
"Tadi itu cuma salah paham," ujar Anjani.
"Tidak apa - apa. Wajahmu terlihat sangat lucu, jadi aku terhibur." kata Rania sambil menyodorkan cermin pada Anjani.
Bhanu tersenyum geli mendengarnya, dan Anjani tersinggung tapi dia berusaha keras menahan emosinya. Anjani lalu menanyakan namanya agar bisa segera check-in.
"Blue," ujar Rania.
"Iya, tolong beritahu nama anda?"
"Ahli waris Blue,"
Awalnya, Anjani langsung menerima nama itu begitu saja, sambil mengetiknya di komputer. Namun, sesaat kemudian dia sadar apa maksudnya. Rania langsung berbalik menghadapi para pegawai, dan memberitahukan jati dirinya yang merupakan ahli waris hotel Blue.
"Rania," dengan gaya narsisnya.
Semua pegawai hotel langsung ternganga sementara, Alvin yang baru tiba di lobi langsung gugup.
__ADS_1
Saat akan berjalan menuju kamar yang sudah di pesan di beberapa jam yang lalu, Raniapun melihat sang paman berjalan mendekat.
"Paman apa kabar?" tanya Rania seraya memeluk dan sok akrab Brawijaya pun meyambut pelukannya dengan senyum tapi diam - diam Brawijaya sebenarnya sedang merengut kesal. Niat kekamarpun tidak jadi.
Mereka sekarang sedang berada di restoran berdua. Rania yakin kalau Brawijaya pasti mengkhawatirkannya dan Brawijaya langsung pura - pura tidak tahu kalau Rania sudah datang di kota B.
"Setelah ayahmu meninggal dunia pasti kamu sangat sibuk mengurus semuanya seorang diri?"
Tapi, Rania langsung tersenyum dan meyakinkan Brawijaya kalau dia baik - baik saja.
"Tentu tidak paman, kan ada paman yang selalu membantu Rania mengurus semuanya walau kita berada di tempat yang berbeda," ujar Rania seraya meletakkan tangannya di atas meja dan menatap wajah pamannya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Setelah itu, Ayden ikut duduk bersama mereka dan mendengarkan semua percakapan mereka.
"Diluar sana sungguh banyak orang yang diam - diam ingin menghancurkan usaha almarhum ayahku, yang pernah dirintis mulai nol hingga bisa berkembang pesat seperti sekarang." ujar Rania dengan seriusnya.
"Bahkan ada yang diam - diam menusuk aku dari belakang. Apa mungkin mereka diam - diam menusuk ku dari belakang lantaran aku pewaris dari hotel blue dan portal web Unicon dan Barro. Tapi paman tidak perlu khawatir, karena aku sekarang berada di tempat yang aman."
__ADS_1
Brawijaya langsung tersenyum dan menggenggam tangan Rania dan berjanji pada Rania untuk menjaga Rania.
"Sekarang akulah ayahmu, belajarlah manejemen disisiku. Satu-satunya orang yang bisa melindungi hotel sekarang ini hanyalah kamu."
"Terima kasih paman, tapi aku tidak tertarik dan tidak mau berhubungan dengan manejemen. Aku hanya ingin menjadi ahli waris yang punya banyak uang, aku hanya ingin hidup seperti pemeran utama wanita di film - film."
"Ya sudah deh paman, Rania kekamar dulu ya, Rania capek dan ingin istrirahat," kata Rania kemudian.
Pada saat sedang dalam perjalanan menuju kamar hotel, tiba - tiba Rania melihat sesuatu dan menarik perhatiannya. Sebuah lukisan laut senja yang terpajang didinding hotel. Rania sepertinya mengenali lukisan itu, kemudian Alvin menghampirinya dan memberitahukannya kalau sang ayah sangat menghargai lukisan itu.
"Apakah kamu pernah melihat lukisan itu sebelumnya?" tanya Alvin kepada Rania.
"Tidak," sangkal Rania cepat - cepat.
Saat, Alvin mengantar Rania kekamarnya, dia pun bertanya, "Apa kamu benar-benar anak Tn.Abid? Kalian berdua sangat berbeda."
💖💖💖
__ADS_1
Silahkan tinggalkan jejak, dengan cara like, vote, koment dan jangan lupa rate lima jika kalian suka Terima kasih.
💖💖💖