TUNGGU AKU DI PINTU SURGA

TUNGGU AKU DI PINTU SURGA
TAPS 2. Bagian 41.


__ADS_3

"Apa maksud mu kami tidak mirip?" tanya Rania seraya menatap wajah Alvin hampir tak percaya dengan pertanyaan nya.


"Kepribadian kalian sangat jauh berbeda, dan kenapa juga kamu harus muncul di hotel? Bukankah Nyonya Fani punya butik kenapa kamu tidak di sana saja, kami bekerja disini sudah tahunan bersama Tuan Abid, kamu meragukan kinerja kami," ujar Alvin panjang lebar.


"Butik itu punya nenek Fani, bukan punya Rania, yang di wariskan Ayah hanya beberapa aset salah satunya hotel ini," ujar Rania seraya memunggungi lawan bicaranya.


"Ya sudah, kalau begitu aku pamit undur diri dulu, dan jika ada yang kamu perlukan silahkan hubungi aku. Jangan sungkan jika kamu menginginkan sesuatu, panggil saja aku," ujar Alvin kemudian keluar dari dalam kamar hotel Rania.


Raniapun berjalan kearah jendela kamar yang menghadap langsung dengan pemandangan kota.


Tok ... tok ... tok ... suara pintu di ketuk dari luar.


"Masuk," perintah dari dalam.


Raniapun menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang datang mengunjunginya.


"Eh, kamu Bell, ada apa?" tanya Rania.


"Maaf Rania, kamu sudah makan siang belum?" tanya Bella.


"Belum, memang ada apa? Kamu mau traktir aku? Dengan menu andalan hotel disini? Berani tidak kamu traktir aku?" ujar Rania seraya tersenyum.


"Kenapa tidak,"


"Ayo."


Mereka pun keluar dari kamar dan berjalan beriringan turun lewat lift menuju lantai dasar. Mereka makan di restoran yang ada di hotel itu.


"Selamat siang Nona dan selamat datang," ujar salah satu pelayan restoran itu.


"Selamat siang," ujar Bella seraya membungkukan badannya.


"Mbak kami mau memesan ruangan khusus," ujar Bella kepada pelayan wanita itu.


"Mari ikut saya," ujar pelayan wanita itu.

__ADS_1


Pelayan wanita itupun menuntun mereka kesalah satu ruangan memang di khususkan untuk tamu - tamu penting. Tidak butuh waktu lama kini mereka sudah tiba di ruang Vip restoran.


Kini mereka sudah duduk dan sudah memesan makanan. "Mohon di tunggu sebentar," ujar pelayan wanita itu seraya berlalu pergi.


Beberapa saat kemudian, pesanan mereka pun datang, sesaat kemudian sudah tertata di atas meja.


"Selamat menikmati," ujar pelayan wanita itu seraya tersenyum kemudian berlalu pergi dari kedua tamu Vip nya itu.


Selang beberapa saat kini mereka sudah menyelesaikan makan siangnya.


"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Bella pada Rania.


"Bagaimana kalau kita pergi kepusat perbelanjaan yang ada di hotel ini," ujar Rania.


"Baiklah, ayo kita kesana!" ajak Bella seraya berdiri dari tempat duduknya.


Mereka pun kekasir membayar makanan serta minuman yang mereka makan, kemudian berlalu pergi dari sana.


"Apa kita jadi pergi berbelanja pakaian?" tanya Bella sesaat mereka sudah berada di luar restoran.


Setelah berjalan sambil melihat - lihat keadaan hotel yang sudah dirintis Ayahnya sejak bertahun - tahun lalu, kini mereka sudah tiba di pusat perbelanjaan yang ada di hotel.


Mereka pun langsung masuk kedalam, dan melihat - lihat koleksi pakaian mereka. Di saat mereka tengah sibuk melihat - lihat pakaian yang ada di sana, tiga karyawan wanita sedang bergosip ria dan kebetulan mereka sedang membicarakan dirinya.


"Berani sekali mereka membicarakan aku, pada saat ada aku disini," ujar Rania dalam hati.


Rania pun berjalan mendekat ke arah tiga karyawan wanita itu.


"Hemmmmmmmmmm." deheman Rania membuyarkan mereka bertiga.


Karyawan wanita itupun tertunduk dan menahan malu karena mereka ketahuan oleh orang yang sedang mereka bicarakan.


"Kalian pilih mana, mau saya acak - acak isi toko ini atau kalian berhenti bergosip dan kembali bekerja?" tanya Rania pada tiga karyawan wanita itu, yang masih menunduk tanpa berani mentap wajah lawan bicaranya.


"Kalau ditanya, ya di jawab," kini Rania dengan nada membentak, dan menggema didalam ruangan itu.

__ADS_1


"Sudah Rania, sabar," ujar Bella menengahi.


"Manusia - manusia begini ni yang bagusnya di bumi hanguskan dari muka bumi, karena mempunyai muka dua," ujar Rania seraya menunjuk ketiga wanita itu, yang masih setia menunduk tanpa harus melihat lawan bicaranya.


"Ternyata, nyali kalian hanya segitu ya," ujar Rania yang kini sudah berjalan kearah pakaian - pakaian yang tergantung, dan satu persatu di lemparkan kelantai.


Tidak butuh waktu lama, kini toko itu bak kapal pecah yang siap tenggelam akibat ulah Rania mengacak seluruh isi toko


"Itu adalah pelajaran untuk kalian karena berani membicarakan saya yang jelek - jelek tepat di hadapan saya."


Bella hanya bisa geleng - geleng kepala menyaksikan aksi sahabatnya itu.


"Ayo Bell, kita pergi dari sini!" ujar Rania setelah puas mempora - porandakan isi toko itu.


Mereka pun pergi meninggalkan toko itu dengan hati puas.


"Ran, kejam sekali kamu sama karyawan toko itu," ujar Bella setelah mereka sudah berada di area perhotelan.


"Itu memang pantas mereka dapatkan, karena sudah berani berbicara buruk tentang diriku tepat di hadapan ku," ujar Rania membela diri.


Rania pun pergi meninggalkan Bella, dengan perasaan dongkol akibat Bella membela tiga wanita itu.


Alvin yang kebetulan lewat dan melihat Rania sedang berjalan dengan wajah sepertinya sedang menahan kesal, dia pun berjalan dan menghadang langkah kaki Rania. Rania pun berhenti.


"Sepertinya kamu sedang dalam keadaan kurang baik - baik saja?" tanya Alvin pada Rania.


"Bukan urusanmu," ujar Rania kemudian berlalu pergi.


Tapi, belum jauh Rania melangkah, Rania pun berhenti dan menoleh kebelakang kemudian berucap, "Antarkan makanan kekamar ku sekarang juga!" Kemudian dia pun berlalu pergi.


💖💖💖


Teman - teman mohon dukungannya ya... dengan cara like, vote, komen dan rate lima jika kalian suka. Terima kasih.. Mari saling mendukung.


💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2