 'kan?" tanya Khadijah lagi memastikan.


"Hati Abang sudah terlanjur terbagi, Jah," lirih Malik sambil menundukkan kepala.


Tiba-tiba dari kamar tersebut terdengar suara bisa sekolah yang baru saja sampai, Khadijah dan Malik tak melanjutkan perdebatan nya.


Khadijah beranjak dari kasur, "Dijah kasih waktu sampai tiga hari, kalau Abang nggak bisa memutuskan, biar Dijah yang ambil pilihan."


Khadijah pergi ke kamar mandi menghapus air matanya bahkan ia juga memakai bedak kembali agar Riska tidak curiga.


Perdebatan mereka juga tidak ada yang tahu, karena Khadijah dan Malik tidak memakai suara yang tinggi. Bahkan tetangga sebelah pun tak ada yang tahu perdebatan itu.


"Mamak!" teriak Riska dari kejauhan.


Khadijah tersenyum dan menyambut putrinya, "Apa baju kamu basah, Nak?"


"Nggak, Mak. Tapi tunggu, mata Mamak kenapa?"


"Mamak baru bangun tidur, Sayang. Kamu pasti lapar, Mamak masakin mie ya, mau?"


"Mau! Tapi yang rebus ya, Mak ..."

__ADS_1


"Siap, Tuan Putri ..."


Khadijah membalikkan badannya dan langsung bertemu dengan Malik, tak ada percakapan di sana. Padahal biasanya Khadijah selalu mengajak Malik bicara walaupun hanya sekedar menyapa.


__ADS_2