
"Aku perlu orang yang kupercaya. Aku mohon," ujar Ayden memohon kepada Maura.
Setelah sempat terdiam beberapa saat, mempertimbangkan permintaan Ayden, akhirnya Maura pun menerima tawaran Ayden untuk menemani Rania. Atau dengan kata lain menjadi pengawal pribadi Rania, demi melancarkan misi dan ambisinya.
Setelah itu, Ayden dan Maura pun berpisah. Kini Maura membawa misi baru. Setelah pertemuan singkat itu kini Maura sudah berjalan kearah kamar Rania.
Sesaat kemudian, kini Maura sudah menghambur masuk kekamar Rania tanpa ijin lebih dulu. Tanpa basa basi dia memberitahukan Rania kalau dia siap menjadi pelayan Rania setia setiap waktu mulai dari sekarang.
Rania sama sekali tidak berdaya, Rania yakin pasti Maura mata - tama dan suruhan Ayden.
"Kamu mau mengawasi ku setiap saat? Lupakanlah, silahkan keluar?" usir Rania. Tapi Maura sama sekali tak bergeming dengan perintah itu, "Aku hanya akan mengikuti perintah general manager," ucap Maura seraya tersenyum.
"Kamu tau dengan siapa kamu berhadapan sekarang? Aku adalah ahli waris perusahan dan calon presdir," ujar Rania menjelaskan panjang lebar kepada Maura siapa dirinya.
Namun, Maura tetap tak bergeming dan tidak mau keluar. Hingga membuat Rania makin bertambah kesal, dan mengusir Maura secara kasar dengan cara mendorong. Namun sayang Maura dapat menghindari serangan Rania, hingga membuat Rania jatuh dan tersungkur ke lantai.
"Apa Anda baik - baik saja?" tanya Maura khawatir.
"Tidak," jawab Rania singkat.
__ADS_1
*****
Kini, Ayden ada di depan rumah dokter yang menangani dulu Tuan Abid, tanpa sepengetahuan siapa pun. Termasuk dokter itu.
Dia penasaran dengan penuturan Rania tadi sewaktu di kamarnya. Dari kejauhan Ayden melihat dokter yang menangani Tuan Abid keluar dari dalam rumahnya dengan tergesa - gesa, yang katanya sedang seminar di luar negri.
Lalu Ayden pun mengikuti kemana pergi nya dokter itu. Dokter itu berhenti di sebuah hotel murahan. Ketika Dokter itu sadar bahwa Ayden mengikutinya, orang yang dia kenal, dokter itu pun tegang.
Dokter itu juga tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Ayden sampai mengikutinya hingga kehotel.Tapi apa pun itu. Ayden tidak akan bisa menemukan apa - apa.
Kini mereka sudah berada di dalam kamar dan duduk di atas kursi kayu yang terdapat di dalam kamar itu.
"Kalau begitu saya akan bertanya dengan terus terang. Saat Tuan Abid meninggal, Anda tidak pulang kerumah sakit dan anda tidak pulang kerumah. Kenapa anda bersembungnyi disini?" tanya Ayden.
"Apa kamu kaki tangan Brawijaya?" tanya dokter itu selidik.
"Aku hanya ingin kebenarannya?"
Dokter itu itupun berusaha mengelak dan menghindari pertanyaan Ayden. Dan mengatakan tidak ada kebenaran. Ayden tidak kehabisan akal dan kata - kata.
__ADS_1
"Saya datang kesini untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu Rania dalam menyelidiki kasus kematian Ayahnya."
"Tidak ada gunanya," ujar dokter itu seraya mengatakan tidak akan ada buktk yang bisa Rania dapatkan.
Sesaat kemudian Ayden bertanya lagi, "Apakah kematian tuan Abid merupakan konpirasi antara dokter dan Brawijaya?" ujar Ayden lagi.
Dokter itu pun mendadak ketakutan dan wajahnya menjadi pusat pasih. Lalu mengusir Ayden.
Sebelum dia melangkah pergi, "Apa kamu menyuruhnya minum obat yang seharusnya dia tidak minum, karena perintah Brawijaya."
💖💖💖
Teman - teman, mari saling mendukung....
Terima kasih.....
__ADS_1
💖💖💖