Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
54. Alasannya apa?


__ADS_3

Sesampai di rumah ternyata Malik sedang tertidur, Khadijah cukup puas memandang suaminya yang sedang tertidur sambil membaca Surah Yasin, entah mengapa ia ingin sekali membacakan Surah tersebut untuk suaminya.


Air mata Khadijah menetes, mengingat semua kenangan antara dirinya dengan sang suami. Suka duka telah dilalui bersama, walaupun lebih banyak dukanya tetapi Malik 'lah yang berhasil membuat hidupnya menjadi lebih banyak ombak.


Khadijah yakin suatu saat badai pasti berlalu, hiruk pikuk dalam pernikahan mereka akan berakhir namun yang menjadi pertanyaan adalah berakhir bahagia atau malah hancur sehancur-hancurnya.


Isakan tangis Khadijah membangunkan sang suami, Malik langsung terduduk dan ingin memeluknya. Akan tetapi Khadijah memundurkan dirinya sambil menghapus sisa air mata yang masih melekat.


"Maaf," lirih Malik. "Kamu kenapa, Jah?"


"Nggak pa-pa, Bang."


"Jawablah jujur, kamu kenapa? Apa nggak di kasih bon sama Wak Santi karena hutang kita kebanyakan?"


Pertanyaan itu membuat Khadijah ingin sekali mencubitnya, Khadijah menggelengkan kepalanya saat ini. "Dijah cuma heran, kenapa Abang betah nian selingkuh."


"Maaf, Jah! Abang khilaf."


"Khilaf itu dilakukan sekali, tapi kalau Abang berkali-kali. Itu namanya doyan bukan khilaf, Bang."


"Maaf, Jah."


"Ya sudah, lupakan. Oh iya, Abang nggak ambil pinjaman dari kantor?"


"Kenapa? Kamu butuh uang?"

__ADS_1


Tiba-tiba Khadijah teringat saat Malik mengatakan jika Adelia meminta ATM Malik pada Khadijah. Ya, selama ini gaji akan masuk ke ATM namun sialnya ATM tersebut di pegang oleh Khadijah. Khadijah juga yang tahu pin dan menyimpan M-banking di ponselnya.


Flashback


Waktu itu Khadijah sedang meracik bumbu di dapur, Malik mendekatinya sambil ikut mengupas bawang. Khadijah mengerutkan alisnya, "Ada apa, Bang?"


"Nggak ada, Abang cuma lagi pengen bantu aja."


"Iyo nian tuh?" Goda Khadijah.


Malik menggaruk kepalanya, "Abang memang gagal kalau bohong sama kamu."


"Tapi terus di coba ya, heran! Ada apa, Bang?"


"Abang lagi pusing, Jah."


"Adelia minta ATM Abang."


"Sebentar!" Khadijah langsung mengambil ATM Malik di dompetnya, "Ini!" Serunya sambil menyodorkan kartu tersebut.


Malik menggelengkan kepalanya, "Buat apa? Nggak usah, gaji Abang cuma dikit karena kita banyak potongan. Kalau ATM nya Abang kasih dia, nanti kamu nggak dapat apa-apa lagi tapi kalau sama kamu Abang masih bisa bagikan dua."


"Kenapa gitu?"


"Karena yang Adelia tahu, Abang dan kamu sudah cerai!"

__ADS_1


"Apa?"


"Iya! Maafkan Abang, mungkin kamu akan bilang Abang egois tapi kamu harus tahu kalau Abang nggak bisa tanpa kamu dan Riska. Kalian berdua lah dunia Abang yang sesungguhnya."


"Abang ini lucu nian, sepintar apapun Abang sembunyikan bangkai, pasti bakal ketahuan juga. Lagian Abang aneh, kalau kami dunia Abang, kenapa Abang nyari dunia lain? Pengen uji nyali, gitu?"


Ucapan Khadijah memang halus tetapi menyakitkan. Ia sudah sangat kesal dengan suaminya. Untung saja saat itu Riska langsung pulang, membuat Khadijah langsung bisa menghindari Malik saat ini.


Flashback Off


"Dijah ..." Malik memanggil istrinya karena melihat Khadijah melamun sejak tadi.


"Dijah!" Malik memanggilnya lagi sambil menyentuh punggung Khadijah.


Sentuhan tersebut mengejutkan Khadijah, ia tersentak dan menoleh. "Iya, Bang?"


"Kamu melamun?"


"Nggak!" Dustanya.


"Kalau gitu jawab dong pertanyaan dari Abang."


"Abang nanya apa?"


"Kamu butuh uang?"

__ADS_1


Khadijah mengangguk, "Siapa juga yang nggak butuh, Bang!"


"Alasannya apa?"


__ADS_2