Twins Yovela & Yesika

Twins Yovela & Yesika
Bab


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu kini Yesika sedang duduk di kursi taman sambil mengedarkan pandangannya.


Ternyata rumah Papa sebesar ini, pantas saja kak Vela hidupnya bahagia. Batin Yesika.


Lalu seseorang menepuk bahu Yesika dan membuatnya terkejut dan menoleh ke belakang.


“Pa- paman Samuel, ada apa?” Tanya Yesika, yang sedikit terkejut.


“Kenapa kau di sini? Apa kau tidak mengerjakan dokumen Papamu?” TanyaPaman Samuel yang sengaja memancing Yesika.


Karena sudah seminggu ini sikap Yovela benar-benar berubah dari apa yang dia pikirkan. Yesika yang terkejut dengan pertanyaan dari Paman Samuel mulai kebingungan alasan apa yang harus dia katakan.


Aduh bagaimana ini, aku saja tidak mengerti tentang dokumen. Batin Yesika.


Paman Samuel terlihat menatap tajam ke arah Yovela, sedangkan Yesika berusaha untuk bersikap tenang agar misinya lancar. Saat dia akan menjawab lalu seseorang pun pertanyaan dari Paman Samuel.


“Sam, apa yang kau lakukan kepada Yovela? Kau selalu saja membuatnya takut.” Ujar wanita paruh baya itu dan menghampiri Yesika.


Siapa lagi jika bukan Nenek Sasmita yang selalu membelanya, dan membuat Paman Samuel curiga jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Nenek Sasmita.


“Nek, apakah aku salah jika bertanya kepada Vela? Memang benar ‘kan seharusnya dia mengerjakan dokumen Tuan Raul!” Ucap Paman Samuel yang kini menatap datar ke arah Yovela.


Yovela pun menundukkan wajahnya karena dia begitu takut jika Paman sameul mengetahuinya. Tetapi Nenek Sasmita selalu membelanya, dan dia mencoba mengusap lembut tangan Yesika yang mulai berkeringat dingin dan nenek Sasmita mencoba menggenggam erat tangan Yesika.


“Sam, kau ini selalu saja keras kepala sudah aku katakan. Jika Vela belum bisa mengingat semuanya, apa kau paham sekarang lebih baik kau pergi saja urus pekerjaanmu.” Usir nenek Sasmita.


“Tetapi Nek...”Ucapnya langsung di potong nenek Sasmita.


“Sssttt... Sudahlah, biar Nenek yang mengurus Vela. Sana pergi.” Mengibaskan tangannya.


Saat akan mengatakan sesuatu nenek Sasmita menatap tajam ke arah Paman Samuel dan membuatnya mengurungkan niatnya, lalu dia pun pergi meninggalkan keduanya.


Yesika pun mengusap dadanya karena lega, Yesika beruntung karena nenek Sasmita selalu menolongnya.


“Nek, terima kasih sudah menolong aku. Jika tidak ada nenek mungkin paman Samuel tahu siapa aku sebenarnya.” Menarik nafas lega.


“Kau tenang saja, siapapun yang berani menganggumu akan berhadapan dengan nenek.” Ucapnya lembut dan tersenyum manis.


“Iya Nek, sekali lagi terima kasih.” Memeluk Nenek Sasmita.


“Tidak perlu sungkan cucuku.” Membalas pelukkannya.

__ADS_1


Mereka pun melepaskan pelukkan tersebut.”Sekarang kau ikut nenek.”


“Kemana Nek?”


“Sudah ikut saja.”


Karena Yesika sudah seminggu di rumah Tuan Raul, jadi Tuan Raul saat ini sedang di kantornya dia begitu bahagia melihat Yovela masih hidup walaupun dia hilang ingatan. Dan itulah yang di katakan kepada semua orang jika Yovela tidak mengingat apapun.


Bagi Tuan Raul tidak masalah jika Yovela hilang ingatannya, karena dia ingin sekali menebus kesalahannya yang tidak peduli padanya.


Sesampainya di ruang kerja Yovela, Nenek Sasmita membuka pintu ruangan tersebut dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam. Yovela mengikutinya dan dia pun tidak tahu kenapa nenek Sasmita mengajaknya ke ruangan tersebut.


“Nenek, kenapa kita ke sini? Bukankah ini ruang kerja kakak?” Tanya Yesika bingung.


“Benar ini adalah ruang kerja Yovela dan untuk sementara kau yang akan menggantikan Yovela saat ini.” Ucap nenek Sasmita, lalu mengambil dokumen yang tertata rapi di lemari kaca tersebut.


Setelah menemukannya dia pun memberikannya kepada Yesika dan menyuruhnya duduk di kursi kebesaran milik Yovela, Yesika mengikutinya saja dan nenek Sasmita mulai membuka dokumen tersebut lalu menyuruhnya untuk mempelajari dokumen itu. Dan membuat Yesika menarik nafas dalam, karena itu sangat membosankan baginya.


Lain cerita lain tempat kini Yovela yang asli berada di rumah Bi Rahma, dia tidak tahu harus mengerjakan apa karena terbiasa di rumah mewahnya jadi dia pun bingung harus melakukan apa.


“Apa yang harus aku lakukan, ketika Bi Rahma pulang.” Mengedarkan pandangannya.


Yovela menatap rumah sederhana itu dan munculah ide yang ada di benaknya, bergegas ke dapur dan mencari bahan yang dia butuhkan. Setelah semua bahan terkumpul Yovela bingung harus memasak apa bahkan selama di rumahnya dia tidak tahu bagaimana cara memasak sayuran itu.


Yovela fokus menatap layar ponselnya dia pun mulai mempraktekkannya, lalu setelah berkutat di dapur selama satu jam masaknnya pun sudah jadi tetapi tidak sama dengan yang dia lihat.


“Kenapa berbeda sekali dengan yang aku lihat? Apakah ini salah, tetapi sudahlah yang penting aku sudah memasaknya.” Menaruh di meja makan.


Tak lama Bi Rahma pun pulang dengan membawa sekantong plastik makanan dan saat masuk ke dalam dia terkejut melihat Yovela sedang memakai celemek.


“Nona Muda, apa yang sedang Nona lakukan? Mengapa memakai celemek ini!” Ujar Bi Rahma khwatir karena dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Yovela.


“Bi Rahma tenang saja, aku hanya memasak ini.” Tersenyum manis, lalu menunjuk ke arah meja kecil.


Bi Rahma mengikuti jari yang di tunjukkan oleh Yovela dan dia menatap tidak percaya dengan apa yang ada di meja kecil itu.


“Itu..... Kau yang memasaknya Nona?” Tanya Bi Rahma yang ragu.


“Iya Bi, memang kenapa? Ada yang salah?” Tanya Yovela bingung.


“Akh... Tidak ada Nona, kalau begitu Bibi membawa makanan dan ayo makan bersama.” Ucap Bi Rahma mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


“Oh begitu baiklah Bi.”


Yovela membuka celemeknya dan segera mengambil piring untuk mereka makan. Setelah menyodok nasib Bi Rahma menelan salivanya kala melihat sayur yang di masak Yovela karena sayurnya sudah layu dan tidak berwarna hijau segar membuatnya ragu untuk memakannya.


“Bi cobalah sayur ini.” Ujar Yovela menyodorkan mangkok yang berisi sayur.


“Akh...Ba-baiklah.”


Bi Rahma pun menyodok sayur tersebut dan belum juga dia memakannya, Yovela pun membuang sayur tersebut karena rasanya tidak enak.


“Akh... Kenapa rasanya seperti ini! Berbeda sekali dengan yang aku lihat.” Ucap Yovela dengan meneguk air putih.


Bi Rahma yang melihat hal itupun menjadi ragu untuk memakannya.” Memang rasanya kenapa Nona?”


“Bibi jangan memakannya ini sama sekali tidak enak.” Ujar Yovela lalu memindahkan mangkok tersebut.


“Tetapi bibi belum mencobanya.” Ucap Bi Rahma yang akan memakan sayur itu.


Dengan cepat Yovela menarik tangan Bi Rahma agar tidak memakannya.


“Jangan Bi ini tidak enak, lebih baik makan yang ini saja.” Tersenyum canggung.


“Nona tenanglah, Bibi akan menghargai usaha Nona. Jadi tenanglah.” Ucap Bi Rahma lembut.


Yovela tidak bisa mencegahnya dia pun pasrah sambil menggigit bibir bawahnya, sedang bi Rahma pun mencoba masakan yang di buat Yovela.


Setelah masuk ke dalam mulut, entah apa rasanya bi Rahma saja sampai bergidik ngeri saat memakannya rasa yang tidak karuan serta asin yang begitu terasa membuat mata Bi Rahma merem melek. Yovela yang melihat hal itu pun segera mencegah Bi Rahma lagi agar tidak memakannya.


“Bibi, sudah aku katakan ini tidak enak. Kenapa kau memaksanya.” Kesal Yovela lalu memberikan segelas air putih.


Bi Rahma menerimanya lalu meneguknya sampai habis.”Nona, bibi sudah katakan jika bibi akan menghargai apa yang Nona masak.”


“Aku tidak bisa seperti Yesika, pasti dia pintar memasak.” Dengan raut wajah sedihnya.


Bi Rahma pun tersenyum manis dan menggenggam erat tangan Yovela.


“Jangan sedih lagi Nona, Bibi akan mengajarimu memasak bagaimana? Kau mau ‘kan Nona!” Tanya Bi Rahma lembut.


“Bibi serius mau mengajariku memasak?” Dengan wajah berbinar.


“Tentu saja, sekarang makanlah.”

__ADS_1


“Baiklah Bi.”


Mereka berdua pun menghabiskan makanannya, Yovela begitu bersemangat karena dia akan belajar memasak hari ini.


__ADS_2