
"Cinta itu bukan melemahkan hati. Bukan membawa putus asa. Bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tapi cinta menghidup kan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan."
...............................
Mereka pun menuruni anak tangga setelah sampai di bawah semua mata tertuju pada Vivi. Ada yang bergumam kagum akan kecantikan nya, dan masih banyak lagi pujian - pujian yang di lontar kan untuk Vivi tentu nya pujian - pujian yang bersifat positif.
Kini Vivi sudah duduk di samping suaminya, dan menyematkan di jari manisnya cincin pernikahan mereka. Vivi pun mencium punggung tangan suami nya, lalu kedua ibu dan ayah mertuanya, dan yang terakhir bunda nya. Yusuf pun melakukan hal yang sama dengan Vivi.
walau sebenar nya dalam hati sang Bunda berkata, "Tidak." tapi tidak mungkin di tampakan di depan banyak orang ke tidak sukaannya itu terutama di depan besannya.
Dia tetap tersenyum walau senyum kesan terpaksa. Tamu kini, satu persatu meninggalkan kediaman Bunda Vivi. Termasuk kedua orang tua Yusuf beserta sanak familynya. Hingga tinggallah Vivi, Bunda, dan mas Yusuf dan mereka sama - sama sibuk dengan pemikiran masing - masing.
__ADS_1
Vivi berjanji dalam hati akan menjadi istri yang bisa mengantarkan suaminya menuju surga Allah, dan menjadi istri yang beriman yang bisa di jadikan teman oleh suaminya dalam setiap kesusahan dan kesedihan. Aku sudah siap dengan, semua rasa gado - gado yang akan dia jalani dalam kehidupan keluarganya bersama Yusuf.
**********************
Kini mereka sudah tinggal di rumah mereka sendiri, walau hanya rumah sederhana tapi setidaknya mereka belajar untuk hidup mandiri.
Hari terus barganti hingga kini usia pernikahan mereka sudah menginjak usia ke lima bulan, dan usia kandungan vivi pun sudah memasuki usia lima bulan. Pernikahan yang ku jalani dengan ikhlas, dan bahagia walau aku hanya hidup pas - pasan dengan suami ku yang hanya jadi tukang jahit.
Pekerjaan ku sebagai istri tak menghalangi ku untuk menuntas kan kuliah ku sebagai seorang sarjana ekonomi. Hingga, di wisuda pun suami ku tetap setia menemani ku.
Semenjak aku menikah, dan memilih untuk hidup mandiri sejak itu pula hubungan ku, dan bunda ku merenggang. Bahkan, sang bunda pun tak pernah mengunjungi ku di rumah yang ku sebut sebagai istana kecil kebahagiaan.
__ADS_1
"Mas - mas kenapa? Kok wajah nya pucat?" Tanya ku yang saat itu tengah mengantarkan suami ku teh hangat, dan berdiri tepat di sisi kiri suami ku.
"Kalau mas sakit istirahat saja, jangan di paksa kerjanya nanti mas bisa sakit!" perintah ku mengkhawatir kan kondisi suami ku yang nampak kurang sehat seperti orang yang sedang anemia. Yusuf hanya diam memandangi istrinya dengan tatapan seperti ingin mengutarakan sesuatu yang sudah lama terpendam.
"Mas mencintai mu karena Allah." ujar Yusuf memandang ku seraya berdiri lalu mencium kening ku. Aku hanya tersenyum, dan tersipu dengan setiap untaian kasih sayang yang selalu yusuf berikan kepadaku.
"Kalau bayi kita nanti sudah lahir, dia pasti akan secantik bundanya."
Badannya begitu lemah, namun dia masih saja mencoba menghibur istrinya dengan gurauan kasih sayang.
"Hmmmm ... kalau Vivi pikir - pikir nih mas. Cantik itu memang anugerah yang tiada tara. Tapi jadi cantik itu resikonya besar sekali mas. Dalam do"a Vivi berharap, anak kita bisa lahir dengan sehat dan tanpa kekurangan satu apa pun. Biarlah wajahnya biasa - biasa aja tak secantik bundanya, namun hati iman dan taqwa nya kelak bisa setegar ayahnya."
💖💖💖
__ADS_1
Bersambung....
jangan lupa like, and comment, dan vote nya ya ....dan beri bintang lima. Terima kasih.