
"Akan selalu ada hari - hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu memghantam kita. Tapi akan selalu ada hari - hari berikut nya, memulai bab yang baru bersama mentari terbit."
......................................
Kini mobil ku sudah memasuki wilayah perusahaan tersebut. Setelah mobil terparkir aku pun segera turun dan masuk kedalam.
"Assalamualaikum ... pagi mbak," sapa ku pada resepsionis yang jaga pagi ini seraya tersenyum.
"waalaikumussalam, selamat pagi mbak. Ada yang bisa saya bantu," kata resepsionis itu sambil menangkupkan kedua tangan nya di dada dan kepala sedikit merunduk kedepan sebagai ungkapan selamat datang.
"Begini mbak saya mau tanya di sini ada lowongan pekerjaan tidak."
"Maaf mbak di sini lowongan sudah pada penuh semua."
"Oh iya mbak makasih," kata ku kemudian berbalik hendak pergi meninggal kan kantor itu.
Tapi belum ku langkah kan kaki ku ke luar tiba - tiba dari arah berlawanan ada seseorang yang memanggilku. Lalu mendekat ke arah ku.
"Vivia putri utami," kata pria itu yang kini berdiri tepat beberapa jengkal di hadapan ku.
"Abid Prayoga."
"Kamu ngapain disini dan apa kabar. Aku minta maaf karena waktu suami kamu meninggal aku tidak sempat datang karena kebetulan aku sedang berada di luar negri,"
__ADS_1
kata pria itu sembari mengulurkan tangan nya hendak berjabat tangan.
"Aku kesini mau melamar pekerjaan. Alhamdulillah aku sehat seperti yang kamu lihat. Tidak apa - apa aku ma,lum kalau kamu orang sibuk," kata ku seraya menangkup kan kedua tangan ku di dada.
Dia pun tersenyum kemudian menarik tangan nya kembali.
"Oh iya biar ngomong nya enak mari kita bicara di ruangan ku saja," katanya kemudian berlalu pergi dengan sekretaris nya. Dan aku pun mengikuti nya dari belakang.
Kini kami sudah berada di depan lift sembari menunggu lift terbuka kuedarkan pandangan ku keseluruh ruangan desain minimalis, dengan berbagai jenis bunga yang di letak kan di pojok ruangan dan meja - meja menambah kesan hidup dan tidak membosan kan bagi siapa pun yang melihat nya.
Aku kagum dengan desain interior kantor ini.
"Silahkan masuk," kata pria yang berjas biru malam senada dengan dasi bergaris putih.
Setelah di dalam aku pun kembali takjub dengan desain kantor minimalis bernuansa putih tulang.
"Silahkan duduk."
Akupun duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu. Hening sejenak ... sibuk dengan pemikiran masing - masing.
__ADS_1
"Jadi ini kantor kamu, Bid, yang anak cabang nya sudah tersebar di mana - mana dan sudah memiliki 90 anak cabang di kota - kota besar," Kata ku kagum hampir tidak percaya.
"Ini bukan punya ku. Aku hanya meneruskan perusahaan milik keluarga?" jawab nya.
"Oh iya hampir lupa. Mau minum apa nih?"
"Apa aja boleh," jawabku seraya menyunggingkan senyum tipis.
"Alan." yang di panggil pun mendekat kemudian bertanya, "Ada apa tuan?"
"Siapkan dua buah teh hangat sekaligus cemilan nya!"
"Baik tuan," kata nya seraya berlalu pergi dan menghilang di balik pintu.
Beberapa menit kemudian kini dia sudah kembali dengan, nampan berisi dua gelas teh hangat dan cemilan di dalam toples.
"Silahkan diminum," kata nya sambil meletakkan gelas dan toples ke atas meja.
"Oh iya bagaimana kalau kamu, aku rekomendasikan bekerja di butik milik mama ku saja karena kebetulan di sini belum ada lowongan pekerjaan," kata nya sembari menyambar gelas berisi teh di atas meja kemudian meminum nya.
💖💖
Bersambung....( silahkan tinggal kan jejak )
__ADS_1