
"Beberapa orang berfikir bahwa mempertahan kan hubungan dengan orang yang di cintai membuat kita kuat, tapi terkadang justru dengan melepaskan orang tersebut hubungan kita menjadi lebih kuat."
................................
Setelah aku melepaskan pelukan ku ke ibu mertua ku diapun, berjalan ke arah tempat tidur mas yusuf berada. Dia lalu mencium kening mas yusuf lalu di perhatikan setiap inci tubuh mas Yusuf mulai dari kepala hingga kaki yang terlihat semakin kurusan, kemudian dia berkata sambil menggenggam tangan mas yusuf sementara tangan satu nya mengelus - elus kepala mas Yusuf.
"Yusuf bangun, Nak Ibu dan Ayah datang menjenguk mu?" kata Ibu yang sudah mulai menangis, dan tidak bisa menyembunyikan perasaan sedih nya itu.
Ayah merangkul pundak Ibu Salamah seakan - akan mengisyarat kan pada ibu Salamah kalau semua akan baik - baik saja.
"Bukan nya aku tidak sedih melihat putra semata wayang ku sedang terbaring lemah di pembaringan rumah sakit. Hanya saja kalau aku sedih dan menangis yang menguatkan siapa?" kata Ayah berdialog dalam hati.
Jadi, sebisa mungkin tetap terlihat tegar di mata kedua wanita yang sekarang ada bersama ku.
Sementara aku yang menyaksikan itu terasa dadaku tercucuk ribuan jarum sakit nya tidak bisa tergambarkan.
__ADS_1
Tiba - tiba.
Tok....tok...tok.
Aku pun menoleh ke asal datang nya suara.
Wanita yang berpakaian perawat itu pun masuk lalu mendekat kemudian berkata,
"Ibu Vivi di tunggu dokter di ruangan nya sekarang!" kata perawat itu seraya berlalu pergi.
Kulangkah kan kaki ku keruangan dokter yang menangani suami ku dengan perasaan harap - harap cemas, dan semoga mendapatkan kabar yang baik - baik saja tentang penyakit yang di derita mas Yusuf. Kuatur nafas ku dan detak jantung ku yang kian berpacu cepat, dan berusaha tetap berpikir positif.
Tok...tok...tok.
"Masuk." kata suara dari dalam.
__ADS_1
Aku pun langsung masuk. Kemudian dokter itu mempersilahkan aku untuk duduk.
"Begini bu, saya harap kamu yang kuat dan sabar hasil laboratorium sudah keluar dan suami ibu positif mengidap kanker stadium 4."
Terasa seperti petir yang mendadak menyambar hati ku ya Allah. Aku hanya bisa menangis di depan dokter, "Yang sabar ya Bu." kata dokter itu lagi menguatkan ku.
Aku hanya bisa tersenyum getir sebagai jawaban nya. Aku pun meninggalkan ruangan dokter itu dengan rasa yang tidak bisa digambarkan, dan segera kembali keruangan di mana mas Yusuf di rawat. Di perjalanan menuju ruangan suami ku di rawat, sebisa mungkin raut wajah ku biasa - biasa saja seperti tidak terjadi kabar, buruk yang baru saja aku dengar, dan sebisa mungkin aku merahasia kan dari suamiku karena siapa tau dengan dia tak tau, semangat mu untuk sembuh kembali menyala, tapi tidak dengan mertua ku mereka tetap harus tahu tentang hal ini.
"Assalamualaikum," salam ku, dan langsung membuka pintu kamar tanpa menunggu jawaban dari dalam. Setelah aku berada di dalam ku lihat ibu masih setia menunggumu dan duduk di sofa bersama ayah yang ada di dalam kamar itu. Aku pun berjalan mendekat ke tempat tidur mu, dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur mu.
"Ayah, bangun jangan tidur terus kamu tidak kangen dengan bunda dan calon anak kita." kata ku sambil menggenggam, dan mencium punggung tangan suami ku.
💖💖💖
Bersambung......( jangan lupa like, vote, comment, dan beri bintang lima ya di karya aku )
__ADS_1