
Manager Berta pun keluar dari dalam ruang rapat diiringi Rania di belakang. Pada saat Rania keluar, Rania berpapasan dengan Ayden. "Aku sudah menjadi ketua." ujar Rania melipat kedua tangannya di dada.
Ayden pun tersenyum kemudian berucap, "Walau pun kamu ketua, tapi wakil ketua dan para direktur yang lain sudah mengambil alih manajemen hotel. Terlebih lagi semua data - data tentang sistem operasional hotel, pegawai, dan lain sebagainya ada di tangan ku."
Kemudian Ayden kembali melanjutkan kalimatnya dengan nada mengejek, "Apa yang bisa kamu capai dalam waktu 3 bulan?"
Dengan masih melipat kedua tangannya di dada Rania pun berucap, "Aku akan mengungkap orang macam apa kamu?"
"Hanya itu saja?"
Rania pun menunjuk wajah Ayden dengan jarinya kemudian berjalan mendekat lalu berucap, "Aku pastikan akan membuatmu membayar semua kejahatanmu?"
Ayden pun marah dan membawa Rania keluar dari ruangan lalu memaksa Rania untuk melihat blue dan mengatakan pada Rania kalau musuh Rania bukanlah dirinya melainkan tapi hotel itu.
Tempat di mana para pegawai bersembunyi dalam kegelapan, para direktur yang berbaring dengan mulut berbisa mereka, ratusan tamu yang datang dan pergi setiap hari.
"Orang yang harus mengurus itu semua adalah kamu yang duduk di kursi ketua. Jika kamu ingin menjadi ketua sejati maka pergilah dan lihatlah baik - baik," ujar Ayden seraya memegang kedua pundak Rania.
"Dan kamu juga harus selalu waspada karena saya belum menyerah," ujarnya kemudian berbalik pergi.
Ayden berucap dalam hati, "Kamu dan aku adalah musuh yang tak terelakan."
Setelah Ayden pergi, Rania melihat blue dari kejauhan. Dalam hatinya Rania berjanji akan selalu melindungi hotel blue, Rania juga berjanji akan mengungkapkan kebenaran tentang kematian Ayahnya.
******
Kini siang telah berganti malam.
Alvin datang kekamar Rania yang sedang sibuk menikmati aneka kue - kue. Dia ingin bermain dengan Alvin tapi, Alvin menolaknya.
Rania pun bingung ku kemudian berucap, "Kamu sekarang memihak Ayden atau saya?"
Masih tetap berdiri Alvinpun berucap, "Sekarang Nona adalah ketua dan saya hanya lah seorang pegawai biasa."
__ADS_1
Karena perbedaan status itulah, Alvin merasa sebaiknya mereka tidak terlalu berhubungan karena dia tidak mau merepotkan Rania.
Rania pun heran dan mengerutkan keningnya kemudian bertanya, "Apakah hubungan kita ini seprti hubungan seperti murid dan guru versi perhotelan?"
"Karena anda sekarang bukanlah tamu, jadi jika anda membutuhkan sesuatu, tolong jangan panggil saya. Silahkan hubungi kantor sekretariat saja," ujar Alvin dengan berbahasa formal.
Setelah Alvin selesai bicara, Rania pun berdiri lalu berjalan mendekati Alvin sambil menatap mata Alvin dan membuat Alvin langsung mundur dan gugup. Tiba - tiba Rania memegang wajah Alvin, sesaat Rania menatap wajah Alvin, lalu....
DUK!!! Rania menjedotkan kepalanya kepada Alvin sampai membuat Alvin berteriak kesakitan. Tapi, Rania sangat senang dengan hasilnya, karena Alvin sudah seperti Alvin yang sebenarnya.
Kemudian Rania berkata, "Pokoknya aku tidak mau tau, pokoknya mulai sekarang kalau kamu di butuhkan harus segera datang, kalau disuruh pergi ya harus pergi."
Tapi, Alvin tetap pada pendiriannya. Rania harus melaporkan semua yang di butuhkan nya pada kantor sekretariat.
"Silahkan istirahat," ujar Alvin seraya berlalu pergi.
Setelah Alvin pergi, Rania jadi semakin kesepian. Kemudian berucap dalam hati, "Kalau kamu seperti itu, lalu apa yang harus aku lakukan? Dengan siapa aku harus berbicara?".
Keesokan harinya.
Rania berencana mau pulang hari ini kekampung halamannya, dia sudah sangat merindukan Bundanya setelah berbulan - bulan dia tinggalkan.
Saat sedang berkemas Alvin masuk kekamar Rania membawakan sarapan pagi untuk Rania. Alvin pun meletakkan sarapan Rania di atas meja lalu kemudian berjalan kearah Rania yang sibuk merapikan bajunya kedalam koper.
"Kamu mau kemana?" tanya Alvin seraya menatap Rania yang nampak sibuk dengan aktivitasnya.
Raniapun menoleh kearah Alvin tanpa menghentikan aktivitasnya, "Aku rencana mau pulang dulu kerumah, aku kangen dengan Bundaku."
"Kenapa jadi mendadak begini?"
"Ini tidak mendadak, karena memang sudah aku rancang benerapa hari yang lalu," ujar Rania seraya menutup kopernya.
"Lalu bagaimana dengan misimu?"
__ADS_1
Raniapun berjalan kearah sofa yang ada di kamar itu, lalu duduk disana diikuti Alvin di belakang.
"Aku akan menugaskanmu untuk menuntaskan semua yang aku perlukan untuk misi 3 bulan kedepan dan aku akan sms kamu apa saja yang harus kamu lakukan," ujarnya seraya meraih sarapan yang di bawakan tadi Alvin kemudian memakannya.
"Baiklah."
Kini Rania sudah menyelesaikan sarapannya dan segera meraih koper dan tas kecilnya. Tapi, Alvin lebih dulu meraih koper itu dan menariknya keluar dari kamar Rania diiringi Rania di belakang Alvin.
Orang - orang yang melihat itu, sungguh heran dan aneh.
Ada juga beberapa karyawan yang bertanya - tanya, bahkan ada yang bersorak gembira atas kepergian Rania yang mengatakan, kalau Rania hanya akan jadi penghalang bagi mereka itu untuk melancarkan misinya. Tapi, nyatanya mereka - mereka tidak perlu mengusir Rania karena tanpa diusir Rania pada akhirnya pergi sendiri.
Brawijaya yang melihat dari jauh pun berjalan mendekat kearah dimana Rania berdiri.
"Kamu mau kemana membawa koper itu?" tanya Brawijaya penuh dengan kepura - puraan.
Rania pun tersenyum, "Mungkin benar kalau disini bukanlah tempat saya yang sesungguhnya. Saya hanya membuat kekacauan di sini, jadi mulai hari ini Rania ingin meninggalkan hotel ini, dan jika besok atau lusa Rania kangen dengan hotel ini Rania masih bisa kembali kesini kan," ujar nya seraya menatap wajah Brawijaya.
"Oh tentu bisa ... bisa ... kapan pun kamu mau kemari pintu hotel selalu terbuka untuk siapa saja termasuk kamu," ujar nya seraya tersenyum kemenangan.
"Baiklah paman Rania pamit pulang dulu," ucapnya seraya berlalu pergi dengan diiringi Alvin dibelakang menyeret koper Rania.
Pada saat di pintu keluar Rania berpapasan dengan Ayden. Rania pun berucap, "Aku pergi belum tentu aku kalah, tapi aku pergi ingin memberikan kamu kesempatan lebih banyak untuk menikmati kemewahan, dan Fasilitias - fasilitas yang belum tentu bisa kamu nikmati di luar sana setelah kamu ku tendang keluar dari sini," ujar Rania seraya tersenyum kemudian malangkah pergi dan masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan Alvin sedari tadi.
💖💖💖
Teman - taman mari saling mendukung...
Terima kasih....
💖💖💖
__ADS_1