Twins Yovela & Yesika

Twins Yovela & Yesika
Bab


__ADS_3

Sesampainya di rumah Nyonya Marina dan Arka saling menatap sinis tetapi bagi Yesika dia hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Tanpa menyapa, Yesika pun melangkah masuk ke dalam di sana sudah ada nenek Sasmita yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.


“Nenek...” Sapa Yesika memeluk dari belakang.


“Cucuku sudah pulang, cepat kau ganti pakaianmu dan kita makan malam bersama.” Ucap Nenek Sasmita tersenyum manis.


“Siap nenekku sayang.” Memberi hormat.


Nenek Sasmita hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucunya, Yesika pun berlalu menuju kamarnya dan masuk ke dalam kamar. Lalu dia pun segera mandi selesai dengan ritualnya di kamar mandi, entah kenapa Yesika begitu merindukan sang kakak lalu dia menatap bingkai foto sang kakak.


“Kak, Sika merindukan kakak. Bagaimana keadaan kakak sekarang.” Ucap Yesika dengan mata yang berkaca-kaca.” Setelah makan malam aku akan menelepon ibu.” Ucapnya dengan penuh semangat.


Yesika keluar dari kamarnya menuju ruang makan sepeti biasa ada tatapan sinis ada juga tatapan hangat, bahkan ada tatapan yang sulit di artikan.


Yesika tersenyum kepada nenek Sasmita lalu mereka semua pun makan malam bersama dengan pikiran masing-masing, makan selesai lalu Yesika terburu-buru menaiki anak tangga sampai Tuan Raul memanggilnya.


“Vela, hati-hati sayang.”Ucap Tuan Raul yang begitu khawatir.


“Iya Papa, kau tenang saja.” Tersenyum manis.


Sementara di ruang keluarga kini nenek Sasmita berserta yang lainnya pun berkumpul bersama karena ada hal yang ingin di katakan oleh nenek Sasmita.


“Ibu ada apa, kau memanggil kami semua kemari.” Ucap Tuan Raul bingung.


“Iya Nek, ada apa ini tidak biasanya nenek menyuruh kita untuk berkumpul.” Sahut Arka yang kini duduk di dekat Nyonya Marina.


“Baguslah kalian semua sudah berkumpul, aku ingin bertanya padamu Raul. Apa kau sudah membuat keputusan, jika Vela akan mewarisi semua aset milik Nesya?” Tanya Nenek Sasmita.


“Iya Bu, aku akan memberikan hak Vela dan sekarang dia sudah berusia dua puluh tahun. Kau tenang saja Bu, aku pasti menepati janjiku ini.” Ucap Tuan Raul mantap.


Nyonya Marina dan Arka semakin tidak suka dengan keputusan Tuan Raul, lalu dia menatap Paman Samuel agar membuat rencana lagi. Paman Samuel mengerti dengan tatapan dari Marina dan Arka, dia hanya menganggukkan kepalanya.


“Lalu kau Marina, jangan pernah membuat masalah lagi. Jika kau berulah lagi, aku tidak akan sungkan lagi untuk melemparmu.” Ucap nenek Sasmita dengan tatapan tajamnya.


Nyonya Marina menghembuskan nafas kasarnya.” Ibu, walaupun aku tidak menyukai Vela tetap saja dia adalah bagian keluarga ini. Mana mungkin aku membuat masalah.”


“Baguslah jika kau paham Marina, karena kau dan anakmu itu selalu saja membuat masalah di keluarga ini.”Sindir nenek Sasmita.


“Nenek cukup, kau jangan memojokkan ibuku, ini juga bukan salah ibu.”Geram Arka, dia tidak terima jika ibunya di pojokan seperti itu.


“Sudahlah Arka, kau tidak perlu emosi seperti itu. Aku percaya dengan Vela dia bukan orang yang seperti itu, Vela itu orang yang baik.” Sahut paman Samuel yang mencoba menahan emosi Arka.

__ADS_1


“Sudahlah tidak ada yang pernah menganggap ku ada di rumah ini.” Bangun dari duduknya.


“Arka... Tunggu!” Panggil Nyonya Marina.”Pa, bersikaplah adil kepada Arka.” Bangun dari duduknya menyusul Arka.


Tuan Raul bingung harus bagaimana lagi karena perusahaan ini bukan miliknya dia hanya bisa menarik nafasnya. Nenek Sasmita pun mencoba menenangkannya.


“Sudahlah Raul, jangan terlalu kau pikirkan. Arka masih anak-anak dia belum mengerti.” Menepuk bahu Tuan Raul.


“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya, aku sudah mengatakannya tetapi dia tidak mau mengerti.” Ucapnya dengan frustasi.


“Sudahlah kau jangan terlalu banyak berpikir, yang di katakan nenek benar. Aku akan mencoba membujuknya.”Tutur paman Samuel, lalu bangun dari duduknya.


“Baiklah semoga dia mau mengerti.”


“Tentu, kau tenang saja.”


Sementara di kamar Arka kini Marina sedang membujuk putranya yang begitu kesal karena dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Pintu kamar Arka di buka lalu masuklah Paman Samuel dan menghampiri Arka.


“Apa kau tidak bisa tenang sedikit!” Ucap Paman Samuel dengan datar.


“Harus sampai kapan paman aku bisa sabar lagi, rencana paman saja bisa gagal. Apa lagi sekarang!” Cibir Arka.


“Arka jaga sikapmu, dia itu pamanmu.” Sahut Nyonya Marina yang kesal kepada Arka.


“Bagaimana kak, apa kau punya rencana lagi?” Tanya Nyonya Marina yang penasaran.


“Aku tidak mempunyai rencana apapun, tetapi aku bisa menggunakan orang lain untuk mengurusnya.” Ucapnya dingin.


“Siapa itu kak?” Mengerutkan keningnya.


“Kau akan tahu Rina.” Sahutnya dengan tertawa devil.” Kali ini pasti tidak akan gagal lagi.” Ucapnya dengan penuh keyakinan.


“Semoga saja kak.”


Sementara dia sebuah rumah yang tak kalah mewahnya dari keluarga Barata, seorang wanita paruh baya sedang menatap sebuah foto dia mengusap lembut foto tersebut dan tidak terasa bulir bening jatuh dan membuatnya semakin sesak dan pilu jika mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


Dimana dia di campkan dan di khianti oleh suaminya sendiri dan membuatnya harus menjauh dari suaminya. Bahkan dia ingin merebut kembali apa yang sudah menjadi miliknya.


“Kau tidak akan pernah hidup bahagia, karena aku akan kembali lagi.” Ucapnya dingin.


Lalu seseorang pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan membungkuk hormat kepada wanita paruh baya itu.

__ADS_1


“Nyonya, dia sudah di temukan kemungkinan saat mereka sudah bertukar.” Ucap pria paruh baya yang sudah mengawasinya.


“Hahaha... Terima kasih pak, kau awasi saja dia. Jika dia dalam masalah kau bisa membantunya ‘kan pak!” Sahut wanita paruh baya itu, dengan mengusap kasar bulir bening tersebut.


“Tentu saja Nyonya, kau tidak perlu khawatir.” Jawabnya sambil membungkuk hormat.


“Baik pak terima kasih, kau boleh kembali lagi.”


“Permisi Nyonya.”


Pria paruh baya itu segera keluar dari ruangannya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Setelah kepergiannya wanita paruh baya itu pun tersenyum bahagia.


“Heh! Ingin menghentikan ku? Jangan mimpi.” Ucapnya dengan tertawa puas.


Mentari pagi telah bersinar kini Yesika sudah siap dengan pakaian kerjanya, karena dia sudah terbiasa dan sedikit demi sedikit dia mulai mengerti tentang pekerjaan yang harus dia kerjakan.


Selesai sarapan Yesika atau lebih di kenal dengan Yovela, dia pun berangkat ke kantornya bersama Tuan Raul karena hari ini dia akan memberikan semua hak miliknya kepada Yovela sesuai janjinya.


Sesampainya di kantor Yesika pun ke ruangannya dan dia sudah mulai mengerti dengan dokumen tersebut, Tuan Raul sibuk di ruangannya karena dia menelepon pengacara keluarganya akan datang pada sore hari. Karena jadwal hari ini begitu padat, lalu Tuan Raul menyuruh Yesika ke ruangannya dan dia akan mengatakan hal tersebut.


Tok tok tok


“Masuk!” Ucap Tuan Raul.


Yesika pun masuk ke dalam ruangan Tuan Raul yang tak kalah bagusnya, lalu dia pun duduk di sofa.


“Ada apa Papa, apakah ada dokumen lagi?” Tanya Yesika sopan.


“Tidak ada nak, Papa hanya ingin mengatakan jika nanti sore pengacara kita akan datang dan mengurus semua aset milik Mama.” Ucap Tuan Raul menjelaskan.


“Hah! Tetapi bagaimana dengan bibi Marina dan Arka, mereka pasti sangat kesal Pa. Jika mereka mengetahuinya Pa.” Ucap Yesika yang khawatir.


Tuan Raul tersenyum manis menatap putri cantiknya itu dan mengusap lembut punggung tangannya.


“Sayang sudahlah, kau jangan memikirkan hal itu Papa akan mengurusnya.”


“Tetap saja Pa, bibi Marina pasti akan marah karena Papa tidak bersikap adil kepada Arka. Atau kita berikan setengahnya kepada Arka?” Usul Yesika.


Mata Tuan Raul berkaca-kaca mendengar ucapan putri, dia jadi teringat dengan mendiang istrinya yaitu Nesya. Dia begitu peduli dengan orang lain dan juga selalu bersikap baik kepada orang, walaupun orang itu jahat kepadanya.


Yesika melihat mata Tuan Raul yang seperti itu dengan cepat dia meraih tangan Tuan Raul dengan raut wajah khawatirnya.

__ADS_1


“Papa kau baik-baik saja ‘kan?”


“Iya sayang.”


__ADS_2