
Setelah lama berputar- putar mengelilingi Mall tersebut, akhirnya Yesika serta wanita paruh baya itupun selesai dengan belanjanya.
Lalu mereka pun makan bersama-sama setelah memesan makanan, wanita paruh baya itupun mencoba bertanya kepada Yesika.
"Nak bagaimana kabarmu sekarang?" Ucap wanita paruh baya itu.
"Aku baik- baik saja bi, malah sekarang aku sudah bertemu dengan kakak kandungku. Aku sangat senang sekali bisa bertemu dengannya." Tuturnya dengan raut wajah bahagia, tetapi wajahnya pun berubah lagi menjadi sedih." Tetapi sayang aku tidak bisa bertemu dengan ibu kandungku, andai saja dia masih ada aku pasti bahagia." Menundukkan kepalanya.
Deg.....
Wanita paruh baya itupun merasa bersalah sehingga tidak terasa air matanya pun menetas, tanpa sengaja Yesika melihat wanita itu menetaskan air mata.
"Bibi, ada apa denganmu? Apakah aku salah berucap lagi?" Tanya Yesika yang menatap wanita tersebut.
Dengan cepat wanita itupun segera menghapus sudut air matanya yang menetes.
"Tidak apa- apa, Bibi hanya terharu saja mendengar ceritamu." Menggenggam tangan Yesika." Suatu saat nanti kau bisa bertemu dengan ibumu nak, dia juga pasti beruntung memiliki putri cantik sepertimu." Tersenyum manis.
"Bibi, kenapa kau bisa mengatakan hal itu? Apa kau mengenal ibuku? Jika kau mengenal ibuku katakanlah, seperti apa ibuku itu bibi!" Ucap Yesika yang penuh harapan.
"Em... maksud bibi adalah kau bisa bertemu dengan ibu di dalam mimpi." Tersenyum kikuk.
"Oh.. aku kira Bibi mengenal ibuku." Sahut Yesika lemas.
__ADS_1
Maafkan ibu nak, ibu janji akan memberi tahu setelah semua masalah selesai. Batinnya.
****
Tiga hari kemudian semakin hari Sinchen benar- benar tidak bisa melupakan Yesika, bayangan wajah Yesika selalu hadir di setiap waktu dan membuatnya tidak bisa fokus bekerja.
"Akh.... kenapa kau selalu saja menggangguku." Ucapnya frustasi.
Lalu asistennya pun masuk dengan membawa berkas yang perlu tanda tangan darinya.
"Tuan ini berkas yang harus kau tanda tangani."Ucapnya dengan memberikan berkas itu.
Dengan malas Sinchen pun menandatanganinya lalu dia pun menatap sinis ke arahnya.
"Akh.. hari ini kau tidak ada jadwal apapun Tuan." Ucapnya dengan terkejut.
"Bagus, jika ada batalkan semuanya. Aku akan pergi." Bangun dari duduknya dengan memakai jas.
Asistennya hanya bisa menatap kepergiannya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Astaga Tuan muda ini, rumit sekali malah percintaannya." Menggelengkan kepalanya.
"Willy lembur kau." Sahut Sinchen dari luar.
__ADS_1
"Ya Tuhan, mimipi apa aku semalam." Dengan raut wajah sedihnya." Baik Tuan." Sahutnya dengan lemas.
Sinchen pun segera menuju mobilnya dan ke rumah Yovela, tidak berapa lama mobil Sinchen sudah terparkir di rumah Yovela. dan di sambut nenek Sasmita serta Tuan Raul.
"Nak Sinchen, kau datang juga." Ucap Tuan Raul sopan.
"Tentu saja Tuan Raul, apa kau tidak senang jika aku datang." Ketusnya.
"Akh tentu saja, aku senang jika kau datang. Vela dan Sika ada di taman belakang." Ucapnya.
"Baiklah."
Sinchen pun segera menuju taman belakang di sana sudah Reza juga yang telah datang lebih dulu, Sinchen menghampirinya dengan wajah datarnya.
"Vela, ada hal yang ingin aku katakan padamu." Ucap Sinchen yang menarik tangan Yovela.
Yesika dan Reza pun terkejut begitu juga dengan Yovela yang belum ada persiapan apapun dia hanya bisa mengikutinya.
"Baiklah."
Setelah kepergian Sinchen dan Yovela kini Reza pun mencoba untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini.
"Sika... aku...."
__ADS_1