
Kini aku sudah memasuki wilayah tempat kerja ku dan aku pun langsung menuju ruang kerja ku. Aku hanya duduk di kursi kerjaku tanpa melakukan apa pun. Kejadian lima tahun yang lalu kini kembali menari - manari di benak ku.
"Baiklah bu saya akan penuhi permintaan ibu untuk menyediakan mahar sebesar lima puluh juta."
Tanpa terasa butiran - butiran kristal kini jatuh membasahi pipi ku tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
"Mungkin benar kata bunda aku harus punya pendamping agar kejadian lima tahun yang lalu dapat terkikis, dan di ganti hari - hari bahagia bersama suamiku kelak dan raina putri kecil ku akan memiliki ayah sambung. Dan secara tidak langsung akan merasakan yang nama nya kasih sayang seorang ayah. kasih sayang yang belum pernah dia dapatkan selama hidup nya. Akhir nya aku dilema sendiri, di sisi lain aku mau mencoba membuka hati ku untuk pria lain tapi di sisi lain aku masih teramat sangat mencintai almarhum suamiku walaupun saat ini hanya do,a yang bisa aku panjatkan tanpa bisa menyentuh nya.
......................
"Biarlah semua berjalan dengan apa adanya. berlalu dengan semestinya, dan berakhir dengan seharus nya."
..........................................
__ADS_1
Tak terasa waktu sudah menjelang sore. Aku pun segera merapikan buku - buku dan yang lain nya yang berhamburan di atas meja ku dan memunguti sampah kertas yang aku buat yang berserakan di lantai. Setelah itu Ku langkah kan kaki ku segera keluar dari gedung tempat aku bekerja. Kini aku sudah di parkiran. Perlahan - lahan mobil ku bergerak menjauh dan menghilang di balik keramaian mobil yang sedang lalu lalang.
*****************
Di tempat lain.
Di rumah besar itu. Di ruang tamu bunda Vivi sedang melakukan panggilan telephone seluler sesekali mengawasi cucu nya yang sedang bermain di dalam rumah.
"Iya jeng, jadi kapan kamu akan main kerumah sudah lama loh kita tidak ketemu, dan sekalian ajak anak mu siapa tau dia berjodoh dengan anak ku. Ya, dengan kata lain kita jodoh kan juga tidak apa - apa." kata bunda ku yang kala itu sedang melakukan komonikasi.
"Aku tunggu loh jeng." seraya memutus sambungan telephone nya.
Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar percakapan antara bunda, dan orang yang ada di dalam telp di balik pintu rumah ku yang kebetulan tidak tertutup.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu berdiri di situ?" kata bunda yang baru menyadari kehadiran ku di rumah itu.
"Sejak tadi." kata ku tanpa ekspresi kemudian melangkahkan kaki ku masuk ke dalam rumah menuju putri ku yang sedang bermain di lantai.
"Sayang udah sore. Main nya udahan dulu ya." kata ku yang sudah berdiri tepat di hadapan Rania.
"Bunda sudah pulang." kata Rania seraya tersenyum dan berdiri menampil kan lesung pipi kanan kiri dan gigi ompong memeluk ku walau hanya sebatas paha saja.
"Kamu pasti belum mandi. Ayo bunda bawa kamu kemar." kata ku yang sudah memegang tangan nya dan mengajak nya pergi dari sana.
Kami pun berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Tapi belum jauh aku melangkah, "Vi, sabtu ini akan ada teman bunda dan anak nya yang akan datang bertamu kerumah kita. Bunda harap kamu mau menemui mereka dan bunda sudah merencanakan akan menjodoh kan kamu dengan dia." kata bunda lalu berdiri dari duduk nya kemudian melangkah pergi, dan menghilang di balik pintu kamar nya yang terletak di lantai satu.
💖💖💖
__ADS_1
Bersambung.......( Jangan lupa like, Vote, comment and beri bintang lima pada karya author. Terima kasih )