TUNGGU AKU DI PINTU SURGA

TUNGGU AKU DI PINTU SURGA
TAPS 2. Bagian 62.


__ADS_3

Aku tidak mau menerima keputusan manager Berta begitu saja, bahkan sekalipun aku sudah di berhentikan dari posisi ketua tapi aku masih pemegang saham terbesar di blue.


"Dan ingat saya berjanji pada kalian semua yang ada di sini kalau saya akan segera memecat kalian semuanya yang hadir dalam rapat hari ini."


Namun manager Berta hanya diam menanggapi ancaman ku karena dibalik diamnya ada sesuatu yang dia sembunyikan dari aku.


Mereka pun berjalan keluar dari ruangan rapat. Setelah berada di luar seorang pria berbadan tinggi, berjas biru malam, berjalan menghampiri di mana kami semua sedang berdiri dan di tangan pria itu membawa sebuah surat kepada Manager Berta, entah sura apa itu.


"Kamu mau tau surat apa ini," seraya menunjukan kepada ku dan Ayden. Sejenak terdiam, kemudian manager Berta meneruskan kata - katanya, "Ini adalah surat kontrak yang berisi tentang hutang pinjaman Tuan Abid kepada ku dan anak ku dengan saham sebagai jaminan."


Ayden pun mengambil surat kontrak dari tangan manager Berta dengan sangat kasar, lalu kemudian membacanya. Sementara aku tak bisa berkata apa - apa, selain dengan mata yang berkaca dan hampir tak percaya jika Ayahku pernah melakukan itu.


"Hutang pinjaman itu di setorkan kereking Tua Abid secara langsung dan sudah jatuh temlo kemarin." ujar Manager Berta kemudian.


"Rania ... Rania kamu tidak akan pernah sanggup untuk untuk membayar hutang itu," gumam pria yang ada di samping Manager Berta yang bernama Loman.


"Aku akan mengajukan gugatan resmi ke pengadilan," ujar Loman kemudian seraya menyunggingkan senyum kemenangan di bibirnya.


"Kalau boleh aku kasih saran sama kamu," seraya menatap ku dengan tatapan penuh kemenangan, "Sebaiknya kamu segera melunasi semua hutang - hutang Ayah mu dengan menyerahkan semua harta warisanmu."


"Dasar wanita gila! Kalian semua gila," ujar Ku dengan geram seraya mengambil surat kontrak dari tangan Ayden dan melemparkan surat itu kewajah manager Berta.


Karena aku sudah mulai menggila, Ayden cepat - cepat menyeret ku pergi. Sementara aku sendiri berusaha melepaskan genggaman tangan Ayden sambil berteriak layaknya orang gila.


Setelah aku dan Ayden sampai diluar, aku masih saja berteriak marah, "Siapa kamu!? Kenapa kamu menghentikanku? Memangnya kamu siapa berani berbuat seperti itu kepadaku?! bentak ku yang sudah benar - benar habis kesabaran.

__ADS_1


Ayden berusaha meminta aku untuk tetap tenang dan berfikir lebih rasional, tapi aku sama sekali tidak bisa tenang dan terus berteriak mengatai semua orang yang ada di hotel ini sebagai orang gila. Emosi ku membuat Ayden menjadi ikut emosi.


Ayden pun berteriak, "Aku kan sudah bilang untuk tidak mempercayai semua orang."


"Aku sudah lelah mendengar kata - kata itu, karena kata - kata itu yang telah aku dengar semenjak menginjakkan kaki di blue. Dan kata - kata itu juga yang sering di ucapkan oleh Manager Berta." ujar ku kemudian.


Ayden pun berusaha memegang bahuku untuk menenangkan ku tapi aku langsung menampiknya tangannya dengan kasar, seraya menunjuk wajah Ayden, "Kamu, Brawijaya dan Manager Berta, semua sama."


Aku pun pergi meninggalkan Ayden dengan rasa kecewa, sakit dan hancur bersatu menjadi satu seperti permen nano - nano ramai rasanya.


Di tengah jalan aku bertemu dengan Maura. "Maura aku mau minta tolong! Hubungi semua direktur karena aku akan segera melaksanakan rapat dewan direksi dadakan!" Kemudian aku pun pergi meninggalkan Maura setelah berkata begitu.


Aku pun pergi menemui Hilda di ruangannya.


Hilda yang kaget melihatku tiba - tiba berada di runangannya, dia pun berdiri kemudian berucap, "Utuk apa kamu kesini?"


"Kalau aku tidak mau bantu kamu bagaimana?"


Di tempat yang lain.


Di kantor Ayden, Dia sedang berbicara kepada orang kepercayaannya mengenai surat kontrak hutang yang menurutnya tidak ada cela.


Sebelum Maura melaksanakan perintah Rania, dia pun segera menemui Ayden di ruangannya dan memberitahukan perintah Rania untuk mengumpulkan para direktur dalam waktu dua jam.


Saat aku keluar dari ruangan Hilda, di jalan aku berpapasan dengan lamon, "Dasar ******** terkutuk, " maki ku pada Lamon.

__ADS_1


Kemudian aku pergi menuju ruanganku.


Di tempat yang lain.


Di meja resepsionis karyawan yang lain sedang menggosipkan masalah pemberhentian ku dari jabatan ketua. Alvin yang kebetulan lewat dan mendengar, dia pun segera menuju keruangan ku.


Setelah Alvin berada di dalam ruangan ku. Dia pun berucap, "Anda adalah satu - satunya ketua dihotel ini."


Dengan wajah sendu,"Terima kasih, karena kamu selalu mendukung aku."


Kemudian aku pun pergi meninggalkan Alvin dan menuju ruang rapat.


Setelah tiba di sana orang satu - satunya yang hadir hanyalah manager Berta.


Aku pun duduk berhadapan dengan manager Berta, "Apakah kamu memang mendekatiku dan berada disisiku sejak awal." tanya ku seraya menatap wajah manager Berta.


Dengan senyum manager Berta pun berucap, "Kamu jangan lupa yang datang kepadaku adalah kamu dan kamu juga yang datang kepadaku untuk meminta bantuan."


"Aku tidak akan pernah memaafkan mu," ujar ku.


"Aku sama sekali tidak perduli karena kamu jatuh akibat ulahmu sendiri. Selain meratapi cinta, apa yang pernah kamu lakukan dengan jabatanmu itu."


...❤❤❤...


...Mari saling mendukung...

__ADS_1


...Terima kasih...


...❤❤❤...


__ADS_2