TUNGGU AKU DI PINTU SURGA

TUNGGU AKU DI PINTU SURGA
TAPS 2. Bagian 58.


__ADS_3

Kini aku sudah di kamar dan segera meletakka tas ku di atas meja. Dan kemudian menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhkan yang rasanya sudah pada lengket semua.


Sesaat kemudian kini aku sudah menyelesaikan mandiku dan segera keluar kamar menuju lantai bawah untuk segera menemui Bundaku.


Setelah di bawah, tanpa sengaja aku lewat di depan kamar Bunda yang pintunya sedang tidak tertutup rapat. aku pun mengintip dari celah pintu yang sedang tidak tertutup dengan sempurna. Aku melihat Bunda sedang duduk di kursi dekat jendela dan sepertinya Bunda sedang melamun. Aku pun masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan berjalan mendekatinya, "Bunda sedang mikirin apa sih? Dari tadi Rania perhatikan sepertinya Bunda sedang melamun?" tanya ku seraya duduk di kursi yang ada di sebelah Bunda ku.


Bunda pun menoleh kearah ku, "Eh ... kamu sudah mandinya?" tanya sang Bunda seraya memalingkan wajah kearah lain, lalu menghapus segera air matanya dengan punggung tangannya.


"Sudah," jawabku singkat.


"Bunda lagi mikirin apa sih?" tanya ku penasaran. Aku merasakan sepertinya Bunda sedang memikirkan sesuatu di lihat dari wajah nya yang berwarna merah dan matanya berwarna merah seperti orang yang sedang habis menangis.


Dengan terbata - bata, "Hmm ... hmm Bunda tidak apa - apa sayang."


"Serius?" tanya ku menyelidiki.


"Ada yang tidak beres," gumam ku dalam hati.


"Bunda ... pasti bohongkan?" tanya ku lagi setelah beberapa saat terdiam.


Bunda pun menatap wajahku, "Bunda tidak bohong. Untuk apa Bunda bohong," ucap Bunda yang memang sedang berbohong.


Sudah bertahun - tahun aku hidup bersama Bunda tapi baru kali ini aku melihatnya sedih. "Bunda, coba jujur sama Rania sebenarnya Bunda kenapa?" ujar ku memaksa. Bunda pun tiba - tiba memelukku dan menangis. Aku makin penasaran, "Sudah ... sudah ... ( sambil menepuk - nepuk pundak bunda )." "Coba katakan sebenarnya ada apa? Dan kenapa Bunda menangis?"


Lama Bunda terdiam dan menumpahkan tangis nya di sana sambil memelukku. Setelah beberapa saat menumpahkan air matanya, kini Bunda sudah agak tenang dan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Bunda kenapa? Kenapa Bunda menangis?" ucapku seraya melap sisa - sisa air mata Bunda dengan jari - jariku.


"Entah lah Bunda juga tidak tau kenapa Bunda tiba - tiba ingin menangis."


"Bunda kangen dengan Ayah dan Omah?" ujar ku menebak.


Bunda hanya mengangguk. "Sabar Bunda, Ayah dan Omah sudah bahagia di sana," ucapku seraya mengelus elus tangan Bunda ku.


Tuhan memberikan kita ujian berupa kegagalan dan kehilangan pada kita, untuk mengajarkan hikmah di balik semua peristiwa itu.


Aku bergumam dalam hati, "Ayah, seandainya kamu masih ada disini, aku ingin bermain denganmu. Dan menceritakan segala hal tentang hidupku. Tapi sekarang aku hanya dapat dekat denganmu, dalam do,aku."


Bunda bergumam dalam hati, "Kepergianmu membuatku bahwa rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Namun kepergianmu pun mengajarkan bahwa Tuhan selalu ada untuk mendengarkan segala do,a dan harapan. Mungkin terlambat bagi ku untuk mencintaimu, dan sekarang aku merindukanmu setiap hari."


...***********...


...Pria yang menghabiskan waktunya hanya untukmu memikirkanmu pria yang mampu menghadapi sifat egoismu....


...Dia memang lugu, tapi tidak akan selamanya begitu. Ada saatnya dia pergi karena kehadirannya tak di hargai....


...Dan mungkin kehilangnya akan menyadarkanmu....


...**********...


...Mari saling mendukung....

__ADS_1














...Terima kasih...

__ADS_1


...💖💖💖...


__ADS_2