
Kini aku sudah berada di ruang kerjaku.
Sambil berjalan mondari mandir menggerutuki kebodohan diriku yang ku lakukan di kantin kantor.
Tok ... tok ... tok ...
Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah pintu.
"Masuk."
"Ceklek," suara pintu di buka.
Bella pun masuk berjalan lebih jauh kedalam dan melihat Rania seperti orang yang sedang menahan kesal yang teramat sangat menyakitkan, "Rania ada apa dengan mu? Kenapa wajah seperti sedang ...."
"Stop.... jika kamu kesini hanya untuk menertawakan kebodohan apa yang baru saja aku lakukan, lebih baik kamu keluar dari ruangan ku saat ini juga sebelum kamu kutendang keluar dan gajihmu aku potong menjadi 5 bagian."
Bella yang mendengar penuturan bosnya itu, menjadi bingung kemana arah pembicaraan si Bos. "Dasar manusia aneh, bisa nya cuman mengancam. Untung kamu bos ku yang harus ku hormati coba bukan, sudah ku buat perkedel udang?" Bella mengoceh dalam hati.
"Ada apa dengan mu?" tanya Bella.
Dengan gugup dan terbata - bata, "Ah ... Hmmm ... tidak apa - apa, aku baru saja menonton FTV di televisi dan itu di alognya yang baru saja aku katakan sama kamu." ujar ku beralasan.
Bella pun melihat televisi berlayar datar yang terpasang didinding, "Mana FTV nya? Tv nya saja tidak menyala?"
Rania pun kembali gugup dan salah tingkah. "Ah ... itu ... Hmmm... Tv nya baru saja aku matikan."
"Oh ...." Bella hanya ber Oh ria.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini?"
"Kamu tidak mau pulang?"
"Memang nya ini sudah jam berapa?"
Bella pun menunjuk jam yang bertengger didinding di atas televisi 39 inch. Aku pun mengikuti arah tangan Bella. Disana tertulis 16.30 waktu setempat.
"Ini sudah jam pulang." ujar Bella kemudian.
"Oh ...."
Kini mereka sudah di lobi kantor. "Kamu mau pulang bawa mobil sendiri atau saya antar pulang?" tanya Bella dengan gaya bahasa formalnya.
Rania pun menatap Bella, "Ada apa dengan bahasa mu Bell? Baiklah aku mau pulang sendiri saja," ucap ku seraya berlalu pergi.
Kini aku sudah berada di dalam mobil dan siap melajukan mobil ku kejalan raya.
...************...
Di tempat yang lain di hotel blue, keadaan semakin sulit untuk di kendalikan. Pada saat aku mengemudikan mobil ku, tiba - tiba ponsel ku berdering, "Tut ... tut ... tut ..." Di layar tertulis, "Maura." "Tumben dia menelponku," ucapku dalam hati. Aku pun segera memakai headset bluetooth ku lalu merespon panggilan masuknya, "Ya ... ada apa?" tanya ku datar.
"Gawat," ucap Maura dari sebrang sana. Aku pun segera menepikan mobilku, "Maksud nya bagaimana? Aku tidak mengerti?"
Dengan gugup dan perlahan - lahan tapi pasti Maura pun menceritakan apa sebenarnya yang terjadi.
"Baiklah aku mengerti, malam ini juga aku akan kesana," ujar ku seraya menutup telepon dan melanjutkan kembali perjalanan pulang kerumah.
__ADS_1
...**********...
...Kini aku sudah di rumah...
"Bund, Bunda ... Bunda ...," panggilku namun tidak ada sahutan.
"Bunda pergi kemana? Pintu di biarkan terbuka lebar begini," tanya ku dalam hati.
"Ada apa teriak - teriak? Sudah lama pulangnya?" tanya Bunda yang datang dari pintu utama.
Aku pun menoleh keasal datangnya suara, "Bunda dari mana saja sih, pintu di biarkan terbuka lebar begini? Kalau ada maling masuk bagaimana?" tanya ku tanpa memberi kesempatan Bunda ku untuk berbicara.
"Oh ... itu Bunda dari tetangga sebelah, biasa Ibu - ibu Zaman Now kalau tidak ada kerjaan di rumah ya pergi ketetangga buat ngerumpi?" ucap Bunda jujur.
Aku pun hanya bisa geleng - geleng kepala, "Bunda...."
"Apa?" ucap Bunda Vivi seraya berjalan mendekat ke arah putri semata wayangnya itu.
"Tidak jadi. Rania kekamar dulu mau mandi badan Rania sudah gerah. Nanti kita bicara ada yang Rania ingin bicarakan sama Bunda," ucap ku seraya mencium pipi Bunda ku kemudian berlalu pergi.
...💖💖💖...
...Mari saling mendukung...
...Terima kasih...
__ADS_1
...💖💖💖...