
Setelah selesai acara pertunangan kini Yesika sedang duduk santai di halaman yang sederhana, dia sedang menikmati jus heruk kesukaannya menatap bunga yang berwarna warni membuatnya tersenyum tipis.
Saat sedang menatap bunga ada seseorang yang memegang pundaknya lalu Yesika menoleh dan terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Sinchen.... akh maksudku kakak ipar, ada apa?" Tanya Yesika gugup sekaligus terkejut.
"Sika, sedang apa kau di sini?" Tanya Sinchen yang menatap Yesika.
"Aku hanya melihat bunga yang mulai bermekaran, serta aroma dari bunga itu sangat wangi." Tutur Yesika menatap bunga itu.
Sinchen menarik nafasnya dia tidak tahu harus bagaimana lagi, lalu datanglah Reza yang menghampiri Yesika dengan membawa sebotol air mineral.
"Ini minumlah dulu." Ucap Reza memberikan botol minuman kepada Yesika.
"Terima kasih kak, aku kira kau sudah pulang kak!" Ujar Yesika yang menerima botol minuman tersebut.
Sementara Sinchen menatap suram ke arah Reza dan Reza hanya tersenyum tipis melihatnya. Dan membuat Sinchen mengepalkan tangannya. Lalu Yovela pun datang dan menggandeng tangan Sinchen dan membuatnya menoleh.
"Sinchen, kau ada di sini juga. Padahla aku mencarimu." Ujar Yovela yang tersenyum manis.
__ADS_1
"Ah.. iya aku di sini karena menyapa mereka berdua, apakah ada yang mencariku?" Tanya Sinchen.
"Iya papa mencarimu, lebih baik kau temui dulu."
"Baiklah."
"Sika semangat kau jangan pernah melepskannya!" Ucap Yovela yang mengacungkan jempolnya.
Yesika hanya tersenyum tipis dan suasana pun menjadi hening entah harus bagaimana lagi, lalu Reza pun mencoba mengajak ngobrol Yesika.
"Sika bagaimana selama ini, apa kau bahagia bisa bertemu dengan orang tuamu." Ucap Reza yang bingung harus mengobrol apa.
"Iya kak, aku bahagia sekali bisa bertemu dengan keluargaku."
****
Sebulan telah berlalu kini hubungan Sinchen dan Yovela memang sudah saling mengenal tetapi perasaan Sinchen tidak berubah dan malah semakin yakin jika dia mencintai gadis lain.
"Apa aku harus mengatakan kepadanya jika ada orang lain yang aku cintai." Gumam Sinchen di kantornya."Tetapi aku juga tidak ingin menyakitinya." Ucap Sinchen frustasi.
__ADS_1
Lalu temannya sekaligus asistennya pun menghampirinya.
"Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu begitu kusut!" Tanyanya lalu duduk di sofa.
"Entalah... aku juga bingung." Menghembuskan nafasnya, lalu bersandar di kursi kebesarannya sambil memejamkan matanya.
"Jika memang kau tidak mencintainya katakan saja, jangan sampai kau menyakitinya Sinchen." Ucapnya yang tahu dengan keadaan Sinchen saat ini.
"Apakah harus seperti itu!" Mengerutkan keningnya.
"Tentu saja sebelum kau terlambat bos." Ucapnya bangun dari duduknya."Lebih baik kau tanda tangani berkas ini, agar aku bisa cepat menyelesaikannya." Memberikan berkas tersebut.
Sinchen pun seger menandatanganinya lalu asistennya pun segera pergi untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Sementara Sinchen mengusap wajahnya dengan kasar, benar! Dia harus menyelesaikannya tidak bisa diam saja, lalu Sinchen bangun dari duduknya dan memakai jas serta kunci mobil.
Sinchen pun berpesan kepada sekertarisnya jika dia sedang keluar. Sampai di parkiran lalu dia pun masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju rumah Yovela dan Yesika.
Sessmpainya di sana Sinchen mengedarkan pandangannya dan masuk ke dalam rumah Yesika dimana ada nenek Sasmita sedang duduk sambil menikmati aegelas teh hangat.
"Nenek, apa kabar? Bagaimana kesehatanmu." Ucap Sinchen yang langsung mencium tangan nenek Sasmita.
__ADS_1
"Aku baik- baik saja, kau mencari Vela?" Tanya nenek Sasmita.
"Aku....."