
Ikatan dalam batin ini sungguh luar biasa dan kuat yang kurasakan. Kamu dan aku adalah cinta sejati yang di ridhoi oleh Allah. Rasa ini milik-Nya, aku percaya Allah mengijinkan rasa ini terus ada untuk kita, walau pun sudah berbeda dunia. Aku akan terus kuat demi janji ku pada mu sebelum kamu pergi. Aku akan tetap menjadi wanita yang kamu kagumi dan aku masih selalu menebar kan senyuman yang kamu sukai.
............................
Lima bulan berlalu.
Hari ini adalah hari terakhir masa iddahku.
Sudah saat nya aku melanjutkan cita - cita ku yang belum terwujud. Melanjutkan karier ku dan tanpa merepotkan siapa pun tetika aku harus pergi. Kamu ( suamiku ) tidak akan pernah menjadi masa laluku. walau kini aku sudah melewati iddahku. Kamu tetap menjadi masa depanku di akhirat.
Di dunia ini aku akan menepati janji ku kepada mu. amanah mu tiga hari sebelum kepergian mu, termasuk janji melanjutkan hidup tegar tanpa mu jika kamu harus pergi lebih dulu. Ini hanya soal lebih pagi kamu pergi tapi tujuan pesawat kita sama. Semangat ku karena Allah dan kamu adalah masa depanku. bukan masa lalu ku. Dan tugas di dunia ini adalah melanjut kan perjuangan kita untuk tujuan kita kekal bersama. Aamiin.
Lima tahun kemudian.
__ADS_1
Dirumah ini rumah tempat aku di lahir kan dan di besarkan disini lah aku berada bersama putri kecilku. Di sebuah kamar yang terletak di lantai dua di situ lah aku duduk termenung di tepi tempat tidur ku. Aku masih belum percaya sepenuh nya jika saat ini kamu telah benar - benar meninggal kan ku untuk selama - lama nya. Lima tahun setelah kepergian mu. Aku masih belum bisa menghapus mu dari benak ku. Rintihan itu menyayat pilu sampai ke ulu hati ku, "Terlalu cepat kamu pergi, padahal begitu banyak cerita indah yang akan kita renda bersama. Mimpi - mimpi yang ingin kita raih. Dulu kita punya impian untuk punya rumah. Rumah yang akan kita singgahi bersama. Rumah yang akan di sebut anak - anak kita sebagai rumah orang tua mereka. Rumah yang akan di sebut menantu kita sebagai rumah mertua nya. Rumah megah dengan arsitektur yang unik. kamar - kamar besar lengkap dengan kamar mandi di dalam nya. Rumah yang sangat nyaman. Foto - foto keluarga terpajang rapi di dinding ruang - ruang di rumah besar itu. Rumah sejuk seperti para penghuni di dalam nya. Ramah dan bersahabat, " Ya Allah mas ... rindu nya aku saat ini sama kamu," kata ku dalam hati dan tak terasa kini air mata ku pun sudah berjatuhan membasahi pipi ku.
Bunda yang menyaksikan itu dari balik pintu kini mendekat ke arahku dan memegang pundak ku, "Vi, kamu kenapa sayang?" tanya Bunda lalu duduk di samping ku.
Akupun tersentak dari lamunan ku. Ku palingkan wajahku lalu segera ku hapus air mataku dengan jari tangan ku. Bunda pun duduk di samping ku. Kemudian berucap sambil menggenggam tangan ku, "Vi, kalau kamu ada masalah cerita ke bunda siapa tau Bunda bisa membantu mu."
"Vivi tidak apa - apa, bun," jawabku.
"Sudah lah Vi, tidak usah berbohong sama bunda, atau jangan - jangan kamu ingat lagi sama Yusuf??"
Bunda juga pernah di posisi mu. Siap tidak siapa, mau atau pun tidak jika Allah sudah berkehendak apa yang bisa kita lakukan selain merelakan," kata Bunda menasehati sesekali mengelus - elus kepala ku.
"Bunda ....bunda rania lapar," kata putri ku yang kini sudah berada di depan ku.
__ADS_1
Segera ku hapus air mataku. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan putri ku, "Kamu lapar ya sayang?"
"Iya Bun ... Rania lapar," sambil memegang perut mungil nya.
"Rania sayang makan nya sama omah saja ya. Biar kan, Bunda istirahat di kamar!" kata omah sambil melirik ke Vivi kemudian menatap Rania.
"Bunda sakit ya omah?" tanya Rania dengan wajah polosnya sambil menatap wajah omah.
"Bunda tidak sakit sayang hanya saja bunda tiba - tiba tidak enak badan," jawab ku berbohong.
💖💖💖
Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like, vote, komen dan jangan lupa rate 5 ya.
__ADS_1
Terima kasih.
💖💖