
Karena tidak bisa berdamai dengan hati ku. Aku pun memutuskan untuk tidur. Pukul 24.00 malam tiba - tiba aku terbangun dari tidur ku.
"Haus," gumam ku dalam hati.
Aku pun bangun, dan turun dari ranjang lalu melangkah keluar kamar dan menuruni anak tangga satu persatu. Setelah di bawah aku pun segera ke dapur, buka kulkas lalu segera mengambil air dan menuang ke dalam kelas dan meminum nya hingga tak tersisa.
Setelah minum aku pun segera meninggalkan dapur menuju lantai dua. Tapi belum jauh aku melangkah. Tiba - tiba perasaan ku ada seseorang yang memperhatikan aku dari jauh. Aku pun menoleh kebelakang tapi aku tidak menemukan siapa - siapa disana.
Setelah memastikan kalau hanya ada aku seorang diri di tengah gelap nya malam. Aku pun kembali melanjutkan langkah ku menuju lantai dua. Baru satu anak tangga yang ku jajaki tiba - tiba aku merasa ada yang melintas warna hitam dari balik tirai jendela.
Karena penasaran, aku pun beranikan diri melangkah ke arah jendela dan menyibak tirai jendela. Aku pun terkejut setelah melihat apa yang aku lihat dari ciciri punggung badan nya aku yakin kalau itu mas Abit .
"Bukan kah Ayah sedang ke kota S. Lalu ngapain ayah sini," kata ku bergumam dalam hati seraya membuka pintu rumah.
Aku pun berjalan mendekati nya.
"Ayah ngapain disini bukan kah ayah sedang berada di kota S?" tanya ku setelah sampai dan memegang bahu nya. Ada perasaan yang tak biasa yang aku rasakan saat berdekatan dengan mas Abit.
__ADS_1
"Ayah baik - baik saja kan?" kata ku kemudian.
Lalu dia pun membalik kan badan nya ke arah ku.
"Aneh," gumam ku dalam hati sambil memegang tangan nya yang terkesan dingin dan berwajah pucat.
"Ayah ada apa, ngomong dong jangan diam aja," kataku yang saat itu sungguh sangat penasaran ada apa dengan nya. Yang di tanya bukan nya menjawab malah dia memelukku sangat erat seolah - olah tak ingin lepas.
"Ayah udah dong meluk nya bunda, sesak ni nda bisa nafas," kataku seraya melepas pelukan nya.
"Bunda, Ayah sangat mencintai mu sungguh sangat mencintai mu. Maaf kan Ayah yang belum bisa bahagiakan kalian. Jaga Rania dengan baik tuntun dia menuju jalan yang di ridhoi Allah!" kata mas Abid seraya memeluk ku dan mencium kening ku.
Dia pun segera berbalik lalu pergi menjauh dari aku. Aku pun memanggil nya tapi dia sama sekali tidak menoleh kebelakang.
Menjauh, menjauh, menjauh, lalu menghilang bersama dengan kabut asap di malam itu.
Selepas dia pergi aku masuk kembali kedalam rumah dan langsung menuju lantai dua. Setelah tiba di kamar aku pun melanjutkan tidur ku.
__ADS_1
Ke esokan hari nya.
Di saat masih di pembaringan tiba - tiba ponsel ku berdering di atas kasur di samping bantal. Aku pun segera meraih nya setelah tau siapa yang menelphon aku pun bahagia.
"Mas Abid," memanggil.
"Hallo Assalamualaikum Ayah apa kah ayah baik - baik saja dan bagaimana perjalanan ayah semalam semoga lancar saja ya?" kata ku bersemangat dan hati berbunga.
"Selamat pagi, Ibu. Apakah Ibu istri dari Bapak Abid Prayoga?"
Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, Ia memberitahuku bahwa suamiku tadi malam mengalami kecelakan jam 11.30 dan saat ini ia sedang di bawah ke rumah sakit ke polisian.
💖💖💖
Bersambung. Jangan lupa like, vote, comment dan beri bintang lima pada karya aku makasih.
💖💖💖
__ADS_1