
"Malam ini aku sangat merindukan mu. Untuk alasan tertentu. Air mata membahasahi wajah ku ketika aku mengenang mu dalam hatiku."
.................................
Aku pun meletakkan kembali gelasku ke atas meja, kemudian berucap, "Baik lah jika itu mau mu. Aku menunggu kabar baik dari kamu saja. Kalau begitu aku pamit pulang dulu."
Lalu beranjak dari tempat duduk ku kemudian berjalan mendekati pintu, "Tunggu!"
Aku pun berhenti kemudian menoleh kebelakang lalu bertanya, "Ada apa?"
"Bagaimana cara nya aku menghubungi mu jika kamu tidak meninggal kan no ponsel atau apa gitu." kata nya seraya merogoh ponsel dari dalam kantong celana nya kemudian menyodorkan ke aku.
"085245******" Baik lah aku pulang dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumusalam."
Kini aku sudah berada di dalam mobil siap melajukan mobil ku kejalan raya menuju pulang kerumah. Beberapa menit kemudian kini aku sudah memasuki pekarangan rumah ku m. Aku pun segera memarkirkan mobil ku lalu turun dan segera ku langkah kan kaki ku menuju pintu utama yang kebetulan tidak tertutup.
"Assalamualaikum," salam ku tanpa menunggu jawaban dari dalam dan langsung masuk.
__ADS_1
"Bunda ... Bunda," kata putri kecil ku merentangkan kedua tangan nya berlari kearah ku.
"Stop."
"Jangan dekat - dekat dengan bunda, badan bunda kotor baru datang dari luar, Bunda kekamar dulu sebentar buat cuci badan dan ganti baju," seraya berlalu pergi, tanpa memperduliakan mata putri nya yang kini sudah berkaca - kaca. Omah yang melihat itu dari balik dinding dapur kemudian berjalan mendekat kearah Rania, "Udah dong sayang jangan cemberut, dan jangan menangis ntar cantik nya ilang lo!" kata omah menghibur dan diusapnya butiran - butiran kristal putih yang kini membasahi pipi cucu nya.
"Iya omah," jawab Rania singkat.
"Ya udah yo sayang kita kedapur buat makan siang tadi omah udah masak makanan kesukaan mu."
Kini Rania dan omah sudah berada di meja makan pada saat mereka tengah menikmati makan siang Vivi pun datang ke meja makan dan duduk di samping putri nya. Tidak ada perbincangan di antara mereka hanya dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Kini siang sudah berganti malam.
Kini mereka sudah menyelesaikan makan malam nya.
"Bunda keruang keluarga aja ya bawa Rania biar kan Vivi yang membereskan ini," kata ku sembari memunguti piring kotor di atas meja dan meletakkan nya di westafel Kemudian mencuci nya.
"Ok."
__ADS_1
Kini aku sudah bergabung dengan mereka.
Rania sibuk dengan dunia nya sementara bunda sibuk membaca majalah.
"Vi," kata Bunda sembari meletakan majalah di atas meja.
"Apa tidak sebaik nya kamu menikah lagi, biar kamu memiliki keluarga untuh dan Rania bisa merasakan kasih sayang seorang ayah," kata bunda yang kini menatap ke arah putri semata wayang nya itu yang kini duduk di samping nya.
Vivi pun menoleh ke arah bunda kemudian berkata, "Bun, Vivi masih sangat mencintai mas yusuf meski kini mas Yusuf sudah tidak berada di samping Vivi lagi," kini butiran kristal bening sudah membasahi pipiku. Tidak mau terlarut dalam kesedihan aku pun berdiri dan berlalu dari hadapan bundaku menuju kamar ku.
Di lantai dua.
Di balkon kamar kini aku berdiri. Ku tatap langit malam aku berharap kamu tersenyum di sana. Kamu baik - baik saja masih dengan rasa mu dulu yang pernah ada pada ku. Aku tidak ingin kamu merasa sakit disana, karena aku menyayangi mu. Jika kamu melihat ku saat ini. Aku hanya ingin kamu dengarkan saja ucapan ku, "Sayang, tetap lah menjadi imam ku, jangan khawatirkan aku, aku baik - baik saja, aku akan selalu mencintai mu."
Kebahagiaan ku saat ini adalah mencintai mu walau hanya dalam hati tanpa ucap dan sikap kita lagi. Itu sudah lebih dari cukup karena aku tau hanya alam kita yang berbeda tapi cinta kita masih tetap sama. Kini air mata ku sudah tidak bisa ku bendung lagi aku pun terpuruk ke lantai dan menangis sejadi - jadi nya, "Mas aku kangen ... bisakah kamu melihat ku dari sana. Kalau saat ini sungguh aku sangat merindu kan mu," ucap ku lirih.
💖💖💖
Bersambung...........jangan lupa like, vote, comment dan beri bintang lima pada karya aku . Makasih....
__ADS_1