
Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi Malik. Lelaki itu ingin sekali jujur pada istrinya tetapi ia tak bisa karena khawatir sang istri akan marah padanya.
"Bang! Ada apa? Dari tadi kok melamun terus?" tanya Khadijah yang sangat khawatir pada suaminya.
"Ah, nggak pa-pa. Apa sarapannya sudah siap?"
Khadijah mengangguk, "Mari makan! Riska udah nungguin," ujar Khadijah.
Keduanya sarapan bersama, hanya bermodalkan nasi goreng telur ceplok saja sudah membuat keluarga kecil ini bahagia. Ah, tidak, lebih tepatnya Riska 'lah yang bahagia.
Usai sarapan, Malik akan mengantarkan Riska ke sekolah. Ia pun berpamitan dengan istri tercinta, Khadijah mencium tangannya. "Hati-hati, Bang!"
Malik mengangguk, "Jah ... Entah bagaimana nantinya, percayalah ini bukan maunya Abang. Abang melakukan ini demi keluarga kecil kita!"
"Apa maksud Abang?"
"Lelaki yang dihadapanmu ini dulunya memang buruk, sangat buruk sampai tak bisa di maafkan. Tapi ketahuilah kalau Abang benar-benar ingin bertaubat. Jika terjadi sesuatu dengan Abang atau keluarga kecil kita, mungkin itu hukuman untuk setiap dosa yang Abang lakukan."
"Abang bicara apa?"
__ADS_1
"Abang menyayangimu, Abang menyayangi Riska, Abang menyayangi keluarga kecil kita."
Malik langsung pergi setelah mengatakan itu, sedangkan Khadijah? Jangan di tanya lagi, ia sangat mengkhawatirkan suaminya saat ini.
Mondar-mandir di dapur membuatnya tidak konsentrasi untuk memasak. Beberapa ikan yang ia goreng pun gosong. Ia mematikan kompornya dan menangis disana sambil meminta petunjuk pada Allah.
Setelah mendingan ia kembali memasak, namun siapa sangka dapur tersebut menjadi terbakar secara tiba-tiba dan langsung menyambarnya. Api tersebut sangat cepat menyebar karena rumah yang berdiri dari papan-papan tua, apalagi mereka tinggal di kawasan kelapa sawit.
Beruntungnya api tersebut dapat di padamkan secara cepat karena warga sekitar bertindak dengan cepat. Lantas bagaimana keadaan Khadijah?
Wanita itu langsung di bawa ke kota, para saudara-saudaranya juga ikut pergi sambil mencoba menelpon Malik.
Yuda dan tetangga lainnya mencari di tempat kerjaan, tetapi lelaki itu tidak ada disana. Malik benar-benar seperti orang hilang saat ini, apalagi ponselnya tidak bisa di hubungin.
Malik juga melihat ambulance melewatinya, ia tidak menyadari jika di dalam tersebut adalah istri tercinta. Ia juga tidak menyadari mobil pengiring nya adalah mobil abangnya sendiri.
"Astaga, apa mereka membawa orang sekarat? Atau orang mati? Kenapa sampai ngebut begitu? Hampir saja aku masuk jurang!" Gumamnya.
Tak lama kemudian Malik sampai di cafe tersebut, ia menghubungi Adelia agar wanita tersebut lekas datang. 'Kenapa firasatku nggak enak?' batin Malik.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Adelia pun datang, "Hai, Sayang ..." sambil mengecup pipi Malik tanpa rasa malunya.
"Duduklah dan bersikap dengan pantas!"
Adelia duduk tepat di hadapan Malik, "Abang tahu, Adel sangat rindu, Adel ---"
"Di mana putramu? Kenapa tidak di bawa?"
"Adel tinggal di rumah, Abang mau lihat? Yuk, pulang!"
"Berhentilah bersikap konyol, Adelia! Katakan, apa maumu sekarang?"
"Kenapa buru-buru?"
"Aku harus kerja, Adelia!"
"Aku? Bahkan ini kali pertamanya Abang ngomong begitu."
"Mulai sekarang kau harus terbiasa!"
__ADS_1
"Waw! Dan sekarang manggil kau? Luar biasa, tapi maaf karena Adel nggak akan nyerah hanya karena Abang bersikap kasar dengan Adel."
"Apa maumu?" Bentak Malik.