
Kini Rania sudah di dalam kamarnya. Aku pun segera berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian yang baru,dan mengganti pakaian yang sementara aku pakai. Sesaat kemudian kini aku sudah mengganti pakaianku, dan duduk di sofa seraya bermain game.
Tok ... tok ... suara pintu di ketuk. Tidak kemudian nampaklah Alvin dari arah pintu dengan nampan di tangannya berjalan ke arah Rania.
"Nona ini makanannya."
"Letakkan saja disitu?" tanpa menoleh lawan bicaranya.
Setelah meletakkan nampan, Alvin pun berbalik dan ingin keluar dari kamar Rania. Tapi dia belum melangkah lebih jauh, Rania memanggilnya, "Kamu mau kemana?" tanya Rania tanpa menoleh kelawan bicaranya.
Alvin pun berusaha mencerna kata - kata Rania. Ngapain nih orang menahan saya disini. "Kamu mau kemana?" tanya Rania lagi.
"Saya mau keluar dan melanjutkan pekerjaan saya."
"Sebelum saya bilang keluar, kamu tidak akan kemana - mana."
"Baiklah."
Kini, Rania heboh sendiri dengan aktivitasnya tanpa memperdulikan Alvin yang dengan setianya berdiri disampingnya.
"Nona, makan dulu makananmu mumpung masih hangat."
__ADS_1
Rania tidak menggubris kata - kata Alvin. Rania masih sibuk dengan dunianya, kemudian berucap, "Aku hanya akan makan, jika kamu menyuapku!"
Tidak ada pilihan lain, Alvin pun menyambar makanan yang dia bawa barusan, dan menyuapkan kemulut Rania yang masih pada aktivitas nya.
Ayden yang kebetulan lewat didepan kamar Rania merasa penasaran dengan keributan apa yang terjadi didalam. Dia pun membuka pintu kamar Rania dengan Id cardnya.
Kini Ayden sudah berada di dalam kamar Rania dan melihat Rania sedang main game dan asyik sendiri pada dunianya tanpa menyadari kehadiran Ayden di kamarnya, dengan Alvin yang masih setia menyuap Rania makanan kemulutnya tanpa menoleh kearah mereka berdua.
Saat Alvin akan membuka suara, Ayden sudah lebih dulu menaikkan satu jari kebibirnya tanda tidak usah menegur, temani saja dia.
Ayden pun melangkan pergi dari kamar Rania.
Kini Ayden sudah berada di ruang kerja Ayah angkatnya.
Ayden pun berjalan kearah Ayahnya, dia berusaha meyakinkan Ayah nya kalau katakutannya Ayah tidak akan pernah terjadi, "Saya pastikan itu tidak akan pernah terjadi Ayah," ucap nya penuh percaya diri.
"Kamu memang selalu bisa Ayah andalkan." seraya menyunggingkan senyum licik di wajah yang kini sudah nampak keriput dan tua.
Dia membalik duduknya menghadap meja, lalu meraih foto yang ada di atas meja kerjanya. Disana nampak dua pemuda saling merangkul satu sama lain, Brawijaya pun berucap dalam hati sambil menyunggingkan senyum licik di bibirnya, "Tapi sayang nasib kita tidak pernah sama, kamu selalu berada di atasku, tapi kali ini aku akan mengambil semuanya perlahan - lahan dari mu."
💖💖💖
__ADS_1
Keesokan harinya di hotel blue di adakan rapat untuk membicarakan siapa yang akan menjadi perwakilan menerima penghargaan bergengsi yang didapatkan oleh hotel blue.
Para direktur dan yang lainnya kini sudah berada di ruang rapat, termasuk Brawijaya dan Ayden.
Ketika mereka akan memulai acara diskusi, tiba - tiba Rania datang dan langsung duduk di kursi kebesaran Ayahnya.
Ayden pun menoleh kearah Rania yang kini duduk di kursi kebesaran Ayah nya, sambil berputar - putar seperti anak kecil yang baru melihat kursi seperti itu.
Setelah puas bermain, Rania pun kemudian menghadap para peserta rapat dengan senyum yang mengembang di bibirnya, kemudian menoleh kearah Ayden, "Kursinya sangat empuk dan nyaman. Beli dimana sih kursinya?" ujarnya seraya memutar - mutar kan kursinya.
Ayden dengan menahan amarah dan mengepalkan tangannya, seraya menatap wajah Rania, "Bagi yang tidak memiliki kepentingan disini silahkan keluar! Kami mau membicarakan tentang siapa yang pantas mewakili dalam penerimaan piala bergengsi untuk hotel," ujarnya seraya menatap wajah anggota rapat.
"Jika kamu bertanya siapa yang pantas menerima penghargaan untuk hotel ini, tentunya aku lah orang yang lebih tepat untuk mewakili hotel ini, karena aku adalah pewaris tunggal dari hotel ini."
Kini Ayden benar - benar marah dibuat oleh Rania, dia pun berdiri dan berjalan kearah Rania, lalu memegang tangannya dan meyeretnya keluar dari ruangan rapat, "Jika kamu berani sekali lagi berbuat onar disini, saya tidak akan segan - segan menendangmu keluar dari hotel ini," ucapnya seraya berlalu pergi dari hadapan Rania yang kini sudah menitikkan air matanya.
Sebenarnya ada perasaan tidak tega dalam hati Ayden memperlakukan Rania seperti itu, tapi demi ambisi dia harus melakukannya agar Rania bertambah benci padanya.
💖💖💖
Teman - teman mari saling mendukung ya....
__ADS_1
Terima kasih.....
💖💖💖