
Kini aku dan Farras sudah berada di kantin kantor. Setelah duduk, "Kamu mau minum apa?" tanya Farras seraya menatap ke aku. Aku pun tersenyum, "Tidak usah aku baru saja habis minum di luar sama teman ku tadi." ujar ku menolak secara halus.
"Ya sudah kalau tidak mau."
Setelah terdiam untuk beberapa saat, seraya melipat kedua tangan ku di atas meja, "Katanya tadi kamu mau bicara sesuatu sama aku, mau bicara apa?" tanya ku sudah tidak sabaran.
Farras berfikir sejenak serta garuk - garuk kepala kemudian berkata, "Mau ngomong apa ya? Lupa?" ujar nya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Ya sudah kalau tidak ada aku mau balik keruanganku. Buang - buang waktu ku saja," ujar ku yang kini sudah ambil ancang - ancang untuk segera berdiri.
"Tunggu," ujar Farras seraya ikut berdiri dan menahan ku agar tidak pergi.
"Ada apa?"
Farras pun berdiri dan berjalan kearah ku dan menggenggam tangan ku, "Kamu akan selalu memberiku kekuatan, sebelum atau setelah menikah. Karena itulah aku memilihmu untuk hidup hingga menua bersama. Maukah duhai cinta ku untuk kamu menjadi teman hidupku? Maukah kamu menjadi pendamping hidupku sampai usai waktu?" Aku tidak mengerti dengan apa yang bicarakan Farras dan untungnya di kantin kantor hanya ada aku dan dia dan beberapa karyawan yang lain yang kebetulan lewat dan duduk disana.
__ADS_1
"Kamu bicara apa? Aku tidak mengerti?" tanya ku heran dan tidak percaya dengan kata - kata yang baru Farras ucapkan dan aku hampir kegirangan dengan kata - katanya itu.
Blusss.....
"Ada apa dengan wajah mu Rania? Kok merah seperti kepiting rebus yang baru keluar dari dalam panci?"
Aku hanya bisa memegangi kedua belah pipiku dan bertanya, "Serius?" kemudian ku palingkan wajah ku ke arah kanan yang kebetulan kantin itu terbuat dari dinding kaca.
"Ada apa dengan jantungku? Kenapa terdetak begitu cepat? Padahal aku sedang tidak berlari marathon." Dan hatiku pun, tiba - tiba bergetar bahkan untuk berdiri saja aku kesusahan, "Apakah ini yang di sebut dengan getar karena kelaparan? Tapi kan aku baru saja makan. Apakah ini yang di sebut dengan getaran cinta yang membawa 200 kali lipat denyut jantung keseluruh tubuhku mengalahkan dua kali lipat denyut jantung orang normal ?" ujarku berdialog dalam hati.
Dengan PeDenya aku pun bertanya, "Kamu suka dengan ku? Sejak kapan?"
"Mau kah kamu menikah dengan ku? Bagaimana bagus tidak kata - kata ku? Aku ingin melamar kekasihku pujaan hatiku," ujarnya seraya tersenyum dan meminta pendapatku.
"Oh My Good ...." ujar ku dalam hati seraya menepuk jidatku. 😂😂😂
__ADS_1
Aku hanya diam terpaku. "Hai ... Rania ada apa dengan mu? Kok jadi aneh begini perasaan tadi kamu baik - baik saja deh?" ucap nya seraya menepuk - nepuk pundak ku.
Dengan wajah gugup dan muka pucat pasih, di tambah keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajah ayuku, "Tawaran untuk minum masih berlaku tidak? Kalau masih berlaku, tolong dong pesan kan teh es aku mau satu untuk mengadem kan hatiku yang sedang kacau balau?" seraya kembali duduk di kursi semula serta menahan rasa malu yang tiada taranya.
Tapi untungnya hanya Author dan pembaca yang tau bagaimana keadaan hati Rania untuk saat ini. 😂😂😂
"Baik bos, siap laksanakan." ujar Farras berlalu pergi menuju kasir untuk memesan minuman sesuai yang di pesan Rania.
...💖💖💖...
...Mari saling mendukung...
...Terima kasih...
__ADS_1
...💖💖💖...