
Setelah puas memarahi sang kakak, Yesika pun keluar dari ruang rawat Yovela. Nenek Sasmita pun memeluk Yesika, dia tahu betul apa yang Yesika rasakan saat ini.
"Kau harus kuat sayang, Vela pasti baik- baik saja." Ucap nenek Sasmita.
"Baik nek, semoga doa nenek di kabulkan oleh tuhan."Ucap Yesika terpaksa tersenyum.
Langit sudah semakin sore dan Sinchen harus segera mengurus sesuatu karena Arka ada di tangannya maka mudah bagi Sinchen untuk melakukan apapun.
"Nenek, Tuan Raul sepertinya hari sudah semakin sore, kalau begitu saya pamit dulu." Ucap Sinchen sopan.
"Iya nak, kau berhati- hatilah." Ucap nenek Sasmita.
"Iya nenek."
Baru saja membalikkan badannya Sinchen sudah di panggil oleh tuan Raul.
"Sinchen, kemarilah!" Panggil Tuan Raul.
Sinchen pun patuh dan berjalan mendekati Tuan Raul."Ada apa Tuan?"
__ADS_1
"Sinchen..mmm saya minta tolong padamu, tolong jangan sakiti Arka ya saya tahu jika Arka bersalah tetapi biarkan proses hukum yang mengurusnya." Pinta Tuan Raul.
Sinchen menghembuskan nafas kasarnya." Baiklah."
Sinchen pun melangkahkan kakinya meninggalkan Tuan Raul dan yang lainnya, hari semakin malam Yesika masih setia menemani Yovela dia bahkan tidak ingin jauh dari Yovela.
***
Pagi ini Yesika telah bangun dia terus saja di samping Yovela dan tidak pernah meninggalkannya sedikitpun, Tuan Raul menghampiri Yesika dan menepuk bahunya pelan.
"Sayang lebih baik kau istirahat saja, biar papa yang menjaga kakakmu."Ucap Tuan Raul yang tidak tega.
Di rumah nenek Sasmita sedang duduk di taman terdengar suara Marina yang sedang memarahi para pelayan, nenek Sasmita pun segera menghampirinya dengan raut wajah marah.
"Marina apa yang kau lakukan di rumahku hah!" Bentak nenek Sasmita.
Nyonya Marina pun menoleh ke arah nenek Sasmita dengan tersenyum merehkan.
"Heh! Nenek tua kau tidak pantas berada di rumahku ini." Melipat tangan di dada."Karena sekarang rumah ini sudah sah menjadi milikku, sekarang kau boleh pergi." Dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Apa maksudmu Marina? Kau jangan mengatakan hal yang bukan menjadi milikmu." Ucap nenek Sasmita menatap tajam Marina.
"Ini memang kenyataannya jika kau harus keluar dari rumah ini, karena sekarang rumah ini menjadi milikku. Lihat saja ini." Melemparkan map ke meja.
Nenek Sasmita terkejut dengan ucapan Marina entah apa isi di dalam map itu, dan perasaannya mulai bercampur aduk menjadi satu. Nenek Sasmita menarik nafasnya lalu tangannya terulur untuk mengambil map itu, dengan perasaam tidak enak lalu dia membuka map itu dan membacanya.
Kata demi kata membuat matanya membulat sempurna, tidak mungkin Yovela melakukan hal seperti ini! Pasti ini semua di paksa olehnya, nenek Sasmita menatap tajam ke arah Nyonya Marina.
"Kau fikir aku percaya dengan semua ini? Heh, ini hanya sebagaian dari trikmu 'kan!" Cibir nenek Sasmita.
"Ini bukan trik tetapi ini kenyataan yang harus kau terima, sekarang cepatlah bereskan barang- barang milikmu dan yang lainnya."
"Bibi Marina, apa yang kau lakukan kenapa kau mengusir nenekku! Yang seharusnya pergi adalah kau karena kau tidak mempunyai hubungan apapun dengan keluarga ini." Ucap seseorang dengan raut wajah marahnya.
"Yesika." Gumam nenek Sasmita.
"Heh anak ingusan kau tidak perlu ikut campur, karena ini semua telah di berikan oleh kakakmu yang lemah itu. Jadi bereskan barangmu sekarang juga."
"Kau...."
__ADS_1