
Aku masih mencoba tegar dalam tangisan ku. Aku masih bersimpuh di kaki bunda ku berharap dia akan merestui hubungan kami.
"Vivi, Bunda sama sekali tidak mengerti dengan jalan pemikiran kamu. Kamu ini bodoh, kamu mau hidup miskin hanya demi lelaki yang tak punya apa - apa di dunia ini. setan apa yang merasuki pikiran mu," kata Bunda ku.
Aku masih saja bersimpuh, walau telingaku panas mendengar kalimat cemooh yang keluar dari mulut bunda ku sendiri.
Dengan tatapan kosong dan dengan berat hati walau tidak ikhlas Bunda pun berkata,
"Baik lah jika itu mau mu, Bunda akan merestui hubungan kalian, tapi dengan satu syarat?"
Seketika itu aku pun berdiri dan menatap wajah bunda ku dengan pipi yang basah karena linangan air mata.
Di sisi lain Yusuf yang mendengar kata - kata calon mertua nya mengajukan syarat dia pun tak mampu menyembunyikan rasa penasaran nya.
"Bunda mau calon mu itu harus menyiap kan uang lima puluh juta sebagai mahar untuk mu," jelas Bunda sambil menatap wajah Yusuf.
Hening.
Suasana berubah jadi hening dengan seribu pertanyaan yang mungkin sedang berputar - putar ria dalam benak Yusuf.
__ADS_1
Sedang aku tidak habis fikir dengan persyaratan yang di ajukan oleh bunda ku. Aku harus pasrah jika memang Yusuf bukan jodoh ku, maka aku sudah siap bila Yusuf berkata tidak mampu memenuhi persyaratan yang di ajukan bunda ku.
Aku tahu persis jika penghasilan Yusuf yang hanya seorang guru ngaji dan tukang jahit rumahan hanya pas - pasan saja untuk mencukupi kehidupan dan biaya kuliah nya sendiri.
Aku tak mampu lagi menahan dan membendung yang ingin menetas atas perjuangan mendapatkan cinta seorang hamba yang mencintaiNya yang mungkin saja akan berakhir sia - sia.
Yusuf pun menatap bunda kemudian berkata,
"Baik Bu, saya akan penuhi persyaratan itu."
Aku tercengang dan tidak percaya dengan sikap yusuf yang berani menerima perayaratan bunda. Sebab aku tahu Yusuf mungkin harus menjahit siang dan malam dan mencari tambahan kerja yang lain demi mengumpul kan uang lima puluh juta.
Setelah bunda Vivi menghilang di balik pintu kamar, kini Yusuf pun undur diri tuk pulang kerumahnya.
"Mas, pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Vivi melepas kepergian Yusuf dengan do,a dan harapan semoga ilahi memberikan jalan dan petunjuk yang tepat.
__ADS_1
Di tempat yang lain
Kini Yusuf sudah tiba di rumah orang tuanya. Rumah sederhana namun mampu menyejuk kan hati. Rumah sederhana dimana dia dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh cinta kasih dari ke dua orang tuanya. Dia pun langsung pergi buat menemui Ayah dan Ibunya untuk membicarakan hal ini ke orang tuanya.
Setelah berada di depan pintu rumah dia pun langung mengetuk dan mengucap kan salam.
Tok....tok....tok....
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawaban dari dalam.
Tidak lama kemudian pintu rumah pun terbuka. Kini terlihat di depan Yusuf, seorang ibu yang belum terlalu tua pakai gamis serta jilbab panjang yang tak lain ada lah Ibu Salamah Ibu Yusuf.
💖💖💖
Bersambung.....
__ADS_1
Jangann lupa like, vote and comment nya ya. Makasih .....