
Tiga bulan sudah berlalu, Malik masih saja berkomunikasi dengan Adelia. Semakin kesini, Adelia semakin menjadi-jadi tingkahnya. Tak jarang dia mengirimkan foto-foto seksinya. Malahan dia sering memancing Malik lewat foto yang menampakkan belahan buah segarnya.
Sejak pagi pekerjaan Malik sangat melelahkan, banyak sekali truk masuk dan harus di timbang. Di karenakan anak buahnya tidak masuk bekerja, akhirnya Malik 'lah yang melakukan tugas tersebut.
Jam menunjukkan pukul 12 siang, biasanya Malik pulang ke rumah untuk makan. Namun, saat ini sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
'Adelia,' gumamnya.
Panggilan berupa video call tersebut semakin menambah kesegarannya karena melihat Adelia hanya memakai baju bertali satu.
[Cantik sekali!] puji Malik di balik telepon tersebut.
[Boleh dilihat, boleh diraba, boleh dirasa!] Begitulah jawaban dari Adelia di sana dengan suara menggodanya.
[Oh kamu ngejek Abang ya? Awas kamu ya! Nggak bakal Abang kasih ampun kalau jumpa.]
[Nikah yuk, Bang!]
Prang!
Permintaan Adelia sebagai wanita adalah hal yang wajar, apalagi tubuhnya sudah berulang kali di jamah oleh Malik. Setiap Minggu Malik pergi ke kota dengan dalih mengurus pekerjaan, padahal Adelia 'lah yang ia kerjakan.
Ada misi yang ingin Adelia dapatkan, namun ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Sejauh ini ia merasa dirinya 'lah yang di rugikan. Ia tidak ingin semakin lama semakin rugi, bukan hanya tubuhnya tetapi uangnya juga menjadi korban.
__ADS_1
[Bang, kok diam saja?]
[Abang ---] Malik menghela napasnya, entah apa yang akan ia katakan sekarang.
Selama ini tak pernah ia pikirkan untuk menikah karena yang ada di pikirannya hanya bermain saja. Ia tidak mungkin memberi madu untuk Khadijah. Selain takut menyakitinya, Malik juga takut akan diserang oleh seluruh keluarga mengingat keluarga mereka berdua adalah sama.
[Abang!] panggil Adelia dengan wajah cemberut nya.
Malik tersadar dari lamunannya, [Kalau untuk sekarang, Abang belum bisa, Sayang.]
[Belum bisa? Kenapa belum bisa?]
[Kamu tahu sendiri 'kan, Kak Kha---]
Tut!
Adelia memutuskan panggilannya, ia benar-benar Sakit hati dengan ucapan Malik. Apalagi Malik selalu mementingkan perasaan Khadijah.
Malik merasa bingung, hatinya benar-benar tak bisa memilih. Jika dia meminta restu pada Khadijah itu sama saja ia seperti ingin meminta neraka. Namun, dia akan kehilangan Adelia, wanita yang luar biasa menurutnya.
'Ya Allah, ini gimana?'
Malik benar-benar frustasi dan saat ini ia berada dalam perjalanan pulang dengan wajah yang acak-acakan. Motor pun terparkir di teras rumahnya, Khadijah langsung menyambutnya.
__ADS_1
Khadijah mencium tangan Malik kemudian ia menggandeng tangan Malik sampai dalam rumah. "Dimana buatkan minuman ya, Bang ..."
"Dingin ya, Jah! Abang gerah nian," kata Malik.
Khadijah mengangguk, ia pergi ke dapur mengambilkan minuman untuk suaminya. Siang ini ia membuat es teh dan menyajikan nasi dan lauk yang ia masak. Khadijah sengaja masak tempoyak, makanan kesukaan Malik.
Tempoyak? apa itu?
Tempoyak adalah salah satu makanan khas melayu di pulau Sumatera dan Kalimantan. Cita rasanya adalah asam, karena hasil dari fermentasi buah durian. Biasanya gulai tempoyak di sandingkan dengan ikan dan di jadikan sebagai lauk pauk. (Sumber: google.)
Secepat kilat Khadijah menghidangkan makanan untuk suaminya. Malik terlihat sangat lapar hingga makanan tersebut langsung habis tak tersisa.
"Alhamdulillah, kenyang," ucap Malik.
"Enak, Bang?"
"Enak nian, kamu memang pandai masak."
Khadijah melirik ponsel Malik yang sedang berdering terus menerus sejak tadi. "Di angkat saja, Bang. Siapa tahu itu penting," ujar Khadijah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1