TUNGGU AKU DI PINTU SURGA

TUNGGU AKU DI PINTU SURGA
TAPS 2. Bagian 36


__ADS_3

Pagi itu, "Rania, Rania ayo bangun. Kamu tidak pergi kekantor hari ini?" teriak sang Bunda di kuping anak gadisnya itu. Dengan suara khas bangun tidur Raniapun menggeliat seperti cacing kepanasan, lalu berucap dengan wajah masih bertutup selimut,


"Apa sih bun, pagi - pagi dah ribut aja? Bunda punya hobi baru ya, neriaki kuping Rania?"


"Sudah, sudah bunda tidak mau dengar alasan apa - apa dari kamu, ayo cepat buruan bangun ini sudah siang. Kata orang tua dulu anak gadis itu tidak boleh bangun kesiangan nanti rejekinya di ambil ayam?" ujar Bunda Vivi seraya berjalan kearah jendela, dan membuka tirai jendela agar cahaya gelap yang ada didalam kamar berubah jadi terang.


Rania masih dengan menutup wajahnya dengan selimut, "Bunda kita ini hidup di zaman modern, dan serba digital orang jaman sekarang mana ada yang mengenal begituan."


Perlahan - lahan bangun dan duduk di atas kasurnya kemudian meregangkan otot - otot badannya yang terasa kaku.


"Sudah - sudah bunda tidak mau mendengar apa - apa lagi dari kamu. Ayo cepat bangun dan segeralah mandi, Bunda tunggu kamu dibawah untuk sarapan," ujar Bunda seraya berjalan dan menghampiri putri sematawayangnya itu lalu mengusap - usap kepala putrinya itu kemudian berlalu pergi.


Selepas bundanya pergi Raniapun beranjak dari tempat tidurnya, dan merapikan segera tempat tidurnya lalu menyambar handuk yang dia letakkan di gantungan baju yang ada di dalam lemari. Sesaat kemudian kini Rania sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi dan siap melakukan ritual mandinya.

__ADS_1


Dilantai bawah.


Kini bunda Vivi sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk putrinya, dan mengaturnya di atas meja sedemikian rupa.


"Beres," gumam Bunda dalam hati.


Dua puluh menit kemudian, kini Rania sudah nampak di ambang pintu dapur berjalan dengan santai kearah meja makan dimana bundanya berada sedang menunggunya.


"Pagi, Bun." sapa Rania seraya berjalan, dan menghampiri bundanya yang duduk di kursi kemudian mencium pipi Bundanya.


Tidak lama kemudian kini Rania sudah menyelesaikan sarapannya.


"Bund, Nia berangkat kerja dulu ya," ujar Rania seraya berdiri dan berjalan kearah Bundanya untuk mencium punggung tangan sang bunda.

__ADS_1


"Hati - hati dijalan ya sayang, nyetirnya jangan ngebut - ngebut!" pesan sang Bunda.


"Insya Allah Bund, Assalamualaikum," ujar ku seraya berlalu pergi.


"Waalaikumsalam," ujar Bunda Vivi.


Kini Rania sudah berada di dalam mobil, dan siap melajukan mobilnya keperusahaan yang di wariskan almarhum ayahnya. Tidak butuh waktu lama kini Rania sudah memasuki halaman perusahaan yang kini menjadi tanggung jawab Rania, semenjak semua di wariskan oleh sang kakek dari ayahnya yang sudah meninggal semenjak dia masih kecil.


Kini Rania sudah memarkir mobilnya di parkiran khusus buat petinggi - petinggi perusahaan. Walaupun dia termasuk orang berada tapi dia tidak sombong bahkan dia tidak akan sungkan - sungkan menolong orang yang kesusahaan. Diapun melangkah masuk kedalam. Setiap karyawan akan menundukan pandangan ketika Rania lewat. Semua orang menyukai dengan sifak dermawannya Rania tapi tidak sedikit juga yang membencinya, lantaran menurut mereka itu hanyalah kedok belaka. Kini Rania sudah tiba diruangannya. Dia pun segera mendudukan tubuhnya dikursi kebesarannya, dan merilexkan sejenak otot - ototnya sebelum memulai pekerjaannya yang kini menumpuk di atas meja.


💖💖💖


Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like , vote, komen, dan jangan lupa rate 5 jika suka. Terima kasih.

__ADS_1


💖💖💖


__ADS_2