
Sinchen tahu jika saat ini Yesika bingung harus mengatakannya darimana sedangkan Yovela terlihat senang menatap wajah tampan yang ada di hadapnnya.
"Papa lebih baik, aku dan Sinchen bertunangan dulu ya. Biar kita saling mengenal pa." Ucap Yovela tanpa ragu."Bagaimana denganmu Sika? Apa kau setuju dengan yang aku katakan!" Ujar Yovela menatap Yesika.
Sejenak Yesika terdiam dia tidak tahu harua menjawab apa, namun hanya senyuman yang bisa dia berikan kepada Yovela. Tuan Raul pun ikut setuju dengan ucapan Yovela begitu juga dengan nenek Sasmita tetapi dia juga tidak bisa mengabaikan perasaan Yesika kepada Sinchen.
"Sinchen apa kau mau menemaniku hari ini?" Tanya Yovela serius.
"Baiklah, aku akan menemanimu." Jawab Sinchen.
Nenek Sasmita mengajak Tuan Raul keluar dari ruangan Yovela karena ada hal yang sangat penting untuk dikatakan.
"Raul bisakah kau ikut denganku? Ada hal yang ingin ibu katakan padamu." Nenek Sasmita melangkah lebih dulu keluar ruangan.
Tuan Raul pun mengikutinya dari belakang sedangkan Yesika, Sinchen, dan juga Yovela saling terdiam entah harus darimana memulainya. Sepersekian detik akhirnya Yesika berpamitan untuk keluar sebentar.
__ADS_1
"Kak, aku ke toilet sebentar ya." Ucap Yesika yang langsung melangkah tanpa menunggu jawaban dari Yovela.
Setalah keluar Yovela dan Sinchen masih terdiam karena bingung harus memulainya darimana saat ini. Karena selama ini yang Sinchen kenal adalah Yesika sebagai Yovela, dan membuatnya menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku..." Ucapnya bersamaan.
"Kau saja dulu, apa yang ingin kau katakan!" Ucap Sinchen kikuk.
"Eh tidak kau saja duluan, tidak terlalu penting bagiku." Jawab Yovela yang bingung.
"Vela, aku tidak tahu jika Yesika itu adalah adikmu dan aku bingung harua mengatakan apa kepadamu sekarang." Menjeda kalimatnya."Aku juga tidak tahu kedepannya akan menjadi seperti apa nantinya." Ucap Sinchen tersenyum kecil.
Andai saja dari awal jika dia bertemu dengan Yovela asli mungkin saja perasaan saat ini akan bahagia dan tidak bercampur aduk seperti sekarang ini. Sinchen bingung harua bagaimana, karena tidak mudah untuk melakukannya pasti ada resiko yang harus dia tanggung.
Yovela menatap Sinchen yang sedang bingung apa yang harua dia katakan saat ini, tetapi itu tidak penting bagi Yovela karena saat ini yang hanya dia inginkan bertunangan dulu. Dan ke depannya biarlah mengalir seperti air yang suatu saat nanti akan bertemu titik terangnya.
__ADS_1
"Sinchen, aku tahu hatimu saat ini sedang bingung tetapi aku tidak perduli apapun itu yang pasti aku ingin bertunangan denganmu." Ucap Yovela yang tahu dengan sikap Sinchen saat ini." Biarkanlah mengalir seperti air, jika memang kau jodohku maka akan tetap bersama bagaimana pun caranya. Tetapi jika bukan, maka kita akan menemukan jodoh masing- masing." Sahut Yovela yang menatap luru ke depan.
Sinchen mengusap kasar wajahnya untuk saat ini dia pun tidak tahu perasaannya akan jatuh kepada siapa Yesika atau Yovela! Entahlah tetapi yang terpenting saat ini menjalani pertunangan ini agar dia bisa memastikan perasaan yang sebenarnya.
"Baiklah, aku ikuti permintaanmu setelah kau sembuh baru kita bertunangan. Agar saling mengenal satu sama lain." Ucap Sinchen setuju.
"Terima kasih, kau mau menuruti permintaanku." Sahut Yovela.
"Baiklah, aku akan kembali ke kantor. Kau isirahatlah agar cepat pulih." Mengusap lembut kepala Yovela.
"Iya." Jawab Yovela.
Semntara di taman tuan Raul di buat bingung dengan nenek Sasmita karena sedari tadi tidak ada sepatah kata pun yang mampu di jawab oleh nenek Samita.
"Kenapa semua koper kita di bawa ke rumah sakit bu? Ada apa sebenarnya bu, katakan jangan diam saja bu katakanlah aku butuh jawabmu." Desak tuan Raul.
__ADS_1
"Papa sebenarnya..."