
Kini aku dan supir baruku sudah berada di jalan menuju kota X. Setelah melewati perjalanan selama berjam - jam akhir nya kami tiba di kota X dan langsung menuju Hotel Blue.
Kini mobilku sudah memasuki halaman hotel blue. Noah menyambutku dan membuka pintu mobil untukku.
"Selamat malam dan selamat datang Nona," ujar Noah sopan seraya membungkukan badannya.
Aku hanya menganggukan kepalaku sebagai jawabannya. Berhubung ini sudah larut malam, jadi hotel dalam keadaan sepi dan hanya beberapa orang saja yang masih berlalu lalang.
"Noah, tolong siapkan satu buah kamar untuk supi saya."
"Baik Nona."
"Dan satu lagi, tidak usah ngomong ke orang - orang kalau aku sekarang ada disini."
"Baik Nona, saya mengerti."
Ku langkahkan kakiku segera masuk kedalam hotel dan langsung menuju kamar yang sebelumnya pernah aku pesan.
Kini aku sudah di kamar, dan segera ku ganti pakaianku dengan yang lain. Tiba - tiba, "Kruk... kruk ... kruk ...." bunyi cacing di perut ku yang sedang konser minta segera diisi dengan makanan.
"Sial, ini perut pake acara lapar lagi," gumam ku dalam hati. Aku menggerutuki kebodohanku karena kenapa tidak dari tadi aku makan sebelum tiba di hotel.
"Mau minta tolong sama siapa ya?" tanya ku pada diri sendiri seraya memegangi serutku yang kian tidak bisa di ajak kompromi.
Aku pun segera meraih tas punggunggu, dan mencari sesuatu disana. Setelah menemukannya aku pun segera memainkan jariku disana dengan sangat lincahnya.
"Tut ... tut ... tut ...." bunyi sambungan telepon. Aku menghubungi seseorang dan berharap dia belum pulas tertidur dalam alam mimpinya.
"Hallo ...." dengan suara khas bangun tidur.
"Hallo ... maaf menganggu."
"Hmmm ... ada apa?"
"Aku lapar, masakin!"
__ADS_1
"Memangnya kamu ada di mana?" dengan masih suara berat seperti sedang menahan kantuk.
"Ada di kamarlah."
"Iya Rania aku juga tau kalau kamu ada di kamar. Tidak mungkin kamu ada di jalanan malam - malam begini. Dan tidak mungkin juga kamu bergentayangan di mana - mana secara kamu bukan hantu tapi manusia. Jadi, cepat kata kan kamu ada di mana?" dengan sedikit emosi akibat Rania yang masih bercanda.
"Iya ... iya ... ya aku katakan, aku sekarang ada di hotel."
Sontak Alvin bangun dari tidurnya, dan matanya yang sedari tadi menahan kantuk dan tersisa hanya 5 watt kini mendadak terang benderang.
"Serius?"
"Ya ... aku serius."
"Kalau begitu bagaimana kalau kita kedapur bersama - sama? Dan memasak bersama - sama?" tawar Alvin.
"Nggak... nggak... nanti tanganku kena minyak lagi, bla... bla... bla...."
"Tidak apa - apa, nanti aku ajari," ujar Alvin meyakinkan.
"Ya susah deh tunggu aku di dapur, aku kesana sekarang," sambil mematikan ponselnya dan berjalan keluar kamar hotel menuju dapur.
Dapur dalam keadaan sunyi, hanya ada beberapa orang yang masih ada di dapur dengan aktivitasnya masing - masing.
"Ada yang bisa di bantu Nona?" tanya pelayan itu yang kini sudah berdiri di depanku.
"Tidak ada. Saya lagi menunggu teman di sini," ucapku lagi.
Pelayan itupun pergi. Sembari menunggu Alvin aku pun memainkan ponselku, "Ada yang bisa di bantu Nona?" Tanpa melihat siapa yang bicara, "Sudah aku bilang kan tadi kalau aku tidak butuh bantuanmu. Sana pergi kerjakan tugas mu," ucapku ketus tanpa melihat lawan bicara.
"Yakin, tidak perlu bantuan."
"Suara itu," ucapku membatin dalam hati. Aku pun menghentikan aktivitasku dan menoleh keasal datangnya suara. Ku melihat seseorang yang ku kenal sedang bersandar diambang pintu seraya menyilang kedua tangannya di dada.
"Sudah lama datangnya?" tanya Alvin yang sudah berdiri di ambang pintu dapur.
__ADS_1
Aku pun menoleh kebelakang, "Baru saja datang. Oh iya ayo kita mulai masaknya perutku cacing - cacingnya dah pada demo."
Alvin pun berjalan mendekat, "Baiklah, kamu mau masak apa?"
"Apa aja yang penting perut bisa bikin kenyang."
"Baiklah, aku mau lihat dulu stok bahan makanan apa kira - kira yang bisa kita masak," ujar Alvin seraya berlalu pergi menuju tempat penyimpanan bahan makanan.
Beberapa menit kemudian, Alvin pun kembali dengan membawa beberapa bahan makanan.
Aku yang melihat itu hanya bisa mengerutkan kening tanda tak mengerti, "Dengan bahan yang kamu bawa, kita bisa masak apa?"
Alvin pun meletakkan bahan masakannya di atas meja dapur lalu berucap, "Kita akan memasak menu sehat, rendah kalori, kenyang dan nikmat tentunya."
"Memang aku gendut ya," ujar ku seraya memperhatikan postur tubuhku. "Tidak ada yang salah dengan bodiku, aku tidak gendut." gumamku dalam hati.
Alvin pun menoleh, "Kamu tidak gendut, tapi walaupun kamu mendadak gendut pada saat ini juga, kamu tetap aku cinta," ucap Alvin disela - sela aktivitasnya menyiapkan bahan makanan
tanpa sadar dengan ucapannya.
"Blusss...."
Aku pun berjalan mendekat, "Coba ucapkan sekali lagi kalimat yang terakhir! Aku kurang jelas mendengarnya.
Alvinpun menghentikan aktivitasnya dan menatap ku, "Kalimat yang mana? Ada apa dengan wajah mu Rania?" tanya Alvin pura - pura tak tau, walau sebenarnya dia tau hanya saja dia harus tau diri, Rania siapa dan dia sendiri siapa.
Cukup hanya dia yang tau tentang perasaannya kepada Rania dan biarkan cintanya menjadi cinta yang terpendam. Karena tidak mungkin seorang Rania juga mencintai dirinya yang hanya seorang pesuruh di hotel yang berbintang.
"Ada apa dengan wajahku?" aku balik bertanya.
Alvin pun tersadar dari lamunannya, "Tidak ada," jawab Alvin singkat.
...💖💖💖...
...Mari saling mendukung....
__ADS_1
...Terima kasih...
...💖💖💖...