
Setelah melewati sore yang penuh dengan drama, kini aku bingung bagaimana cara ku untuk menyampaikan maksud ku ke Bunda kalau aku mau berangkat malam ini juga ke kota X.
"Bagaimana caraku mengatakan sama Bunda? Kalau saat ini juga aku harus pergi?" gumamku dalam hati.
Setelah beberapa saat terdiam dan sibuk dengan pemikiran masing - masing, Bunda Vivi yang nampak Anaknya duduk gelisah seperti sedang ada yang di sembunyikan, "Ra, kamu kenapa? Kok bengong begitu?" tanya Bunda.
Rania pun menoleh kearah sang Bunda dan menggelengkan kepapanya. "Bunda tau, jadi tidak usah berbohong sama Bunda. Cepat katakan ada apa?"
Dengan membuang nafas kasar, "Rania harus pergi sekarang Bund, Maura dari hotel menelpon tadi katanya ada klien dari luar yang akan mengadakan kontrak kerja dengan hotel kita. Rania ingin melihat langsung isi kontrak itu sebelum paman yang menandatanganinya."
Bunda diam sejenak dan berfikir, "Berangkatlah sayang, hati - hati di jalan ... Bunda tidak apa - apa di sini sendirian." ujar sang Bunda seraya mengelus kepala putrinya itu.
"Bunda boleh kok pergi dengan Rania kalau mau."
Sambil tersenyum Bunda menggeleng kan kepalanya kemudian berucap, "Bunda di rumah saja sayang, kamu pergi saja tidak usah khawatirkan Bunda disini. Lagi pula ini bukan yang pertama kan kamu tinggal bunda sendirian di rumah." Bunda meyakinkan sang putri.
"Baiklah tunggu sebentar," ujar ku seraya mengeluarkan ponselku dari dalam kantong gamis yang ku kenakan, dan segera ku mainkan jempolku disana. Sesaat kemudian....
"Tut ... tut ... tut ...." sesaat kemudian.
"Hallo," ujar orang dari seberang sana.
"Hallo, Bell bisa minta tolong sekarang," ujar ku kemudian.
"Apa itu?"
"Aku punya Pr untuk kamu kerjakan saat ini juga. Tolong carikan aku PRT, tukang kebun, 2 supir, Juru masak yang sekalian bisa ngurus rumah dan satu baby sitter biar ada yang menemani Bunda 24 jam, ingat jangan terlalu tua dan jangan terlalu muda. Kalau sudah dapat suruh langsung menuju kerumah." ujar ku seraya memutuskan sambungan telepon sepihak.
"Dasar, untung kamu temanku," gerutu Bella dalam hati setelah mendapat telepon dari Rania.
Dia pun segera menghubungi agen yang biasa menyalurkan pembantu terbaik yang ada dikota itu.
__ADS_1
Selang beberapa saat, Pr Bella pun selesai. "Bun, ayo kita duduk di teras menunggu mereka semuanya!" ajakku pada Bunda.
Bunda hanya menganggukan kepala. Dan kami pun berdiri bersama - sama dan melangkahkan kaki keluar dari kamar bersama - sama.
Kini kami sudah duduk di kursi yang ada di teras rumah.
"Katanya tadi kamu mau pergi ke kota X, kenapa belum siap - siap?" tanya Bunda.
"Nanti setelah PRT itu datang."
"Nanti kamu kemalam di jalan."
Aku pun menoleh kearah sang Bunda, "Bunda, Rania berangkat tidak sendirian. Rania berangkat dengan supir."
Bunda hanya bisa ber oh ria.
Beberapa saat kemudian kini yang di tunggu sudah datang dan sudah saling memperkenalkan diri.
"Semoga kalian betah bekerja dengan saya di rumah ini dan kamar - kamar kalian ada di belakang, silahkan jalan lurus kedepan lalu belok kiri."
"Rania, kok banyak banget kamu menyewa PRT?"
"Tidak apa - apa Bunda," ucapku seraya mengelus - elus punggung tangan Bundaku.
"Oh iya Bund, Rania mau kekamar dulu mau mempersiapkan keperluan yang mau Rania bawa."
Sebelum Rania melangkah pergi, "Pak supir ... pak supir ...." panggil Rania.
Datang lah seorang pemuda yang jika di kira - kira umurnya mungkin sekitaran 30 tahun.
"Apa Nona memanggil saya?" tanyanya dengan sopan.
__ADS_1
"Siapkan mobil, aku mau kita berangkat sekarang kekota X."
"Baik, Nona," ucap nya sopan searaya berlalu pergi.
...💖💖💖...
...Mari saling mendukung...
__ADS_1
...Terima kasih...
...💖💖💖...