
Di ruang keluarga kini mereka sedang berkumpul dan menonton tv sambil sesekali bercanda dan tertawa bersama.
"Yusuf," kata Ayah kemudian.
Yusuf pun, menoleh kebelakang di mana ayah dan Ibu nya duduk menonton acara televisi sedangkan Yusuf duduk melantai di atas ambal bulu - bulu.
"Ada apa yah."
"Coba sini kamu sebentar," ujar Ayah seraya menepuk - nepuk tempat duduk yang kosong yang ada di samping ayah nya.
Yusuf pun berdiri lalu berjalan ke arah Ayah, kemudian perlahan - lahan mendudukan badan nya di samping ayahnya.
"Ada apa yah?"
"Ayah dan Ibu ingin memberikan kamu ini," sambil menyodorkan amplop berwarna coklat.
__ADS_1
"Apa ini yah?" tanya Yusuf tidak mengerti.
"Buka dan ambil lah Ayah tidak ingin ada penolakan," kata Ayah menegaskan.
"Anggap ini adalah jawaban atas do,a kamu hari ini, iya kan Bu?" tanya Ayah sambil menatap istri nya yang duduk di sebelah nya.
"Iya ambil lah Nak, itu adalah tabungan Ayah dan Ibu yang memang kami siap kan untuk kamu buat masa depan kamu kelak, dan sudah saat nya Ayah dan Ibu memberikan ini ke kamu?" kata Ibu kemudian.
"Ayah, Ibu," kata Yusuf bergantian menatap wajah Ayah dan Ibu nya.
Jam terus bergulir hingga tak terasa kini waktu sudah menunjukan pukul 10 malam,
mereka pun menyudahi perbincangan mereka dan masuk ke dalam kamar masing - masing.
Tiga hari kemudian.
__ADS_1
Ada tiga hal yang bisa membuat manusia merasakan manisnya iman yaitu mencintai Allah melebihi apa pun, mencintai rasulullah melebihi cinta kepasa siapapun, dan mencintai seorang hambanya karena-Nya. Itu lah yang kini tengah Vivi rasakan, semenjak dia mengenal Yusuf dalam suatu pengajian di kampusnya.
Dia dulu hanyalah seorang wanita modern dengan pakaian serba kebarat - baratan. Agama sama sekali tidak dia pahami. Hingga dia memilih merubah hidup nya lebih ke jalan ilahi saat matanya menemukan seseorang lelaki yang ikhlas mengajarkan nya agama Allah, Islam.
"Calon suami mu mana, ini sudah hari ketiga. Jika sampai hari ini dia tidak datang juga, maka kamu harus ikut bunda pindah ke Jakarta. Bunda akan menjodohkan mu dengan anak pengusaha, dan kali ini kamu tidak akan bisa menolak nya lagi," ujar Bunda yang kebetulan lewat di depan kamar Vivi yang tidak tertutup.
"Ya Allah, wahai engkau yang maha membolak - balikan hati. Teguh kan iman ku. Hanya kepadamu aku bertawaqal. Laa hawla wa laa quwwata illah billahil"aliyyil azhiimm," pasrah ku.
Jam dinding sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Aku masih berdiri di teras rumah ku tepat nya di lantai dua dengan perasaan khawatir menunggu kedatangan Yusuf.
Aku sungguh - sungguh tak akan mampu menjalani hidup kelak, dengan lelaki yang hanya memiliki kekayaan duniawi semata tanpa sedikit iman, dan taqwa di hati bila akhir nya aku harus menerima pinangan dari lelaki pilihan bunda.
Di saat dia sedang galau - galau nya memikir kan nasib nya yang akan terjadi di kemudian hari, tanpa sengaja dari arah kejauhan dia melihat yusuf sedang berjalan dengan tergesa - tergesa sesekali berlari kecil untuk menghemat waktu berjalan kaki nya.
💖💖💖
__ADS_1
Bersambung.........( Jangan lupa like, vote, comment dan beri bintang lima pada karya aku. Makasih.)