
"Merelakan itu harus belajar ikhlas, Belajar mengerti bahwa apa yang kita lepaskan semua untuk kebaikan."
.......................................
Dia melihat Yusuf datang kembali bertamu kerumah nya.
Aku segera menuruni anak tangga dengan perasaan bahagia, dan tidak henti - henti nya mengucap kan kalimat tasbih dan tahmid nya kepada sang pencipta.
Setelah memasuki pekarangan rumah dia pun segera melangkah kan kakinya keteras rumah. Setelah sampai di sana dia pun segera mengetuk pintu dan mengucap kan salam.
Tok...tok....tok.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab orang dari dalam.
Setelah membuka pintu, dan mengetahui siapa tamu yang datang. Bunda pun mempersilah kan masuk kemudian mempersilahkan tamunya duduk.
Setelah sama - sama duduk, "Kamu mau apa kemari?" tanya Bunda dengan nada kurang senang.
"Alhamdulillah, saya sudah memenuhi persyaratan Ibu," seraya menyodorkan beberapa lipat uang ratusan ribu yang masih baru, dan masih khas dengan wangi bank.
Bunda tidak dapat menyembunyikan rasa kaget nya, dan Bunda jelas harus merelakan janji nya. Janji bahwa Bunda akan merestui pernikahan Vivi dengan Yusuf walau di dalam hatinya tidak ikhlas, tapi janji tetaplah janji.
__ADS_1
Di salah satu ruangan, Vivi tak henti - hanti nya mengucap rasa syukur, kepada Allah atas jawaban dari keteguhan hati nya dan keteguhan hati Yusuf untuk memperjuang kan cinta mereka kepada Allah.
Impian nya untuk menjadi seorang wanita dan istri sholeha sebentar lagi akan dia wujud kan bersama imam dunia, dan akhirat nya yang selalu dia nantikan dalam do"anya Yusuf.
Beberapa hari kemudian.
Dirumah Vivi kini sedang di dekor dengan dekoran ala kadar nya, besok pagi Vivi dan Yusuf akan melakukan akad nikah. Tidak ada undangan, hanya keluarga inti dan tetangga saja yang mereka undang.
Pernikahan yang mereka laksanakan hanyalah pernikahan biasa dan sederhana namun begitu sakral.
Keesokan hari nya.
Tak henti - henti nya dia berdo,a di dalam hati agar dia tenang karena jujur saat ini dia sangat merasa gugup.
Di ruang tamu kini tamu sudah satu persatu berdatangan, saksi, dan pak penghulu pun sudah datang. Calon mempelai pria pun sudah turut hadir disana di dampingi oleh kedua orang tua nya dan kerabat - kerabat terdekat kedua orang tua nya.
"Bagaimana para saksi dan para tamu undangan, apakah pembacaan ijab dan kabul sudah bisa kita laksanakan?" tanya Pak penghulu membuka suara sambil menatap para tamu undangan yang kini hadir, dan duduk berhadapan dengan pak penghulu.
"Bisa," kata tamu serentak.
__ADS_1
" Saudara, Muhammad Yusuf Akbar bin Fadlan saya nikah kan dan saya kawinkan engkau dengan, Vivia Putri Utami binti Ahmad Akbar dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat. Tunai."
"Saya terima nikah dan kawin nya Vivia Putri Utami binti Ahmad Akbar dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaiman para saksi sah?" tanya pak penghulu.
"Sah."
Aku tidak dapat menyembunyikan haru bahagia ku, saat mendengar kata sah dari para tamu saksi pernikahan ku. Tak henti - henti nya aku berzikir, dan bersyukur atas semua do,a nya yang di kabulkan Allah ta,ala.
Kini bunda sudah berdiri di depan pintu kamar Vivi.
Tok.....Tok....tok....
"Ya masuk," suara dari dalam.
"Ceklek," suara pintu dibuka.
Setelah pintu terbuka Bunda pun masuk kedalam, " Vi, ayo kita turun, di bawah sudah menunggu suami mu, Ibu dan Ayah mertua mu!" kata Bunda, setelah berada di dalam kamar ku.
💖💖💖
Bersambung
__ADS_1
silahkan like, vote, comment dan beri bintang lima ya makasih.