
Setelah puas memeluk lalu mereka pun melepaskan pelukkannya dan saling tersenyum.
"Kak bagaimana kalau hari ini kita habiskan waktu kebersamaan kita ini?" Usul Yesika kepada Yovela.
Sejenak Yovela memikirkan kata-kata sang adik lalu dia pun menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua bangun dari duduknya dan bergandengan tangan. Menyusuri taman kota, hingga bermain wahana yang mereka sukai dan makan bersama di restaurant.
Setelah puas akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, karena hari pun sudah malam.
"Sika hari sudah malam, sebaiknya kau pulanglah. Aku takut jika Papa akan curiga kepadamu."Ucap Yovela menatap Yesika.
"Baiklah kak. Kau juga harus berhati- hati kak!" Sahut Yesika, walaupun dia masih ingin bersama Yovela.
Yovela sebenarnya masih ingin bersama Yesika tetapi itu tidak memungkin mereka untuk bersama karena misi mereka demi menyelamatkan keluarganya akan gagal.
Dengan berat hati mereka berdua pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, kini Yesika telah sampai di kediaman Barata. Melihat lampu rumah sudah mati membuat Yesika sedikit tenang, dan itu menandakan jika semua orang sudah tertidur termasuk Papa dan Neneknya.
__ADS_1
Melangkah masuk ke dalam secara mengendap-endap seperti maling, Yesika terus menyusuri ruangan demi ruangan agar dia sampai ke kamarnya karena pencahayaannya yang begitu remang-remang membuatnya harus berjalan perlahan.
Saat melangkah lalu ada tangan yang menepuk bahunya membuat Yesika berhenti dan seluruh tubuhnya memang dia takut jika Nyonya Marina atau Arka mengetahuinya.
"Darimana saja kau, pulang hingga larut malam seperti ini dan mengendap-endap seperti maling."Ucapnya.
Yesika menoleh dan tersenyum canggung menatap seseorang yang ada di hadapannya saat ini. Dan benar saja dugaannya dia adalah Arka saudara tiri dari Yesika dan Yovela, Yesika menarik nafas dalam-dalam agar tidak gugup menjawab pertanyaan dari Arka.
"Aku hanya mencari udara segar di taman kota, dan tidak terasa hari sudah larut malam jadi aku memutuskan untuk pulang."Jawab Yesika setenang mungkin.
"Aww.. Arka apa yang kau lakukan, ini sakit "Ringis Yesika dengan memegang tangannya.
"Kau pikir aku akan percaya pada ucapanmu hah! Kau pasti berbohongkan? Cepat katakan!"Sahut Arka dengan raut wajah marahnya.
"Apa yang kau katakan, aku memang ke taman kota dan sudah bilang kepada nenek. Dia mengizinkanku pergi ke taman kota itu."Jawab Yesika yang berusaha menarik tangannya dengan yang satu lagi.
__ADS_1
""Kau itu sedang berbohong Vela, katakan saja agar Papa bisa tahu siapa kau sebenarnya."
Yesika ingin sekali memukul wajah Arka tetapi dia berpikir lagi, jika dia memukulnya maka akan ketahuan siapa dia sebenernya. Tetapi jika tidak di lawan maka Arka akan terus memojokkannya dengan pertanyaan yang sama.
Ya Tuhan tolong aku dari orang ini. batin Yesika.
"Arka lepaskan, kau menyakitiku!"Ucap Yesika yang berusaha menarik tangannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu Vela, sebelum kau mengatakannya."Tersenyum sinis.
"Mengaku apa? Aku sudah katakan jika aku hanya ke taman kota saja tidak ada yang lain lagi."Kesal Yesika.
"Kau pasti.... Addudu aduh sakit!" Belum selesai mengatakannya Arka sudah kesakitan.
"Bagus ya kau sudah berani menganggu cucuku hah!" Ucapnya dengan menjewer telinga Arka.
__ADS_1