
"Tidak tertarik." Yesika melepaskan tangannya.
"Tetapi aku tertarik!"Ucapnya dengan lantang.
Yesika pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh."Heh! Tuan Muda Sinchen, kita itu dua orang yang berbeda jadi jangan bermimpi terlalu jauh lupakan saja."
Yesika pun melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam mobil dan Sinchen hanya menatap datar lalu tersenyum.
"Aku pasti bisa mendapatkanmu." Gumamnya lalu melangkah masuk ke dalam mobil.
Akhirnya Yesika pun sampai di rumah bi Rahma lalu dia pun masuk ke dalam rumah dan mencari Yovela.
"Kak, kau dimana?" Ucap Yesika yang mengedarkan pandangannya.
"Aku di sini, ada apa Sika?" Tanya Yovela yang baru selesai memasak.
"Wah... Kakak sedang memasak!Pasti masakkan kakak enak." Ujar Yesika yang menghampiri meja kecil.
"Iya ayo kita makan bersama."
__ADS_1
"Baiklah."
Mereka berdua pun makan bersama setelah selesai makan lalu Yesiku pun mengatakan sesuatu kepada Yovela.
"Kak ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."Ujar Yesika menjeda kalimatnya." Apa kau pernah bertemu dengan Arka?" Tanya Yesika memastikan.
"Arka? Tidak pernah? Memang ada apa sika, apa terjadi sesuatu?"Tanya Yovela yang bingung.
"Hari ini dia memberi tahuku jika aku ada di supermarket dan dia juga memotretmu." Ucap Yesika menatap Yovela.
"Maaf Sika, kakak tidak berhati- hati." Ucapnya dengan wajah tertunduk."Lain kali kakak akan berhati- hati."
"Kakak, kau tidak perlu bersedih aku sudah pernah mengatakan kepadamu. Jika aku yang akan merebut semua yang pernah menjadi milik ibu." Tersenyum manis." Kau percaya padaku ' kan kakak?" Tanya Yesika penuh harap.
"Iya kakak percaya padamu."Membalas senyuman Yesika.
Tetapi seketika raut wajah Yesika berubah menjadi kesal lalu Yovela melihat raut wajah Yesika berubah pun langsung bertanya kepadanya.
"Ada apa? Sepertinya kau ada masalah?" Tanya Yovela.
__ADS_1
"Ayah ingin aku menikah dengan anak temannya itu kak, Ayah memang belum tahu siapa aku sebenarnya tetapi aku tidak ada hak untuk pernikahan itu. Karena kaulah yang sebenarnya kak, bukan aku kak!"Ucap Yesika panjang lebar.
Yovela menarik nafasnya.
"Tidak Sika, kau tidak salah ini adalah jodohmu." Mengusap lembut punggung tangan Yesika."Kau tidak perlu memikirkan perasaanku, kau lebih pantas bahagia Sika. Selama bertahun- tahun kakak tidak tahu jika kau adalah adikku maka sekarang kau harus bahagia." Tersenyum manis.
"Tidak kak, cepat atau lambat ayah dan yang lainnya pasti akan tahu siapa kita sebenarnya." Tutur Yesika yang sedikit khawatir.
"Kau tenanglah, kita akan hadapi bersama jangan takut." Ucap Yovela dengan tersenyum.
Tetapi di dalam hati Yovela pun sama jika suatu saat nanti ayahnya mengetahui semuanya apa yang akan terjadi, entalah! Tetapi Yovela yakin jika ayahnya sangat menyayangi mereka berdua.
Tidak terasa waktu sudah sore sudah waktunya bagi Yesika untuk pulang, jika dia terlalu lama takutnya ada yang mencurigainya.
"Sepertinya aku harus pulang kak, aku takut dinding mempunyai telinga yang begitu tajam." Ucap Yesika yang melihat jam di pergelengan tangannya.
"Baiklah, kau harus berhati- hati. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku."
Yesika menganggukkan kepalanya lalu dia melangkah keluar dari rumah bi rahma dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Yesika pun sampai di rumah terdengar suara keributan di ruang keluarga bahkan sampai terdengar suara pecahan, entah itu barang atau yang lainnya.